Kayanya gw masuk kategori ini deh. Mau dibilang apa keq, tapi..gw kabuur (weekend lalu ke Jakarta)
Baru2 ini gw iseng2 ikut salah satu olahraga favorit di Singapura: dragon boat. Awalnya pingin tau dan niatnya cuma look see look see. Toh tahun ini gw cut semua aerobik ga jelas, makanya ga ikut2 event lari, sepeda, dll lagi. Fokus of this year = strength! Dan taon depan baru target Aviva Ironman (triathlon) lalala...
So gw dateng lah pas ada dragon boat team yang lagi rekrutmen. Pas nyoba dayung, ternyata oh ternyata main drive datang dari rotasi badan (sebelumnya gw pikir dari lengan). Wah ini ok, toh yoga kan sering banget tuh puter2 badan. Pelatihnya aja bilang rotasi badan gw bagus buat beginner.
Tapii.... dipake dayung terus2-an wah am-siong juga. Apalagi cuma satu belah badan yang dipake (duduk di sebelah kiri atau kanan). Hari Senen, pantat dan punggung sakit sebelah, pantat sampe lecet. Terus di atas perahu mana jorok banget lagi (menurut standar gw), ada cipratan air sungai, keringet, bau matahari, walah campur aduk semua. Mana duduknya rada deket2 lagi.
Belum lagi ada land training, lari2 ga jelas, push up2 ga jelas, sit up2 ga jelas, chin up2 ga jelas (ini gw ga bisa sama sekali... weak arms), pokoknya semua ga jelas deh.
Sekedar informasi, Singapur adalah negara wajib militer. So semua cowo2-nya ngomongnya selalu militer dan standar olahraganya pun ...hiks.. militer. Lari harus secepat ini lah, sit up harus segini lah, chin up harus segitu lah.
Hari Senen gw sampe ketiduran di depan komputer sampai ngiler menggenang di depan komputer! Totally exhausted.
Dan kemudian datanglah hujan komitmen. Ada land training di hari Rabu, dan mau latihan tambahan di hari Sabtu buat mempersiapkan diri buat kompetisi mendatang.
Jadinya jadwal aktivitas harian gw:
Senin - kelas sepeda
Selasa - bodypump (cuma gw mau rotasi ke renang ah...gila aja badan sakit semua)
Rabu - land training (agenda baru, sebelumnya break)
Kamis - body pump
Jumat - break
Sabtu - body pump (kemungkinan diganti water training)
Minggu - water + land training
Ya mati-lah gw. Sumpah setelah gw ikutan ini acara, tiap hari badan bukan lagi ketabrak bajaj, tapi udah kaya ketiban pesawat. Rasanya jadwal di atas harus disesuaikan lagi.
Temen kantor gw bilang: "Lu ga cocok sama olahraga itu.., lu bukan orang yang suka berada di dalam tim".
Which is correct. Gw aja ini udah hwarakadah... gila aja komitmen berdatangan kaya banjir bandang.
Terus mana umur udah begini (taon depan udah kepala 3), maen-nya masih kaya ospek.
Tapi lagi...ya namanya gw banyak maunya. I think selama gw masih di-welcome sama tim ini, gw bakal mencoba untuk berkomitmen. Hitung2 nambah temen. Dan memang gw ga sebagus orang2 Singapur yang ikutan army dan sporty (ya gw lah geek dan nerdy), but it just means that I have something to improve in the future. Dan gw yang sekarang dibanding 10 taon dulu ketika muda... I think I have improved a lot also.
Dan gw sekarang diajak untuk ikutan Singapore Dragon boat Festival end of June. Seriously? Gw masih belum ngasih keputusan, tapiii......... latihan tambah satu hari lagi: hari Sabtu. Mateeek....(udah gw bilang komitmen kaya banjir bandang).
Tapi weekend ini gw ijin mau liburan sih (kabur lagi...).
Wednesday, April 25, 2012
Tuesday, April 10, 2012
Kesan Pertama Begitu...
Menyesatkan....
Ceritanya long weekend kemaren gw habiskan di Singapur. Well awalnya karena ada undangan ulang tahun anaknya rekan kantor, berhubung ultah si emak sama anak deketan, dirayain-nya bareng2...jadi yah harus datang.
Jadilah gw isi dengan acara2 nan tidak berarti.
Salah satunya adalah menghadiri acara kopi jomblo. Secara gw jomblo ya gw memenuhi kriteria dong.
Well yang hadir betul2 orang yang ga pernah gw kenal sebelumnya, pertama kali ketemu, dan sayangnya ga ada satupun yang masuk tipe gw. Aaww...
Karena acaranya setelah acara ultah, jadi gw harus "juggle" dandanan. Ga boleh terlalu seksi jomblo (karena ada ultah) dan ga boleh terlalu formal (karena habis ultah langsung ke kopi).
Setelah > 15 menit matching baju akhirnya gw memutuskan pake kaos Iron Man Uniql*, jeans belel sobek di kaki, dan sepatu casual Rockp*rt. Biar ada kesan kekanak2-an + formal. Dan lagi gw adalah fans berat Iron Man, jauh sebelum film layar lebar-nya keluar.
Begitu ke pesta ultah.."Wow you look so young!" Good....
Dan kemudian di kopi kita maen "Identity", menjawab pertanyaan2 bodoh.
Gw dapetnya "If I were a transport, what would I be...."
Dan jawaban dari para hadirin adalah:
"BMW"
"Train"
"Trem"
"Bus"
"Tourist Bus"
Koq begini yak?....Hmm introspeksi diri.
Kebanyakan jawabannya adalah transportasi besar2 apakah berarti gw harus diet...Hmm yang ini memang harus.
Yang kedua, kenapa semuanya transportasi "baik2"?
Kalo ditanya jujur maka jawaban gw adalah: motorcycle. Oooh how I love riding motorcycle without helmet! It's so good that it get banned!
Ini yang membuat gw agak kesal.. kenapa kesan pertama orang kepada gw selalu baik2.
Pertama kali masuk kantor sini juga. Semua orang di kantor mengira gw orang baik2, sampai mereka melihat FB gw dan baru ngomong kalo ga nyangka gw separno itu.
Well...at least gw jujur dan ga munafik. Gw memang parno dan "dirty minded".
Dan pada akhirnya gw menjawab: "Train"... to please the crowd. What a blatant lie...
Ceritanya long weekend kemaren gw habiskan di Singapur. Well awalnya karena ada undangan ulang tahun anaknya rekan kantor, berhubung ultah si emak sama anak deketan, dirayain-nya bareng2...jadi yah harus datang.
Jadilah gw isi dengan acara2 nan tidak berarti.
Salah satunya adalah menghadiri acara kopi jomblo. Secara gw jomblo ya gw memenuhi kriteria dong.
Well yang hadir betul2 orang yang ga pernah gw kenal sebelumnya, pertama kali ketemu, dan sayangnya ga ada satupun yang masuk tipe gw. Aaww...
Karena acaranya setelah acara ultah, jadi gw harus "juggle" dandanan. Ga boleh terlalu seksi jomblo (karena ada ultah) dan ga boleh terlalu formal (karena habis ultah langsung ke kopi).
Setelah > 15 menit matching baju akhirnya gw memutuskan pake kaos Iron Man Uniql*, jeans belel sobek di kaki, dan sepatu casual Rockp*rt. Biar ada kesan kekanak2-an + formal. Dan lagi gw adalah fans berat Iron Man, jauh sebelum film layar lebar-nya keluar.
Begitu ke pesta ultah.."Wow you look so young!" Good....
Dan kemudian di kopi kita maen "Identity", menjawab pertanyaan2 bodoh.
Gw dapetnya "If I were a transport, what would I be...."
Dan jawaban dari para hadirin adalah:
"BMW"
"Train"
"Trem"
"Bus"
"Tourist Bus"
Koq begini yak?....Hmm introspeksi diri.
Kebanyakan jawabannya adalah transportasi besar2 apakah berarti gw harus diet...Hmm yang ini memang harus.
Yang kedua, kenapa semuanya transportasi "baik2"?
Kalo ditanya jujur maka jawaban gw adalah: motorcycle. Oooh how I love riding motorcycle without helmet! It's so good that it get banned!
Ini yang membuat gw agak kesal.. kenapa kesan pertama orang kepada gw selalu baik2.
Pertama kali masuk kantor sini juga. Semua orang di kantor mengira gw orang baik2, sampai mereka melihat FB gw dan baru ngomong kalo ga nyangka gw separno itu.
Well...at least gw jujur dan ga munafik. Gw memang parno dan "dirty minded".
Dan pada akhirnya gw menjawab: "Train"... to please the crowd. What a blatant lie...
Monday, April 02, 2012
Pelajaran (lagi)
Salah satu cita2 dari dulu adalah menjadi CEO + keren. Apakah bisa jadi CEO dan tetap berpenampilan keren, tidak buncit, kerempeng ataupun botak.
CEO mantan perusahaan dulu kurus, perusahaan sekarang juga (sst..jangan bilang2). Gambarannya begitu sibuknya sehingga makan siang pun hanya bisa sandwich. Sibuk apa? Juga ga tau.. pokoknya sibuk deh.
Ketika melihat portal berita gosip Singapore: Stomp, mata gw tertuju pada rubrik Court Room. Biasanya ceritanya tentang si X tidur dengan si Y, dimana si Y umurnya masih remaja gitu looh. Tapi kali ini mata gw menuju ke kasus yang cukup menarik: mantan founder gay portal Fridae ditangkap karena ditemukan 0.01 g shabu di rumahnya (walaupun akhirnya dilepas dari Court juga, 0.01g segede apa sih).
Ya akhir2 ini semua orang pakai shabu, mulai dari supir Xenia, pilot pesawat maupun pegawai negeri yang katanya "stress" dengan pekerjaannya (kerja apa sih pegawai negeri kita).
Kemudian gw tertarik (sebagai pengamat dunia pergosipan IT): Fridae.asia (sekarang) memang tidak besar di Indonesia, tapi site ini cukup hebring di kalangan gay "mata sipit", mulai dari Singapur, Malaysia, China, Hongkong, hingga Taiwan.
Orang Indo... lebih memilih portal lain.
Seperti apa sih mantan founder-nya dan CEO-nya? Awalnya gw pikir tampang geek gitu. Tapi setelah menemukan nama dan men-google termasuk menemukan LinkedIn dan Facebook-nya. Holy Sh*t! So hot! Gw bakal jual jiwa ke iblis kalau bisa dapet bentuk badan seperti dia!
Udah hot seperti itu....mantan lulusan RI (ini nama sekolahan di Singapura, top cer banget..banget...) pula!
Gw terkagum2 sampai meler. Komplit kerennya.
Ok inti-nya...Gw berkata ke diri gw: Hit the gym, and hit the pool! Kita serius dari sekarang. It should be both brain and brawn! Sebenarnya triple: brain, beauty and brawn (huhuhu operasi plastik).
Tapi kemudian pertanyaan yang menggelitik. Apa yang membuat Fridae sukses?
Yang menganggu di pikiran gw adalah: Apakah mungkin masalah bisnis lebih penting daripada masalah teknik dalam mensukseskan suatu web (karena orang ini jelas2 bukan pakar IT)? Ok-lah mungkin bukan "lebih penting", tapi sebagai lulusan IT (jelek2 begini lulus juga), sepertinya kita2 lebih mementingkan aspek teknis daripada aspek bisnis. Kesannya adalah kalau kita bisa membuat web dengan teknologi a, b, c dan d, pasti sukses.
Ambilah contoh Facebook. Dia bisa bertumbuh besar karena dapet investasi $500,000 sebagai investasi pertamanya. Well mencari investasi adalah kerja bisnis, bukan IT.
Di Indo bukan tidak ada portal gay (untuk membandingkan dalam bidang yang sama). Dulu sempat ada dan cukup populer. Tapi akhirnya jatuh juga.
Why? Simple...no monetization. Dan sebenarnya market gay Indonesia...well kecil. Jumlah orang mungkin banyak, tapi kurang duit dan melek teknologi (jaman itu masih pada warnet-an dan IRC).
Fridae? Cukup cerdas. Diluncurkan dari Singapur yang cuma segede imprit. Berapa sih jumlah masyarakat gay-nya. Tapi kemudian dengan mudahnya masuk ke pasar China, Hongkong, dan Taiwan. Wah sudahlah habis cerita kalau mendapat pasar ini, kalangan menengah dikali jumlah yang segambreng. Itu duit semua. Pink dollar, walaupun tetep ijo.
Ditambah lagi Korea + Thailand karena sekarang bawa bendera "Asia". Dan karena marketnya diverse, satu mati masih ada tempat lain.
Di sini lagi2 gw berpikir. Ini adalah benefit dari Singapura. Lu mau orientasi ke Malaysia, Indonesia bisa, lu mau orientasi ke China bisa. Malay, India, Chinese, Filipino, it's a perfect melting pot. Kiri kanan depan (main) belakang semuanya gampang. Wow. Mereka dari muda sudah di-didik untuk berorientasi keluar. Wow wow dan wow.
Jadi kemudian gw bertanya lagi. Apakah market Indonesia hanya market Indonesia? Begitu terisolirnya kah kita?
Dan sepertinya iya. Rasa2-nya tidak ada satupun media online kita yang bisa masuk ke pasar asing. Semuanya jago kandang.
Media bukan online? Errr... entahlah.
Tapi gw di China nonton Channel News Asia....buatan mana hayo?
Padahal Ciputra punya proyek di Vietnam, Lippo Land bikin condo di Singapur.
Tapi web? Kenapa tidak ada yang bermimpi demikian?
Padahal tidak jarang orang Indo masuk ke dalam media2 asing. Contoh saja entrepreneur Indonesia di Kiva.
Dan setelah membrowsing2 Fridae gw melihat cerita yang cukup menarik. Ada orang Indo juga yang masuk di-feature-nya. Masih muda, dan HIV positif. Well ceritanya cukup heart warming, dari sisi optimisme-nya dia menjalani hidup (I wish I had that kind of optimism).
Cukup sayang, karena cerita-cerita seperti ini seharusnya bisa juga diceritakan di media yang dikonsumsi di tanah air. Well too bad.
Why oh why?
Kenapa jago kandang? Karena semua pakai bahasa Indo? Karena orang2 Indo pada ga bisa bahasa Inggris?
Tapi contoh Agoda.com...basis di Thailand. Bahasa nasional Thailand juga bukan bahasa Inggris. Tapi koq Thailand bisa gitu?
Umumnya perusahaan IT asing di Indonesia (contoh: StreetDirectory) adalah sebagai offshore development. SDM lebih murah. Tapi tetap bukan home-grown business.
Atau karena market Indonesia sudah self sufficient? Orang Indo sendiri sudah cukup, tidak perlu melibatkan orang dari negara lain? Hmm gw perlu riset lagi.
Mungkin kita kurang pintar berbisnis?
Benar juga kata nyokap: "Lu harus tinggal di Singapur untuk bisa melihat betapa tertinggalnya Indonesia."
Dan untuk sekarang: hit the gym..hit the gym....oh my...
CEO mantan perusahaan dulu kurus, perusahaan sekarang juga (sst..jangan bilang2). Gambarannya begitu sibuknya sehingga makan siang pun hanya bisa sandwich. Sibuk apa? Juga ga tau.. pokoknya sibuk deh.
Ketika melihat portal berita gosip Singapore: Stomp, mata gw tertuju pada rubrik Court Room. Biasanya ceritanya tentang si X tidur dengan si Y, dimana si Y umurnya masih remaja gitu looh. Tapi kali ini mata gw menuju ke kasus yang cukup menarik: mantan founder gay portal Fridae ditangkap karena ditemukan 0.01 g shabu di rumahnya (walaupun akhirnya dilepas dari Court juga, 0.01g segede apa sih).
Ya akhir2 ini semua orang pakai shabu, mulai dari supir Xenia, pilot pesawat maupun pegawai negeri yang katanya "stress" dengan pekerjaannya (kerja apa sih pegawai negeri kita).
Kemudian gw tertarik (sebagai pengamat dunia pergosipan IT): Fridae.asia (sekarang) memang tidak besar di Indonesia, tapi site ini cukup hebring di kalangan gay "mata sipit", mulai dari Singapur, Malaysia, China, Hongkong, hingga Taiwan.
Orang Indo... lebih memilih portal lain.
Seperti apa sih mantan founder-nya dan CEO-nya? Awalnya gw pikir tampang geek gitu. Tapi setelah menemukan nama dan men-google termasuk menemukan LinkedIn dan Facebook-nya. Holy Sh*t! So hot! Gw bakal jual jiwa ke iblis kalau bisa dapet bentuk badan seperti dia!
Udah hot seperti itu....mantan lulusan RI (ini nama sekolahan di Singapura, top cer banget..banget...) pula!
Gw terkagum2 sampai meler. Komplit kerennya.
Ok inti-nya...Gw berkata ke diri gw: Hit the gym, and hit the pool! Kita serius dari sekarang. It should be both brain and brawn! Sebenarnya triple: brain, beauty and brawn (huhuhu operasi plastik).
Tapi kemudian pertanyaan yang menggelitik. Apa yang membuat Fridae sukses?
Yang menganggu di pikiran gw adalah: Apakah mungkin masalah bisnis lebih penting daripada masalah teknik dalam mensukseskan suatu web (karena orang ini jelas2 bukan pakar IT)? Ok-lah mungkin bukan "lebih penting", tapi sebagai lulusan IT (jelek2 begini lulus juga), sepertinya kita2 lebih mementingkan aspek teknis daripada aspek bisnis. Kesannya adalah kalau kita bisa membuat web dengan teknologi a, b, c dan d, pasti sukses.
Ambilah contoh Facebook. Dia bisa bertumbuh besar karena dapet investasi $500,000 sebagai investasi pertamanya. Well mencari investasi adalah kerja bisnis, bukan IT.
Di Indo bukan tidak ada portal gay (untuk membandingkan dalam bidang yang sama). Dulu sempat ada dan cukup populer. Tapi akhirnya jatuh juga.
Why? Simple...no monetization. Dan sebenarnya market gay Indonesia...well kecil. Jumlah orang mungkin banyak, tapi kurang duit dan melek teknologi (jaman itu masih pada warnet-an dan IRC).
Fridae? Cukup cerdas. Diluncurkan dari Singapur yang cuma segede imprit. Berapa sih jumlah masyarakat gay-nya. Tapi kemudian dengan mudahnya masuk ke pasar China, Hongkong, dan Taiwan. Wah sudahlah habis cerita kalau mendapat pasar ini, kalangan menengah dikali jumlah yang segambreng. Itu duit semua. Pink dollar, walaupun tetep ijo.
Ditambah lagi Korea + Thailand karena sekarang bawa bendera "Asia". Dan karena marketnya diverse, satu mati masih ada tempat lain.
Di sini lagi2 gw berpikir. Ini adalah benefit dari Singapura. Lu mau orientasi ke Malaysia, Indonesia bisa, lu mau orientasi ke China bisa. Malay, India, Chinese, Filipino, it's a perfect melting pot. Kiri kanan depan (main) belakang semuanya gampang. Wow. Mereka dari muda sudah di-didik untuk berorientasi keluar. Wow wow dan wow.
Jadi kemudian gw bertanya lagi. Apakah market Indonesia hanya market Indonesia? Begitu terisolirnya kah kita?
Dan sepertinya iya. Rasa2-nya tidak ada satupun media online kita yang bisa masuk ke pasar asing. Semuanya jago kandang.
Media bukan online? Errr... entahlah.
Tapi gw di China nonton Channel News Asia....buatan mana hayo?
Padahal Ciputra punya proyek di Vietnam, Lippo Land bikin condo di Singapur.
Tapi web? Kenapa tidak ada yang bermimpi demikian?
Padahal tidak jarang orang Indo masuk ke dalam media2 asing. Contoh saja entrepreneur Indonesia di Kiva.
Dan setelah membrowsing2 Fridae gw melihat cerita yang cukup menarik. Ada orang Indo juga yang masuk di-feature-nya. Masih muda, dan HIV positif. Well ceritanya cukup heart warming, dari sisi optimisme-nya dia menjalani hidup (I wish I had that kind of optimism).
Cukup sayang, karena cerita-cerita seperti ini seharusnya bisa juga diceritakan di media yang dikonsumsi di tanah air. Well too bad.
Why oh why?
Kenapa jago kandang? Karena semua pakai bahasa Indo? Karena orang2 Indo pada ga bisa bahasa Inggris?
Tapi contoh Agoda.com...basis di Thailand. Bahasa nasional Thailand juga bukan bahasa Inggris. Tapi koq Thailand bisa gitu?
Umumnya perusahaan IT asing di Indonesia (contoh: StreetDirectory) adalah sebagai offshore development. SDM lebih murah. Tapi tetap bukan home-grown business.
Atau karena market Indonesia sudah self sufficient? Orang Indo sendiri sudah cukup, tidak perlu melibatkan orang dari negara lain? Hmm gw perlu riset lagi.
Mungkin kita kurang pintar berbisnis?
Benar juga kata nyokap: "Lu harus tinggal di Singapur untuk bisa melihat betapa tertinggalnya Indonesia."
Dan untuk sekarang: hit the gym..hit the gym....oh my...
Monday, March 26, 2012
我是一只小小鸟
Great song! Lagu mayan lama, identik dengan lagu oom2 dan tante2, di-daur ulang berkali2.... tapi tetap great song and lyric.
Kemaren pas karaoke (jaman sekarang karaoke harus multi-bahasa >.<) ada temen yang nyanyiin versi Ding Dang (丁当) O.O. Keren abis! Gw jadi kepingin meniti karir karaoke untuk nyanyi lagu ini (versi cowo tentunya).
Lyric and translation from here:
You Shi Hou Wo Jue De Zi Ji Xiang Yi Zhi Xiao Xiao Niao
Xiang Yao Fei, Que Zen Me Yang Ye Fei Bu Gao
Ye Xu You Yi Tian Wo Qi Shang Le Zhi Tou
Que Cheng Wei Lie Ren De Mu Biao
Wo Fei Shang Le Qing Tian Cai Fa Xian Zi Ji Cong Ci Wu Yi Wu Kao
Mei Ci Dao Le Ye Shen Ren Jing De Shi Hou Wo Zong Shi Shui Bu Zhao
Wo Huai Yi Shi Bu Shi Zhi You Wo De Ming Tian Mei You Bian De Geng Hao
Wei Lai Hui Zen Yang Jiu Jing You Shui Hui Zhi Dao
Xing Fu Shi Fou Zhi Shi Yi Zhong Chuan Shuo Wo Yong Yuan Dou Zhao Bu Dao
Wo Shi Yi Zhi Xiao Xiao Xiao Xiao Niao
Xiang Yao Fei Ya Fei, Que Fei Ye Fei Bu Gao
Wo Xun Xun Mi Mi, Xun Xun Mi Mi Yi Ge Wen Nuan De Huai Bao
Zhe Yang De Yao Qiu Suan Bu Suan Tai Gao
Wo Shi Yi Zhi Xiao Xiao Xiao Xiao Niao
Xiang Yao Fei Ya Fei, Que Fei Ye Fei Bu Gao
Wo Xun Xun Mi Mi, Xun Xun Mi Mi Yi Ge Wen Nuan De Huai Bao
Zhe Yang De Yao Qiu Suan Bu Suan Tai Gao
Suo You Zhi Dao Wo De Ming Zi De Ren A Ni Men Hao Bu Hao
Shi Jie Shi Ru Ci De Xiao Wo Men Zhu Ding Wu Chu Ke Tao
Dang Wo Chang Jin Ren Qing Leng Nuan
Dang Ni Jue Ding Wei Le Ni De Li Xiang Ran Shao
Sheng Huo De Ya Li Yu Sheng Ming De Zun Yan Na Yi Ge Zhong Yao
Wo Shi Yi Zhi Xiao Xiao Xiao Xiao Niao
Xiang Yao Fei Ya Fei, Que Fei Ye Fei Bu Gao
Wo Xun Xun Mi Mi, Xun Xun Mi Mi Yi Ge Wen Nuan De Huai Bao
Zhe Yang De Yao Qiu Suan Bu Suan Tai Gao
Wo Shi Yi Zhi Xiao Xiao Xiao Xiao Niao
Xiang Yao Fei Ya Fei, Que Fei Ye Fei Bu Gao
Wo Xun Xun Mi Mi, Xun Xun Mi Mi Yi Ge Wen Nuan De Huai Bao
Zhe Yang De Yao Qiu Suan Bu Suan Tai Gao
Zhe Yang De Yao Qiu Suan Bu Suan Tai Gao
Wo Shi Yi Zhi Xiao Xiao Xiao Xiao Niao
Xiang Yao Fei Ya Fei, Que Fei Ye Fei Bu Gao
-----------------------------------------------------------------------------
There are times that I want to be a little bird
I want to fly but how? Can't fly high enough
Perhaps one day I'll reach the branches on top
But become the target of hunters
I flew up to the clear blue sky to discover myself from now on I won't need anyone else
Each time in the middle of night I realized I can't sleep
I doubt this is the only time my tomorrow won't be better
What will the future hold? After all who can know?
Is happiness just a fairy tale? I searched for so long and never found it
I am a tiny little bird
Wanted to fly so I flew but didn't fly high enough
I search endlessly for that warm embrace
Is this goal considered too high?
I am a tiny little bird
Wanted to fly so I flew but didn't fly high enough
I search endlessly for that warm embrace
Is this goal considered too high?
I know there are others like me. How are you doing?
The world the way it is, is small we have no place to hide
Perhaps I had enough of people's fickle nature
Perhaps you've decided to hold on to your ideals
Life's pressure give life it's dignity, each one is important
I am a tiny little bird
Wanted to fly so I flew but didn't fly high enough
I search endlessly for that warm embrace
Is this goal considered too high?
I am a tiny little bird
Wanted to fly so I flew but didn't fly high enough
I search endlessly for that warm embrace
Is this goal considered too high?
Is this goal considered too high?
I am a tiny little bird
Wanted to fly so I flew but didn't fly high enough
Kemaren pas karaoke (jaman sekarang karaoke harus multi-bahasa >.<) ada temen yang nyanyiin versi Ding Dang (丁当) O.O. Keren abis! Gw jadi kepingin meniti karir karaoke untuk nyanyi lagu ini (versi cowo tentunya).
Lyric and translation from here:
You Shi Hou Wo Jue De Zi Ji Xiang Yi Zhi Xiao Xiao Niao
Xiang Yao Fei, Que Zen Me Yang Ye Fei Bu Gao
Ye Xu You Yi Tian Wo Qi Shang Le Zhi Tou
Que Cheng Wei Lie Ren De Mu Biao
Wo Fei Shang Le Qing Tian Cai Fa Xian Zi Ji Cong Ci Wu Yi Wu Kao
Mei Ci Dao Le Ye Shen Ren Jing De Shi Hou Wo Zong Shi Shui Bu Zhao
Wo Huai Yi Shi Bu Shi Zhi You Wo De Ming Tian Mei You Bian De Geng Hao
Wei Lai Hui Zen Yang Jiu Jing You Shui Hui Zhi Dao
Xing Fu Shi Fou Zhi Shi Yi Zhong Chuan Shuo Wo Yong Yuan Dou Zhao Bu Dao
Wo Shi Yi Zhi Xiao Xiao Xiao Xiao Niao
Xiang Yao Fei Ya Fei, Que Fei Ye Fei Bu Gao
Wo Xun Xun Mi Mi, Xun Xun Mi Mi Yi Ge Wen Nuan De Huai Bao
Zhe Yang De Yao Qiu Suan Bu Suan Tai Gao
Wo Shi Yi Zhi Xiao Xiao Xiao Xiao Niao
Xiang Yao Fei Ya Fei, Que Fei Ye Fei Bu Gao
Wo Xun Xun Mi Mi, Xun Xun Mi Mi Yi Ge Wen Nuan De Huai Bao
Zhe Yang De Yao Qiu Suan Bu Suan Tai Gao
Suo You Zhi Dao Wo De Ming Zi De Ren A Ni Men Hao Bu Hao
Shi Jie Shi Ru Ci De Xiao Wo Men Zhu Ding Wu Chu Ke Tao
Dang Wo Chang Jin Ren Qing Leng Nuan
Dang Ni Jue Ding Wei Le Ni De Li Xiang Ran Shao
Sheng Huo De Ya Li Yu Sheng Ming De Zun Yan Na Yi Ge Zhong Yao
Wo Shi Yi Zhi Xiao Xiao Xiao Xiao Niao
Xiang Yao Fei Ya Fei, Que Fei Ye Fei Bu Gao
Wo Xun Xun Mi Mi, Xun Xun Mi Mi Yi Ge Wen Nuan De Huai Bao
Zhe Yang De Yao Qiu Suan Bu Suan Tai Gao
Wo Shi Yi Zhi Xiao Xiao Xiao Xiao Niao
Xiang Yao Fei Ya Fei, Que Fei Ye Fei Bu Gao
Wo Xun Xun Mi Mi, Xun Xun Mi Mi Yi Ge Wen Nuan De Huai Bao
Zhe Yang De Yao Qiu Suan Bu Suan Tai Gao
Zhe Yang De Yao Qiu Suan Bu Suan Tai Gao
Wo Shi Yi Zhi Xiao Xiao Xiao Xiao Niao
Xiang Yao Fei Ya Fei, Que Fei Ye Fei Bu Gao
-----------------------------------------------------------------------------
There are times that I want to be a little bird
I want to fly but how? Can't fly high enough
Perhaps one day I'll reach the branches on top
But become the target of hunters
I flew up to the clear blue sky to discover myself from now on I won't need anyone else
Each time in the middle of night I realized I can't sleep
I doubt this is the only time my tomorrow won't be better
What will the future hold? After all who can know?
Is happiness just a fairy tale? I searched for so long and never found it
I am a tiny little bird
Wanted to fly so I flew but didn't fly high enough
I search endlessly for that warm embrace
Is this goal considered too high?
I am a tiny little bird
Wanted to fly so I flew but didn't fly high enough
I search endlessly for that warm embrace
Is this goal considered too high?
I know there are others like me. How are you doing?
The world the way it is, is small we have no place to hide
Perhaps I had enough of people's fickle nature
Perhaps you've decided to hold on to your ideals
Life's pressure give life it's dignity, each one is important
I am a tiny little bird
Wanted to fly so I flew but didn't fly high enough
I search endlessly for that warm embrace
Is this goal considered too high?
I am a tiny little bird
Wanted to fly so I flew but didn't fly high enough
I search endlessly for that warm embrace
Is this goal considered too high?
Is this goal considered too high?
I am a tiny little bird
Wanted to fly so I flew but didn't fly high enough
Monday, March 19, 2012
Pembantu Cina Indonesia
Alkisah gw dan teman cewe semasa SMU habis selesai nonton bareng di Vivo City. Ceritanya dia mau nyari hadiah untuk ex-bos nya dan patungan dengan teman lainnya, jadi nyari barang yang cukup branded.
Setelah kita keliling2 Vivo City, ternyata brand-nya ga ada di Vivo, harus ke Orchard, secara disanalah surga segala barang2 ber-merk. Maka berangkatlah kita ke Orchard, naik MRT ceritanya.
Di kereta dia duduk di priority seat (kursi untuk orang tua, hamil, etc), secara dari Vivo kereta masih kosong. Satu stasiun kemudian masuklah tante yang cukup berumur. Kontan gw kasih kode ke temen gw supaya ngasih tempat duduknya ke tante ini, ya begitulah yang namanya tata krama.
Tapi lalu tante ini bilang "Ga usah..ga usah". Ya sudah toh...yang penting sudah ditawarin.
Lalu tante ini nanya: "Singaporean bukan?"
Ya kita jawab: "Bukan, Indonesian..." (bangga dong dengan tanah air beta...)
Lalu berlanjut:
"Di sini udah berapa lama?"
"Tiga tahun plus2 ..."
"Tinggal di mana?"
"XX YY (rahasia, tapi waktu itu disebutin)"
"Sekolah atau kerja?"
"Kerja"
Dan lalu..... tiba2 dia nyeletuk: "Jaman sekarang susah ya cari pembantu Cina Indonesia (Indonesian Chinese Maid)..., tidak seperti jaman dulu, dll, dst..."
Kontan kita langsung tersentak donk! Apa:
FYI, ketika weekend di Orchard menjadi tempat berkumpulnya para pembantu. Umumnya Filipino dan Indonesian. Ada beberapa spot tertentu di Orchard yang menjadi ajang bertemu dan melakukan segala aktivitas bersama, mulai dari nyisir rambut bareng, pake kutek bareng, sampe kirim duit ke tanah air.
Selepas turun kereta jelas kita bahas dong. Aduh walaupun kita mencoba untuk berpikir positif tapi opsi no. 2 tidak bisa lepas dari pikiran. Kenapa begitu? Jelas karena pertanyaannya pakai embel2 "Chinese". Andai dia nanya model: "Sekarang susah yah cari pembantu Indonesia?". Mungkin kita bisa jawab..ooh karena sekarang semua pada maunya kerja ke Hongkong atau Taiwan, gajinya lebih besar.
Tapi ini spesifik pakai kata "Chinese"...jleb.
Kalau gw sih ok2 aja.... penampilan boleh pembantu, tapi gaji jangan pembantu. Lha si temen cewe ini kebalikan, dia lebih milih gaji boleh pembantu tapi penampilan jangan. Pusing deh.
Gw cerita ini ke teman kantor gw. Dia nanya: "Lu dandan kaya pembantu kaga?" Sayangnya iya T.T.
Tapi bagi gw masalah penampilan juga seharusnya ga masalah banget donk. Namanya juga weekend, plus pada awalnya agenda cuma nonton dan palingan lunch. Vivo deket rumah pula. Jelas gw dandan agak slebor. Secara ini aja merk-nya ga ketemu, eeh malah ketemu ini Tante.
Kenapa nama Indonesia selalu identik dengan pembantu? Haaa sudahlah jangan ditanya.
Setelah kita keliling2 Vivo City, ternyata brand-nya ga ada di Vivo, harus ke Orchard, secara disanalah surga segala barang2 ber-merk. Maka berangkatlah kita ke Orchard, naik MRT ceritanya.
Di kereta dia duduk di priority seat (kursi untuk orang tua, hamil, etc), secara dari Vivo kereta masih kosong. Satu stasiun kemudian masuklah tante yang cukup berumur. Kontan gw kasih kode ke temen gw supaya ngasih tempat duduknya ke tante ini, ya begitulah yang namanya tata krama.
Tapi lalu tante ini bilang "Ga usah..ga usah". Ya sudah toh...yang penting sudah ditawarin.
Lalu tante ini nanya: "Singaporean bukan?"
Ya kita jawab: "Bukan, Indonesian..." (bangga dong dengan tanah air beta...)
Lalu berlanjut:
"Di sini udah berapa lama?"
"Tiga tahun plus2 ..."
"Tinggal di mana?"
"XX YY (rahasia, tapi waktu itu disebutin)"
"Sekolah atau kerja?"
"Kerja"
Dan lalu..... tiba2 dia nyeletuk: "Jaman sekarang susah ya cari pembantu Cina Indonesia (Indonesian Chinese Maid)..., tidak seperti jaman dulu, dll, dst..."
Kontan kita langsung tersentak donk! Apa:
- Si Tante memang mau curhat tentang masalah pembantu
- Kita dikira pembantu
FYI, ketika weekend di Orchard menjadi tempat berkumpulnya para pembantu. Umumnya Filipino dan Indonesian. Ada beberapa spot tertentu di Orchard yang menjadi ajang bertemu dan melakukan segala aktivitas bersama, mulai dari nyisir rambut bareng, pake kutek bareng, sampe kirim duit ke tanah air.
Selepas turun kereta jelas kita bahas dong. Aduh walaupun kita mencoba untuk berpikir positif tapi opsi no. 2 tidak bisa lepas dari pikiran. Kenapa begitu? Jelas karena pertanyaannya pakai embel2 "Chinese". Andai dia nanya model: "Sekarang susah yah cari pembantu Indonesia?". Mungkin kita bisa jawab..ooh karena sekarang semua pada maunya kerja ke Hongkong atau Taiwan, gajinya lebih besar.
Tapi ini spesifik pakai kata "Chinese"...jleb.
Kalau gw sih ok2 aja.... penampilan boleh pembantu, tapi gaji jangan pembantu. Lha si temen cewe ini kebalikan, dia lebih milih gaji boleh pembantu tapi penampilan jangan. Pusing deh.
Gw cerita ini ke teman kantor gw. Dia nanya: "Lu dandan kaya pembantu kaga?" Sayangnya iya T.T.
Tapi bagi gw masalah penampilan juga seharusnya ga masalah banget donk. Namanya juga weekend, plus pada awalnya agenda cuma nonton dan palingan lunch. Vivo deket rumah pula. Jelas gw dandan agak slebor. Secara ini aja merk-nya ga ketemu, eeh malah ketemu ini Tante.
Kenapa nama Indonesia selalu identik dengan pembantu? Haaa sudahlah jangan ditanya.
Tuesday, March 06, 2012
Living is... difficult
Weekend kemaren gw benar2 sampah. Kembali mengulangi kesalahan fatal yang dulu pernah dilakukan.
Awalnya mengira bahwa sekarang lebih kuat, karena lebih dewasa, dll. Tanpa disadari bahwa dengan kondisi sekarang akibatnya malah lebih buruk.
Untung diri ini seperti ada dua personaliti yang berbeda. Sempat terlarut dalam suasana, tapi begitu pergi ke kamar mandi, melewati cermin dan bercermin. Diri yang lain bertanya "apa orang ini yang gw inginkan?"
Dan gw sadar bahwa gw tidak ingin menjadi orang di dalam cermin. Dan akhirnya pulang. Seperti orang gila memang.
Dan hari ini tiba2 gw depresi hingga mau muntah2. Expected, tapi yah begitulah....
Sebenarnya gw tahu bahwa gw tidak terlalu normal. Jauh di dalam gw benar2 sampah dan bisa bertingkah laku selayaknya sampah. Toh cita2 gw mau mati muda ini.
Hanya saja kelebihan gw adalah bisa berakting ceria, kuat, bisa menghadapi masalah, dll... Jadi di permukaan, nope.. tidak ada orang yang tahu.
But inside... gw tahu benar2 lemah. Makanya sampai sekarang gw takut membuka diri. No one know what's the real me. Bahkan gw sendiri aja kadang kebingungan.
I think the truth is painful. Gw tau sampai sekarang gw selalu hidup sendirian, tapi sebenarnya di dalam gw menginginkan hubungan dengan orang lain. I always dream of coming home to someone..yah begitulah boleh mimpi.
Apakah gw bisa menemukan seseorang itu? Apakah gw bisa bahagia? Ataukah gw harus bekerja dalam rutinitas yang membosankan tiap hari, pulang ke rumah sendirian, lalu pergi ke luar ketika weekend bertemu dengan orang2 yang hanya intim di 'permukaan' hingga akhir hidup? Dan akhirnya jadi kakek2 yang duduk di depan tivi?
Entah bagaimana tiba2 perasaan ini langsung menghantam dan gw harus lari ke kamar mandi untuk muntah2. Gw selalu muntah2 ketika stress.
Tapi lagi2 diri yang lain datang menyelamatkan.
I know my life isn't perfect. Sesuatu yang buruk pasti akan terjadi, gw pasti akan jatuh dan merasa sakit. Anggaplah gw menemukan seseorang, apakah ada jaminan bahwa gw akan bahagia seterusnya? Tentu tidak, siapa tahu hubungan kita berdua tidak akur? Siapa tahu kita berpisah? Bagaimanapun kemungkinan itu selalu ada.
Bukan masalah realisasi mimpi, tapi bagaimana menyikapi realita.
Dan diri lain mengingatkan: bukankah kita pernah berjanji... kalau jatuh dan sakit, kita harus berdiri lagi, tersenyum, mencoba berjalan, dan akhirnya berlari kembali. Semua luka akan kering dan meninggalkan bekas. Tidak masalah, itu merupakan tanda agar kita menjadi lebih bijaksana. Mungkin setelah terluka kita tidak bisa berlari secepat sebelumnya... lagi2 tidak masalah... toh ini adalah hidup kita sendiri dan ini adalah yang terpenting dalam hidup.
Tidak seharusnya gw khawatir dengan A-B-C-D. Yang paling penting adalah apa yang gw inginkan dari dulu sampai sekarang... yaitu ketika bercermin gw melihat orang yang bisa gw banggakan. Ini adalah mimpi, tapi daripada mimpi dalam tidur, lebih baik membangun dalam kenyataan sedikit demi sedikit.
Gw tidak akan jatuh ke jurang yang sama lagi. Yakin tidak akan selamat jika mengulang untuk kedua kalinya di umur segini.
Gw mungkin gila, tidak bahagia, dll. Tapi gw punya mimpi. Walaupun ada hambatan ini itu, tapi jika gw tidak terus berjalan ke arah mimpi tsb.. bagaimana gw berharap bisa sampai?
Awalnya mengira bahwa sekarang lebih kuat, karena lebih dewasa, dll. Tanpa disadari bahwa dengan kondisi sekarang akibatnya malah lebih buruk.
Untung diri ini seperti ada dua personaliti yang berbeda. Sempat terlarut dalam suasana, tapi begitu pergi ke kamar mandi, melewati cermin dan bercermin. Diri yang lain bertanya "apa orang ini yang gw inginkan?"
Dan gw sadar bahwa gw tidak ingin menjadi orang di dalam cermin. Dan akhirnya pulang. Seperti orang gila memang.
Dan hari ini tiba2 gw depresi hingga mau muntah2. Expected, tapi yah begitulah....
Sebenarnya gw tahu bahwa gw tidak terlalu normal. Jauh di dalam gw benar2 sampah dan bisa bertingkah laku selayaknya sampah. Toh cita2 gw mau mati muda ini.
Hanya saja kelebihan gw adalah bisa berakting ceria, kuat, bisa menghadapi masalah, dll... Jadi di permukaan, nope.. tidak ada orang yang tahu.
But inside... gw tahu benar2 lemah. Makanya sampai sekarang gw takut membuka diri. No one know what's the real me. Bahkan gw sendiri aja kadang kebingungan.
I think the truth is painful. Gw tau sampai sekarang gw selalu hidup sendirian, tapi sebenarnya di dalam gw menginginkan hubungan dengan orang lain. I always dream of coming home to someone..yah begitulah boleh mimpi.
Apakah gw bisa menemukan seseorang itu? Apakah gw bisa bahagia? Ataukah gw harus bekerja dalam rutinitas yang membosankan tiap hari, pulang ke rumah sendirian, lalu pergi ke luar ketika weekend bertemu dengan orang2 yang hanya intim di 'permukaan' hingga akhir hidup? Dan akhirnya jadi kakek2 yang duduk di depan tivi?
Entah bagaimana tiba2 perasaan ini langsung menghantam dan gw harus lari ke kamar mandi untuk muntah2. Gw selalu muntah2 ketika stress.
Tapi lagi2 diri yang lain datang menyelamatkan.
I know my life isn't perfect. Sesuatu yang buruk pasti akan terjadi, gw pasti akan jatuh dan merasa sakit. Anggaplah gw menemukan seseorang, apakah ada jaminan bahwa gw akan bahagia seterusnya? Tentu tidak, siapa tahu hubungan kita berdua tidak akur? Siapa tahu kita berpisah? Bagaimanapun kemungkinan itu selalu ada.
Bukan masalah realisasi mimpi, tapi bagaimana menyikapi realita.
Dan diri lain mengingatkan: bukankah kita pernah berjanji... kalau jatuh dan sakit, kita harus berdiri lagi, tersenyum, mencoba berjalan, dan akhirnya berlari kembali. Semua luka akan kering dan meninggalkan bekas. Tidak masalah, itu merupakan tanda agar kita menjadi lebih bijaksana. Mungkin setelah terluka kita tidak bisa berlari secepat sebelumnya... lagi2 tidak masalah... toh ini adalah hidup kita sendiri dan ini adalah yang terpenting dalam hidup.
Tidak seharusnya gw khawatir dengan A-B-C-D. Yang paling penting adalah apa yang gw inginkan dari dulu sampai sekarang... yaitu ketika bercermin gw melihat orang yang bisa gw banggakan. Ini adalah mimpi, tapi daripada mimpi dalam tidur, lebih baik membangun dalam kenyataan sedikit demi sedikit.
Gw tidak akan jatuh ke jurang yang sama lagi. Yakin tidak akan selamat jika mengulang untuk kedua kalinya di umur segini.
Gw mungkin gila, tidak bahagia, dll. Tapi gw punya mimpi. Walaupun ada hambatan ini itu, tapi jika gw tidak terus berjalan ke arah mimpi tsb.. bagaimana gw berharap bisa sampai?
Saturday, February 25, 2012
Changi Airport (T3)
Suatu ketika di SHIA, habis check in di konter Singa Udara, gw mendengar anak kecil mengeluh kepada ibunya di antrian sebelah. Intinya dia mau cepat2 sampai di Changi Airport. Pas gw liat passport mereka...ooh pantesan...passport merah soalnya.
Changi Airport, lebih tua 4 tahun dari SHIA, bermula dari ambisi untuk menjadi aviation hub di South East Asia. Ambisi yang benar2 terjadi dan well deserved. Sri Mulyani pun pergi ke Washington D.C. melalui airport ini.
Sekarang Changi bersaing dengan Hongkong Intl Airport dan Incheon Airport untuk menjadi world's best airport. Yup 3 besar semuanya di Asia.
Sekedar catatan rasa2-nya KLIA masuk sepuluh besar (mari jangan tanyakan peringkat berapakah SHIA).
Sekarang Changi Airport menyumbang setidaknya 9% dari GDP Singapura. Walaupun GDP Singapura hanya 1/3 dari GDP Indonesia, tapi patut dicatat bahwa pendapatan per-kapita Singapura adalah yang tertinggi di South East Asia. Dan pemerintah Singapura sepertinya serius menangani Changi Airport. Dari bertahun-tahun lalu tidak henti2-nya selalu ada proyek di Changi Airport.
Terminal terbaru: Terminal 3 selesai tahun 2008. Salah satu alasan utama pembangunan adalah untuk menangani Airbus A380, pesawat penumpang terbesar saat ini.
Dan terminal ini adalah marvel of engineering itself. Untuk deskripsi lebih lanjut gw serahkan ke video berikut:
Bagaimana dilihat dari dalam? Pas ke SUZ kemaren untung2nya sempat masuk ke Terminal 3. Jarang2 sih pakai full fare airlines >.< (bangkrut boo). Dan kalaupun pakai Singapore Airlines, untuk penerbangan South East Asia dilempar ke Silk Air, dan itu pakai Terminal 2.
Ada kolam koi...
Dan dengan ambisi untuk menjadi garden city, di dalam airport pun ditaroh butterfly garden...
Dan ada tanaman favorit gw: kantong semar! Walaupun ini banyak di pameran kebon di Indo, tapi jarang2 ada yang bawa masuk airport!
Jadi kesimpulannya negara satu pulau ini menang predikat pelabuhan tersibuk di dunia dan salah satu tiga besar airport terbaik di dunia.
Pendapat gw pribadi sih sebenarnya apa sih yang salah dari SHIA? Yang salah adalah pemerintah kita tidak bisa memprediksi perkembangan lalu lintas udara yang bakal terjadi. Sadarnya sudah ketika airport menjadi over-congested seperti sekarang, dan baru datang dengan "grand plan". Ya jelas sudah sangat2 terlambat. Lalu lintas sudah macet ke mana2, taksi seperti lalat ijo, terminal overcrowded, toilet ada kecoa... tapi ya begitulah.
Sekedar info lagi: Changi Airport tax sekitar SGD 28 (1 SGD kira2 7000 Rp), dan Soekarno-Hatta airport tax untuk International Flight = Rp. 150.000,00. Beda kira2 50rb dengan totally different experience.
Changi Airport, lebih tua 4 tahun dari SHIA, bermula dari ambisi untuk menjadi aviation hub di South East Asia. Ambisi yang benar2 terjadi dan well deserved. Sri Mulyani pun pergi ke Washington D.C. melalui airport ini.
Sekarang Changi bersaing dengan Hongkong Intl Airport dan Incheon Airport untuk menjadi world's best airport. Yup 3 besar semuanya di Asia.
Sekedar catatan rasa2-nya KLIA masuk sepuluh besar (mari jangan tanyakan peringkat berapakah SHIA).
Sekarang Changi Airport menyumbang setidaknya 9% dari GDP Singapura. Walaupun GDP Singapura hanya 1/3 dari GDP Indonesia, tapi patut dicatat bahwa pendapatan per-kapita Singapura adalah yang tertinggi di South East Asia. Dan pemerintah Singapura sepertinya serius menangani Changi Airport. Dari bertahun-tahun lalu tidak henti2-nya selalu ada proyek di Changi Airport.
Terminal terbaru: Terminal 3 selesai tahun 2008. Salah satu alasan utama pembangunan adalah untuk menangani Airbus A380, pesawat penumpang terbesar saat ini.
Dan terminal ini adalah marvel of engineering itself. Untuk deskripsi lebih lanjut gw serahkan ke video berikut:
Bagaimana dilihat dari dalam? Pas ke SUZ kemaren untung2nya sempat masuk ke Terminal 3. Jarang2 sih pakai full fare airlines >.< (bangkrut boo). Dan kalaupun pakai Singapore Airlines, untuk penerbangan South East Asia dilempar ke Silk Air, dan itu pakai Terminal 2.
Ada kolam koi...
Dan dengan ambisi untuk menjadi garden city, di dalam airport pun ditaroh butterfly garden...
Dan ada tanaman favorit gw: kantong semar! Walaupun ini banyak di pameran kebon di Indo, tapi jarang2 ada yang bawa masuk airport!
Jadi kesimpulannya negara satu pulau ini menang predikat pelabuhan tersibuk di dunia dan salah satu tiga besar airport terbaik di dunia.
Pendapat gw pribadi sih sebenarnya apa sih yang salah dari SHIA? Yang salah adalah pemerintah kita tidak bisa memprediksi perkembangan lalu lintas udara yang bakal terjadi. Sadarnya sudah ketika airport menjadi over-congested seperti sekarang, dan baru datang dengan "grand plan". Ya jelas sudah sangat2 terlambat. Lalu lintas sudah macet ke mana2, taksi seperti lalat ijo, terminal overcrowded, toilet ada kecoa... tapi ya begitulah.
Sekedar info lagi: Changi Airport tax sekitar SGD 28 (1 SGD kira2 7000 Rp), dan Soekarno-Hatta airport tax untuk International Flight = Rp. 150.000,00. Beda kira2 50rb dengan totally different experience.
Wednesday, February 22, 2012
Ke Negeri Cina
Kemarin2 disuruh kerja ke Cina, alkisah klien punya pabrik di Suzhou, jadi harus berkunjunglah ke sana. Bukan pertama kali ke Cina, tapi pertama kali SENDIRIAN ke Cina.
Tanah air tuh? Kentuuut.. secara Indonesia masih tanah air beta pusaka abadi nan jaya dan seterusnya...
Ya kalau anak orang lain (ada teman gereja yang kerja ke Astr* juga pernah tugas ke Cina) pake persiapan les2 segala, yah kalau gw kentut juga lah persiapannya. Namanya nasib campur males...
Pertama: gw ke situ kan atas undangan, ya mereka donk yang mati2-an menyesuaikan dengan gw. Masih bagus gw bisa ngomong Inggris wekekeke...
Kedua: orang Cina itu sekarang pintar2 dan maju2. Kalau mereka sungguh2 belajar...wush.. keren hasilnya. Ada saudara hasil didikan Hongkong. Kalau ngomong Inggris, alamak logat Inggris beneran. Kalau dibandingkan dengan kita2 yang Singlish2 ga jelas...astaga sepertinya kita2 ini ngomongnya sampah beneran.
Ketiga: alamak...masa orang Indo takut? Lambang negara masih burung garuda dan bukan burung perkutut.
Bo-nyok pontang-panting, secara gw ngasih tau hari ini besok berangkat...hahahaha! Pake acara nakut2-in segala: "Eh di Cina sono kalau ga bisa bahasa Cina ga bisa makan loh..."
Padahal gw udah cek di deket hotel ada KFC 24 jam, jadi ga takut la yaw =P.
Seperti biasa selalu sibuk liat2 shopping-an (tapi ga shopping karena ga ada duid) di Changi Airport, dan hanya muncul di ruang tunggu ketika sudah last call.
Ceritanya harus ke Shanghai dulu, dan dari Shanghai naek taksi 2 jam perjalanan baru nyampe Suzhou.
Seperti biasa selalu order duduk dekat jendela. Biar bisa liat2 dan kalau tidur iler-nya ga kena sebelah. Ada pemandangan yang menarik, kenapa awan yang ini muter2 seperti spiral. Badai-kah di bawah sana? Our Earth is really cool!
Bandara Pudong Shanghai sudah mirip Changi dan jangan dibandingkan dengan SHIA (demi harga diri bangsa pakai singkatan).
Kamar hotel...hoe...bagi gw sih berlebihan, mana gw tinggal sendiri lagi. Mungkin terlalu terbiasa tinggal di minimalis. Pake acara meja kerja dan kursi malas segala. Terus bantal-nya itu loh, ada 6 biji di atas tempat tidur, mau buat apa coba...
Daerah gw tinggal namanya Suzhou Industrial Park (SIP), sedikit terpisah dari kota Suzhou-nya sendiri. Tapi yang keren, ga berasa culture shock dengan Singapur! Hal yang terutama tentu kebersihannya. Bersih booooo.... memang Jakarta-dash-Indonesia raja jorok. Ngomongnya kebersihan bagian dari iman, nah ini orang ga beriman bisa lebih bersih dari sampeyan.
KFC-nya buka 24 jam.. tapi... aduhai... Satu hari gw beli, kentang gorengnya keasinan, hari lainnya kentang gorengnya ga pake garam. Mana ga ada sambel AB* lagi! Adanya saos tomat...oooh. Dandanan dan tampang gw boleh lah mirip orang Cina, tapi selera masih Sumatera (gaya ngomong juga Jawa)!
Cina surganya sepeda!
Disediakan tempat penyewaan sepeda buat keliling2 industrial park. Bayarnya sudah sistem kartu tap2 bow...kita punya busway aja masih sistem mba2.
Plus di jalan2 disediakan jalur khusus sepeda + sepeda motor + sepeda elektrik jadi satu. Di sini bawa sepeda motornya adem ayem tenteram. Ga belingsetan kaya di... ah sudahlah...
Dan di suhu hampir 0 derajat ini, sekelompok orang2 tua masih ber..entahlah line dance apa SKJ gw juga kurang jelas. Dan gw masih ketemu satu dua orang yang jogging keliling2.
Ooh ngomong2 soal suhu. Sebetulnya asyik juga bo.
Kan setiap weekend gw selalu ritual makan es krim. Pas gw beli en taroh di kulkas hotel, yah jadi lembek. Ya secara mini fridge di kamar memang peruntukannya untuk minuman dan bukan freezer. Soo...jadilah gw bawa tuh es krim keluar jalan2. Sekeliling-dua keliling blok...jadi keras lagi! Keren banget!
Dan pernah gw beli air botol-an dari supermarket di seberang jalan. Cuma nyebrang jalan sedikit aja, sampe kamar...jadi air dingin. So nice! Kaga usah masukin kulkas segala.
Sungguh gw terpana.
Gw mesti mengakui, dari keteraturan, kerapihan, dan kebersihan, ini sudah ciri2 kota di negara maju. Belum lagi rencana MRT kelar di tahun 2013. Gw pun sempat berpikir actually it is a good place to live...hahahaha...setidaknya ga panas boo....
Tapi ga ada martabak, siomay, sate padang, nasi uduk, ketoprak, ..... aduh piye....Gw aja makan di situ bentrok melulu, mana gw say no to babi lagi.
Tanah air tuh? Kentuuut.. secara Indonesia masih tanah air beta pusaka abadi nan jaya dan seterusnya...
Ya kalau anak orang lain (ada teman gereja yang kerja ke Astr* juga pernah tugas ke Cina) pake persiapan les2 segala, yah kalau gw kentut juga lah persiapannya. Namanya nasib campur males...
Pertama: gw ke situ kan atas undangan, ya mereka donk yang mati2-an menyesuaikan dengan gw. Masih bagus gw bisa ngomong Inggris wekekeke...
Kedua: orang Cina itu sekarang pintar2 dan maju2. Kalau mereka sungguh2 belajar...wush.. keren hasilnya. Ada saudara hasil didikan Hongkong. Kalau ngomong Inggris, alamak logat Inggris beneran. Kalau dibandingkan dengan kita2 yang Singlish2 ga jelas...astaga sepertinya kita2 ini ngomongnya sampah beneran.
Ketiga: alamak...masa orang Indo takut? Lambang negara masih burung garuda dan bukan burung perkutut.
Bo-nyok pontang-panting, secara gw ngasih tau hari ini besok berangkat...hahahaha! Pake acara nakut2-in segala: "Eh di Cina sono kalau ga bisa bahasa Cina ga bisa makan loh..."
Padahal gw udah cek di deket hotel ada KFC 24 jam, jadi ga takut la yaw =P.
Seperti biasa selalu sibuk liat2 shopping-an (tapi ga shopping karena ga ada duid) di Changi Airport, dan hanya muncul di ruang tunggu ketika sudah last call.
Ceritanya harus ke Shanghai dulu, dan dari Shanghai naek taksi 2 jam perjalanan baru nyampe Suzhou.
Seperti biasa selalu order duduk dekat jendela. Biar bisa liat2 dan kalau tidur iler-nya ga kena sebelah. Ada pemandangan yang menarik, kenapa awan yang ini muter2 seperti spiral. Badai-kah di bawah sana? Our Earth is really cool!
Bandara Pudong Shanghai sudah mirip Changi dan jangan dibandingkan dengan SHIA (demi harga diri bangsa pakai singkatan).
Kamar hotel...hoe...bagi gw sih berlebihan, mana gw tinggal sendiri lagi. Mungkin terlalu terbiasa tinggal di minimalis. Pake acara meja kerja dan kursi malas segala. Terus bantal-nya itu loh, ada 6 biji di atas tempat tidur, mau buat apa coba...
Daerah gw tinggal namanya Suzhou Industrial Park (SIP), sedikit terpisah dari kota Suzhou-nya sendiri. Tapi yang keren, ga berasa culture shock dengan Singapur! Hal yang terutama tentu kebersihannya. Bersih booooo.... memang Jakarta-dash-Indonesia raja jorok. Ngomongnya kebersihan bagian dari iman, nah ini orang ga beriman bisa lebih bersih dari sampeyan.
KFC-nya buka 24 jam.. tapi... aduhai... Satu hari gw beli, kentang gorengnya keasinan, hari lainnya kentang gorengnya ga pake garam. Mana ga ada sambel AB* lagi! Adanya saos tomat...oooh. Dandanan dan tampang gw boleh lah mirip orang Cina, tapi selera masih Sumatera (gaya ngomong juga Jawa)!
Cina surganya sepeda!
Disediakan tempat penyewaan sepeda buat keliling2 industrial park. Bayarnya sudah sistem kartu tap2 bow...kita punya busway aja masih sistem mba2.
Plus di jalan2 disediakan jalur khusus sepeda + sepeda motor + sepeda elektrik jadi satu. Di sini bawa sepeda motornya adem ayem tenteram. Ga belingsetan kaya di... ah sudahlah...
Dan di suhu hampir 0 derajat ini, sekelompok orang2 tua masih ber..entahlah line dance apa SKJ gw juga kurang jelas. Dan gw masih ketemu satu dua orang yang jogging keliling2.
Ooh ngomong2 soal suhu. Sebetulnya asyik juga bo.
Kan setiap weekend gw selalu ritual makan es krim. Pas gw beli en taroh di kulkas hotel, yah jadi lembek. Ya secara mini fridge di kamar memang peruntukannya untuk minuman dan bukan freezer. Soo...jadilah gw bawa tuh es krim keluar jalan2. Sekeliling-dua keliling blok...jadi keras lagi! Keren banget!
Dan pernah gw beli air botol-an dari supermarket di seberang jalan. Cuma nyebrang jalan sedikit aja, sampe kamar...jadi air dingin. So nice! Kaga usah masukin kulkas segala.
Sungguh gw terpana.
Gw mesti mengakui, dari keteraturan, kerapihan, dan kebersihan, ini sudah ciri2 kota di negara maju. Belum lagi rencana MRT kelar di tahun 2013. Gw pun sempat berpikir actually it is a good place to live...hahahaha...setidaknya ga panas boo....
Tapi ga ada martabak, siomay, sate padang, nasi uduk, ketoprak, ..... aduh piye....Gw aja makan di situ bentrok melulu, mana gw say no to babi lagi.
Thursday, February 02, 2012
Tanyakan Kepada Agama
Alkisah terjadi sebuah peristiwa di negara antah berantah yang beragama. Ada seseorang yang mabuk, mengendarai kereta kuda yang melaju zig-zag kencang dan akhirnya naik ke trotoar.
Duar! 9 nyawa melayang.
Lalu masyarakat negeri itu dengan ramai2 mencaci maki si pengendara. Terlihat di media sosial orang2 berkata bahwa nyawa harus diganti nyawa, hukum mati saja dengan cara X, Y, Z, dll.
Pelaku dan keluarga sudah minta maaf hingga berlinang air mata? Lewat... masyarakat sudah terlanjur marah sehingga permohonan maaf pun dianggap palsu.
Sebagai seseorang yang mengenal Tuhan yang dipuja-puji dalam agama, ada sebuah pertanyaan yang muncul.
Jika kita percaya bahwa segala sesuatu dikolong langit ini terjadi dalam rencana dan kehendak Tuhan, bukankah Tuhan yang harus dicaci maki?
Bukankah Tuhan yang menciptakan materi yang memabukkan? Bukankah Tuhan yang menciptakan manusia dengan syaraf yang bisa mabuk? Bukankah Tuhan yang mengizinkan si pelaku mabuk? Bukankah Tuhan yang mengizinkan para korban tertabrak kereta? Bukankah Tuhan yang menciptakan manusia yang bisa meninggal ketika tertabrak kereta kuda?
Sungguh perbuatan Tuhan jauh lebih hina dari perbuatan si pelaku. Dengan segala kemahakuasaan dia mempermainkan manusia. Terlebih lagi dia membuat hukum yang mengharuskan si pelaku kehilangan nyawa. Sudah nyawa terhilang dari keluarga korban, sekarang dituntut sebuah nyawa terhilang dari keluarga pelaku.
Para penganut agama yang diberkati Tuhan karena tidak menjadi pelaku mendadak merasa paling benar. "Tidak, di keluarga saya tidak ada tuh pemabuk", begitu kata seorang.
"Pelaku harus dihukum mati supaya menjadi contoh", begitu kata seorang yang lain.
Nyawa yang dikatakan berharga mendadak menjadi mainan, sekedar contoh katanya. Yah karena memang nyawa orang lain, bukan nyawanya sendiri.
Lalu bagaimana menjawab ini?
Tiba2 teringat sebuah ucapan "Tuhan" dalam film "Evan Allmighty":
"Let me ask you something. If someone prays for patience, you think God gives them patience? Or does he give them the opportunity to be patient? If he prayed for courage, does God give him courage, or does he give him opportunities to be courageous? If someone prayed for the family to be closer, do you think God zaps them with warm fuzzy feelings, or does he give them opportunities to love each other?"
Disinilah letak kegagalan penduduk negeri antah berantah ini. Bahwa bukankah runtutan kejadian ini merupakan kesempatan dari Tuhan untuk menjadi orang yang lebih baik?
Bukankah kejadian ini mengajari bahwa mabuk itu berbahaya? Terlebih ketika mengendarai kereta.
Bukankah kejadian ini mengajari untuk mengikhlaskan dan menerima maaf?
Bukankah kejadian ini mengajarkan betapa sedihnya kehilangan nyawa seseorang yang disayangi. Apakah perlu hal ini terulang kepada pelaku dan keluarganya?
Bukankah kejadian ini seharusnya menyadarkan pelaku dan menjadikannya orang yang lebih baik di masa depan? Dengan inilah dia sebaik2-nya membayar hutang 9 nyawa. Bukan dengan kehilangan nyawa..bless...selesai.
"Mudah kamu berkata seperti itu! Coba kalau yang menjadi korban itu adalah keluargamu! Apakah kamu tidak marah Goblok!". Begitu kata penduduk negeri antah berantah..
Jelas saya sedih dan marah. Jelas saya menuntut nyawa pelaku sebagai gantinya walaupun saya tahu nyawa korban tidak akan kembali lagi sebanyak apapun saya menuntut.
Tapi ini bukanlah perilaku yang layak dari sahabat, teman maupun masyarakat yang saya harapkan.
Sebaik2-nya simpati, empati dan pati2 lainnya, tidaklah seharusnya itu larut dan memperburuk keadaan. Hal yang benar untuk dilakukan tetap harus dilakukan. Dan hal yang buruk seperti kemarahan dan caci maki harus ditinggalkan.
Inilah perilaku teman dan sahabat yang baik.
Orang yang meninggal sudah pergi dan tidak akan kembali lagi. Berapapun bayarannya.
Jika demikian bukankah tugas yang hidup adalah menjalani hidup dengan sebaik2-nya? Dengan belajar dari kematian dan hidup setiap hari dengan sebaik2-nya hingga hari kita mati dan bertemu dengan Tuhan?
Toh nanti kita akan bertemu dengan yang telah mendahului di hadapan Tuhan. Kesedihan tidak akan abadi, selama2-nya adalah sepanjang hidup kita yang sangat pendek ini.
Penduduk yang beragama percaya bahwa Tuhan adalah maha pemberi maaf. Ketika mereka meminta maaf, Tuhan dengan mudahnya memberikan maaf. Tapi ketika orang lain meminta maaf, mereka dengan pelitnya tidak memberikan maaf.
Perilaku macam apa ini?
Kenapa Tuhan memberikan maaf? Bukankah Tuhan ingin kita belajar dari kesalahan dan menjadi lebih baik.
Begitu demikian dengan kejadian ini yang meninggalkan tugas teramat besar, yaitu menjadikan pelaku manusia yang lebih baik.
Lho? Dia yang salah kenapa saya yang repot?
Memang harus begitu jika engkau benar2 mengerti karakter Tuhan. Dan ini adalah amalan terbesar. Bukankah demikian yang Tuhan selalu lakukan dengan hidupmu?
Tapi cerita tinggal cerita.
Kenapa masyarakat negeri antah berantah bertingkah laku seperti yang diceritakan di awal cerita? Penuh amarah dan caci maki?
Satu kata sebagai jawaban yang paling mungkin: "munafik"
Duar! 9 nyawa melayang.
Lalu masyarakat negeri itu dengan ramai2 mencaci maki si pengendara. Terlihat di media sosial orang2 berkata bahwa nyawa harus diganti nyawa, hukum mati saja dengan cara X, Y, Z, dll.
Pelaku dan keluarga sudah minta maaf hingga berlinang air mata? Lewat... masyarakat sudah terlanjur marah sehingga permohonan maaf pun dianggap palsu.
Sebagai seseorang yang mengenal Tuhan yang dipuja-puji dalam agama, ada sebuah pertanyaan yang muncul.
Jika kita percaya bahwa segala sesuatu dikolong langit ini terjadi dalam rencana dan kehendak Tuhan, bukankah Tuhan yang harus dicaci maki?
Bukankah Tuhan yang menciptakan materi yang memabukkan? Bukankah Tuhan yang menciptakan manusia dengan syaraf yang bisa mabuk? Bukankah Tuhan yang mengizinkan si pelaku mabuk? Bukankah Tuhan yang mengizinkan para korban tertabrak kereta? Bukankah Tuhan yang menciptakan manusia yang bisa meninggal ketika tertabrak kereta kuda?
Sungguh perbuatan Tuhan jauh lebih hina dari perbuatan si pelaku. Dengan segala kemahakuasaan dia mempermainkan manusia. Terlebih lagi dia membuat hukum yang mengharuskan si pelaku kehilangan nyawa. Sudah nyawa terhilang dari keluarga korban, sekarang dituntut sebuah nyawa terhilang dari keluarga pelaku.
Para penganut agama yang diberkati Tuhan karena tidak menjadi pelaku mendadak merasa paling benar. "Tidak, di keluarga saya tidak ada tuh pemabuk", begitu kata seorang.
"Pelaku harus dihukum mati supaya menjadi contoh", begitu kata seorang yang lain.
Nyawa yang dikatakan berharga mendadak menjadi mainan, sekedar contoh katanya. Yah karena memang nyawa orang lain, bukan nyawanya sendiri.
Lalu bagaimana menjawab ini?
Tiba2 teringat sebuah ucapan "Tuhan" dalam film "Evan Allmighty":
"Let me ask you something. If someone prays for patience, you think God gives them patience? Or does he give them the opportunity to be patient? If he prayed for courage, does God give him courage, or does he give him opportunities to be courageous? If someone prayed for the family to be closer, do you think God zaps them with warm fuzzy feelings, or does he give them opportunities to love each other?"
Disinilah letak kegagalan penduduk negeri antah berantah ini. Bahwa bukankah runtutan kejadian ini merupakan kesempatan dari Tuhan untuk menjadi orang yang lebih baik?
Bukankah kejadian ini mengajari bahwa mabuk itu berbahaya? Terlebih ketika mengendarai kereta.
Bukankah kejadian ini mengajari untuk mengikhlaskan dan menerima maaf?
Bukankah kejadian ini mengajarkan betapa sedihnya kehilangan nyawa seseorang yang disayangi. Apakah perlu hal ini terulang kepada pelaku dan keluarganya?
Bukankah kejadian ini seharusnya menyadarkan pelaku dan menjadikannya orang yang lebih baik di masa depan? Dengan inilah dia sebaik2-nya membayar hutang 9 nyawa. Bukan dengan kehilangan nyawa..bless...selesai.
"Mudah kamu berkata seperti itu! Coba kalau yang menjadi korban itu adalah keluargamu! Apakah kamu tidak marah Goblok!". Begitu kata penduduk negeri antah berantah..
Jelas saya sedih dan marah. Jelas saya menuntut nyawa pelaku sebagai gantinya walaupun saya tahu nyawa korban tidak akan kembali lagi sebanyak apapun saya menuntut.
Tapi ini bukanlah perilaku yang layak dari sahabat, teman maupun masyarakat yang saya harapkan.
Sebaik2-nya simpati, empati dan pati2 lainnya, tidaklah seharusnya itu larut dan memperburuk keadaan. Hal yang benar untuk dilakukan tetap harus dilakukan. Dan hal yang buruk seperti kemarahan dan caci maki harus ditinggalkan.
Inilah perilaku teman dan sahabat yang baik.
Orang yang meninggal sudah pergi dan tidak akan kembali lagi. Berapapun bayarannya.
Jika demikian bukankah tugas yang hidup adalah menjalani hidup dengan sebaik2-nya? Dengan belajar dari kematian dan hidup setiap hari dengan sebaik2-nya hingga hari kita mati dan bertemu dengan Tuhan?
Toh nanti kita akan bertemu dengan yang telah mendahului di hadapan Tuhan. Kesedihan tidak akan abadi, selama2-nya adalah sepanjang hidup kita yang sangat pendek ini.
Penduduk yang beragama percaya bahwa Tuhan adalah maha pemberi maaf. Ketika mereka meminta maaf, Tuhan dengan mudahnya memberikan maaf. Tapi ketika orang lain meminta maaf, mereka dengan pelitnya tidak memberikan maaf.
Perilaku macam apa ini?
Kenapa Tuhan memberikan maaf? Bukankah Tuhan ingin kita belajar dari kesalahan dan menjadi lebih baik.
Begitu demikian dengan kejadian ini yang meninggalkan tugas teramat besar, yaitu menjadikan pelaku manusia yang lebih baik.
Lho? Dia yang salah kenapa saya yang repot?
Memang harus begitu jika engkau benar2 mengerti karakter Tuhan. Dan ini adalah amalan terbesar. Bukankah demikian yang Tuhan selalu lakukan dengan hidupmu?
Tapi cerita tinggal cerita.
Kenapa masyarakat negeri antah berantah bertingkah laku seperti yang diceritakan di awal cerita? Penuh amarah dan caci maki?
Satu kata sebagai jawaban yang paling mungkin: "munafik"
Thursday, January 26, 2012
Indonesia dalam Kenangan Perangko
Masih ingatkah di kala muda dulu, sebelum heboh Be-Ha Jup*, bahwa Indonesia pernah bikin pesawat?
Gw dulu beli kartu pos ini hanya sebagai iseng2 suvenir, eh ternyata.. sekarang hanya tinggal kenangan.
Dan ini gw pick up dari lelang perangko klub filateli kantor pos Tangerang. Awalnya karena mengira ini cukup keren, ada cap pos dari TimTim yang jauh di sana. Dan waktu itu belum ada gosip kalau TimTim bakal jadi negara sendiri.
Sekarang? Huee... sudah bikin perangko sendiri yak... tidak lagi di bawah Pos Indonesia.
Gw dulu beli kartu pos ini hanya sebagai iseng2 suvenir, eh ternyata.. sekarang hanya tinggal kenangan.
Dan ini gw pick up dari lelang perangko klub filateli kantor pos Tangerang. Awalnya karena mengira ini cukup keren, ada cap pos dari TimTim yang jauh di sana. Dan waktu itu belum ada gosip kalau TimTim bakal jadi negara sendiri.
Sekarang? Huee... sudah bikin perangko sendiri yak... tidak lagi di bawah Pos Indonesia.
Friday, January 06, 2012
Amit2
Pas beberes koleksi perangko, ternyata menemukan beberapa hmm... kenangan yang mustahil masuk FB (bisa malu tujuh belas turunan). Ini sudah tingkatan amit2 jabang kakek nenek... bayi mah sudah lewat.
Ketemu sepucuk surat yang masih tersegel rapi. Belum sempat dipos-kan, dan amplopnya pun aduh kiyutnya. Ini jelas tulisan tangan gw, dan dulu kalo gw menulis tangan harus pakai merek Kiky.. fanatiknya.
Dan yang lebih menajiskan lagi... adalah from-nya. Hahahahah... ternyata gw dulu kiyut2 amit2. Untungnya belum sempat di-poskan. Sampai sekarang gw belum berani membuka ini amplop.
Dan ini lagi.. haduh ketemu foto dari drama natal gabungan se-BPK Penabur yang entah jaman kapan. Ceritanya jadi three wise men.
OMG dulu ternyata segitu amit2-nya.
Ketemu sepucuk surat yang masih tersegel rapi. Belum sempat dipos-kan, dan amplopnya pun aduh kiyutnya. Ini jelas tulisan tangan gw, dan dulu kalo gw menulis tangan harus pakai merek Kiky.. fanatiknya.
Dan yang lebih menajiskan lagi... adalah from-nya. Hahahahah... ternyata gw dulu kiyut2 amit2. Untungnya belum sempat di-poskan. Sampai sekarang gw belum berani membuka ini amplop.
Dan ini lagi.. haduh ketemu foto dari drama natal gabungan se-BPK Penabur yang entah jaman kapan. Ceritanya jadi three wise men.
OMG dulu ternyata segitu amit2-nya.
Thursday, January 05, 2012
Di Negara Tetangga Bahasa Inggris itu Lumrah...
Ketika ke Penang kemarin diprotes. Kenapa gw selalu pakai bahasa Inggris instead of bahasa Indonesia yang mana serumpun dengan bahasa Melayu.
Entahlah, tapi yang jelas lingkungannya membuat gw berbahasa Inggris. Dan kelihatannya orang2-nya lebih mengerti. Ketimbang memakai bahasa lalu orangnya bilang "Heh?!?", terus harus ngulang lagi.. cape.
Yah walaupun my England is not good, but bit-bit I still can.
Yang mengherankan lagi di mall-nya cerita anak2 pakai bahasa Inggris juga! Wow yang ini berbeda dengan di Jakarta. Walaupun sebagian anak2 bisa berbahasa Inggris dari kecil (dari kalangan borjuis), tapi mayoritas anak2 masih "sulit" untuk berbahasa Inggris (yang ini dari kalangan rakyat jelata yang kampungan).
Alkisah ceritanya waktu itu tentang si tukang sepatu dan para kurcaci. Narator-nya native speaker bo! Keren dah bule bisa ber-ekspresi juga... kalau di negara sendiri malah di-bom.
Tentu saja gw tidak mau kalah dan ikut menyanyi dan menari (bohong dot com)...
Entahlah, tapi yang jelas lingkungannya membuat gw berbahasa Inggris. Dan kelihatannya orang2-nya lebih mengerti. Ketimbang memakai bahasa lalu orangnya bilang "Heh?!?", terus harus ngulang lagi.. cape.
Yah walaupun my England is not good, but bit-bit I still can.
Yang mengherankan lagi di mall-nya cerita anak2 pakai bahasa Inggris juga! Wow yang ini berbeda dengan di Jakarta. Walaupun sebagian anak2 bisa berbahasa Inggris dari kecil (dari kalangan borjuis), tapi mayoritas anak2 masih "sulit" untuk berbahasa Inggris (yang ini dari kalangan rakyat jelata yang kampungan).
Alkisah ceritanya waktu itu tentang si tukang sepatu dan para kurcaci. Narator-nya native speaker bo! Keren dah bule bisa ber-ekspresi juga... kalau di negara sendiri malah di-bom.
Tentu saja gw tidak mau kalah dan ikut menyanyi dan menari (bohong dot com)...
Wednesday, January 04, 2012
On God...On Religion...On Stupidity(?)
Video ini sempat populer di kalangan... entahlah... sebut saja kalangan religius:
Ceritanya adalah bagaimana Einstein menjelaskan bahwa sebagaimana dalam fisika bahwa "dingin" terjadi ketika "panas" absen, "gelap" terjadi ketika "cahaya" absen, begitu juga dengan "kejahatan" yang muncul karena "tuhan" absen. Kalau ngga ngerti lebih baik nonton sendiri saja, nerjemahin bahasa Inggris ke Indonesia memang agak susah.
Kalimat Einstein yang paling sering dikutip oleh teman2 religius adalah: Science without religion is lame, religion without science is blind.
Ketika pertama kali melihat klip di atas, sebagai orang yang mengerti nilai2 religi, gw langsung berpikir dalam hati: "Excuse me?!?!" Kalau gw orang religius, gw langsung berkata bahwa klip tersebut adalah sesat. Mungkin yang membuatnya harus dirajam atau dieksekusi mati (tentu ini berlebihan, namun yah orang2 religius umumnya norak).
Mengapa? Satu poin yang paling penting: karena ide dalam video tersebut menihilkan personifikasi Tuhan.
Hilang ide bahwa Tuhan memiliki kehendak, peduli terhadap dosa manusia, peduli terhadap baju yang dipakai ketika arisan, peduli terhadap kehendak maksiat, peduli terhadap pasangan hidup, peduli terhadap apakah mau pindah agama atau tidak, peduli untuk melaknat tetangga sebelah yang beragama lain, dll.
Dan umumnya penganut agama2 yang bikin rusuh menganut paham personifikasi Tuhan, karena itu rusuh melulu.
Einstein adalah orang yang religius (ah masa??), namun religiusitasnya berbeda dengan persepsi orang kebanyakan. Karena lagi di Youtube, mari simak video berikut:
**tertawa cekikikan karena tebakan pertama gw benar.
Ernst Hemingway pernah berkata: "All thinking men are atheists."
Gandhi pernah berkata: "I am a Muslim, I am a Hindhu, I am a Christian, I am a Jew - and so are all of you."Kenapa dia berkata seperti itu?
Bunda Teresa pernah menulis: "Seeking the face of God in everything, everyone, all the time, and his hand in every happening; This is what it means to be contemplative in the heart of the world. Seeing and adoring the presence of Jesus, especially in the lowly appearance of bread, and in the distressing disguise of the poor."
Tidak semua orang religius adalah bodoh. Ada beberapa yang memang pintar dan pemahaman mereka akan Tuhan mengubah dunia.
Tapi kebanyakan adalah bodoh, karena itu rusuh.
Ceritanya adalah bagaimana Einstein menjelaskan bahwa sebagaimana dalam fisika bahwa "dingin" terjadi ketika "panas" absen, "gelap" terjadi ketika "cahaya" absen, begitu juga dengan "kejahatan" yang muncul karena "tuhan" absen. Kalau ngga ngerti lebih baik nonton sendiri saja, nerjemahin bahasa Inggris ke Indonesia memang agak susah.
Kalimat Einstein yang paling sering dikutip oleh teman2 religius adalah: Science without religion is lame, religion without science is blind.
Ketika pertama kali melihat klip di atas, sebagai orang yang mengerti nilai2 religi, gw langsung berpikir dalam hati: "Excuse me?!?!" Kalau gw orang religius, gw langsung berkata bahwa klip tersebut adalah sesat. Mungkin yang membuatnya harus dirajam atau dieksekusi mati (tentu ini berlebihan, namun yah orang2 religius umumnya norak).
Mengapa? Satu poin yang paling penting: karena ide dalam video tersebut menihilkan personifikasi Tuhan.
Hilang ide bahwa Tuhan memiliki kehendak, peduli terhadap dosa manusia, peduli terhadap baju yang dipakai ketika arisan, peduli terhadap kehendak maksiat, peduli terhadap pasangan hidup, peduli terhadap apakah mau pindah agama atau tidak, peduli untuk melaknat tetangga sebelah yang beragama lain, dll.
Dan umumnya penganut agama2 yang bikin rusuh menganut paham personifikasi Tuhan, karena itu rusuh melulu.
Einstein adalah orang yang religius (ah masa??), namun religiusitasnya berbeda dengan persepsi orang kebanyakan. Karena lagi di Youtube, mari simak video berikut:
**tertawa cekikikan karena tebakan pertama gw benar.
Ernst Hemingway pernah berkata: "All thinking men are atheists."
Gandhi pernah berkata: "I am a Muslim, I am a Hindhu, I am a Christian, I am a Jew - and so are all of you."Kenapa dia berkata seperti itu?
Bunda Teresa pernah menulis: "Seeking the face of God in everything, everyone, all the time, and his hand in every happening; This is what it means to be contemplative in the heart of the world. Seeing and adoring the presence of Jesus, especially in the lowly appearance of bread, and in the distressing disguise of the poor."
Tidak semua orang religius adalah bodoh. Ada beberapa yang memang pintar dan pemahaman mereka akan Tuhan mengubah dunia.
Tapi kebanyakan adalah bodoh, karena itu rusuh.
Monday, December 12, 2011
Binatang punya cerita...
Hari ini gw ke Ubin (lagi), dan bertemu lumayan banyak binatang, walaupun binatangnya biasa2 saja.
Mereka memang tidak bisa ngomong, tetapi gw sering berpikir...apa yang mereka pikirkan? Ya yang jelas tidak sama dengan manusia maupun tidak mungkin disamakan, tapi penasaran juga.
Ada monyet nakal yang suka mencuri. Gw kaget karena baru menyadari, ternyata monyet mirip sekali dengan manusia. Mereka mengandalkan penglihatan daripada penciuman. Si teman yang satu ini pun tertarik datang karena melihat barang yang tertinggal, walaupun barangnya tidak dapat dimakan.
Bertemu dengan Pak Anjing di dermaga. Terkadang kalau melihat binatang yang berumur... ada karisma tersendiri, maupun tersirat kerutan "kebijaksanaan". Demikian yang gw lihat dari Pak Anjing ini.
Gw dulu melihara hamster saja sampai terkaget2. Hamster tua gw mendadak tampangnya tidak "cute" lagi, dan sepertinya perjalanan hidupnya sudah lebih jauh dari gw. Tapi pada waktu itu dia sudah punya anak, dan sudah besar2 lagi. Suatu hal yang belum pernah gw alami dalam hidup.
Dan bertemu dengan Bu Kucing di dermaga Changi. Bagi kita paling perjalanan cuma naek perahu 15 menit. Tapi bagi mereka mungkin tidak pernah bertemu seumur hidupnya.
Sebenarnya tidak terbayang hidup tanpa binatang. Karena bagi gw mereka adalah refleksi diri kita yang paling jujur. Manusia biasanya berbohong dengan make-up dan berbagai tindakan manipulatif lainnya. Tapi seiring perjalanan waktu, kita tumbuh menjadi tua, kerutan muncul dan bekas luka semakin banyak. Dan kita menganggap generasi yang lebih muda terlalu bersemangat, berlebihan, kekanak2-an, dll.
Hahaha.. nobody can stay young forever....
Mereka memang tidak bisa ngomong, tetapi gw sering berpikir...apa yang mereka pikirkan? Ya yang jelas tidak sama dengan manusia maupun tidak mungkin disamakan, tapi penasaran juga.
Ada monyet nakal yang suka mencuri. Gw kaget karena baru menyadari, ternyata monyet mirip sekali dengan manusia. Mereka mengandalkan penglihatan daripada penciuman. Si teman yang satu ini pun tertarik datang karena melihat barang yang tertinggal, walaupun barangnya tidak dapat dimakan.
| Eh ga ada orangnya nih... |
| Ada yang menarik ga nih?? (tapi lupa jas ujan kuning udah mulai melorot) |
| Eeh ada yang jatoh! |
Gw dulu melihara hamster saja sampai terkaget2. Hamster tua gw mendadak tampangnya tidak "cute" lagi, dan sepertinya perjalanan hidupnya sudah lebih jauh dari gw. Tapi pada waktu itu dia sudah punya anak, dan sudah besar2 lagi. Suatu hal yang belum pernah gw alami dalam hidup.
Dan bertemu dengan Bu Kucing di dermaga Changi. Bagi kita paling perjalanan cuma naek perahu 15 menit. Tapi bagi mereka mungkin tidak pernah bertemu seumur hidupnya.
Sebenarnya tidak terbayang hidup tanpa binatang. Karena bagi gw mereka adalah refleksi diri kita yang paling jujur. Manusia biasanya berbohong dengan make-up dan berbagai tindakan manipulatif lainnya. Tapi seiring perjalanan waktu, kita tumbuh menjadi tua, kerutan muncul dan bekas luka semakin banyak. Dan kita menganggap generasi yang lebih muda terlalu bersemangat, berlebihan, kekanak2-an, dll.
Hahaha.. nobody can stay young forever....
Thursday, December 08, 2011
Reuni
Kemarin sengaja pulang untuk menghadiri reuni SMU setelah 10 tahun kita2 lulus dari sana. Tidak terasa 10 tahun berlalu seperti lokomotif, tidak terasa eeh... ternyata sudah beranjak dewasa, dan harus mengingat kembali masa2 muda yang berjaya dulu.
Sebenarnya sih bukan tanpa pengorbanan secara datang reuni berarti gw skip StanChart Marathon yang notabene udah daftar. Jadi berarti sudah habislah semua event olahraga di tahun ini.
Awalnya sih gw pake ragu untuk memutuskan datang reuni, tapi ada teman kantor yang berkata kalau StanChart itu tiap tahun, sementara reuni itu 10 tahun baru sekali ini, itupun kalau lain kali masih diberi umur panjang. Jadi ya sudahlah, jelas yang mana yang dikorbankan. Mana lagi gw selalu bercita2 untuk mati muda.
Jadi pulanglah ke Jakarta dengan terburu2.
Begitu datang ke reuni sehabis menembus kemacetan Jakarta yang rasanya bertambah dahsyat saja, whew.. rasanya bersyukur sekali memilih opsi yang ini.
Banyak yang berkata kalau gw "hilang dari pergaulan". Padahal ya bo...masih eksis banget gitu loh, cuman memang jaman sekarang makin males menjangkau ke Jakarta secara lagi2 masalah lalu lintasnya.
Ada yang bilang tampang masih sama, ada yang bilang tampang beda, tapi banyak yang bilang kurusan banget dibanding dulu (ya iye lah... mau dikemanakan semua usaha diet ini, kalau dibilang tambah gendud.. dari yang dulu...waduh langsung gw nabung liposuction deh).
Dan tidak disangka dinyana ternyata gw cukup populer juga yah (yuhuu....) dengan banyaknya orang2 yang langsung bisa menyebut: "Kardy....", padahal gw saja lupa kiri kanan.
Ada yang sudah punya istri, ada yang sudah punya anak...
Dari guru2, hmm... ada kesan mereka curious dengan bagaimana kita2 sekarang. Ada yang memang sudah lupa2 inget dengan gw, tapi ada juga yang inget kalau gw mantan ketua kelas! Mak jang..gw aja udah lupa.
Foto2 reuni tentu saja masuk facebook dong...biar gaul gitu loh.
Pulang reuni kita main2 ke kelas, ya secara sembari turun lewat tangga gitu loh (btw reuninya di aula SMUK1, jadi di lt. 8).
Menemukan bahwa ada peningkatan di sekolah, sekarang sudah pakai loker di sepanjang lorong sekolah. Jadi mudah2-an tidak seperti pengungsi lagi setiap kali mau ujian, karena mesti mengosongkan laci meja. Katanya juga bo.. sekarang ngajarnya udah pake proyektor, jaman milenium gitu (psst: uang sekolahnya juga sekarang sudah milenium dong....).
Kelas terakhir gw (3 IPA 3) sekarang jadi di depan tangga, yang dulunya di pojokan banget. Wonder why....
Daaaaan... masalah seragam, ternyata makin ancur a.k.a culun. Apa2-an ini? Hahahahahaha......
Pakai dasi merah2 ala eSDe, rambut ga boleh pake gel. Aduh2 gimana mau gaul. Plus sepatu hitem lagi yang mirip sekolah2 di pelosok mana gitu.
Aduh mau ngomong apa lagi yah.. rasa2-nya seragam jaman dulu yang putih abu2 dengan sepatu putih jauh lebih keren dan gaul ketimbang yang gini-an (rompi, dasi eSDe, dan batik).
Btw kita angkatan terakhir dong yang pake sepatu putih, selepas itu udah sepatu hitam yang jelek dan nan tidak gaul itu.
Dan ada lagi pajangan beginian yang bikin ngakak:
Hyahahahahaha......
Sampai umur segini gw bisa mengatakan kalau masa2 di SMUK1 adalah masa2 paling menantang dalam hidup. Dimana gw perlu betul2 serius belajar.
Tapi pada akhirnya not bad... dari nilai Matematika-Fisika kebakaran semua di tahun pertama - menyentuh ranking 10 besar sekali dua kali - nilai penjurusan IPA/IPS sama kuat pas naik kelas 2 - hingga bisa lulus dari IPA di kelas 3.
Dan tentunya bukan karena diri sendiri, tapi karena teman2 yang memang benar2 tahu bagaimana study hard and play hard.
Sebenarnya sih bukan tanpa pengorbanan secara datang reuni berarti gw skip StanChart Marathon yang notabene udah daftar. Jadi berarti sudah habislah semua event olahraga di tahun ini.
Awalnya sih gw pake ragu untuk memutuskan datang reuni, tapi ada teman kantor yang berkata kalau StanChart itu tiap tahun, sementara reuni itu 10 tahun baru sekali ini, itupun kalau lain kali masih diberi umur panjang. Jadi ya sudahlah, jelas yang mana yang dikorbankan. Mana lagi gw selalu bercita2 untuk mati muda.
Jadi pulanglah ke Jakarta dengan terburu2.
Begitu datang ke reuni sehabis menembus kemacetan Jakarta yang rasanya bertambah dahsyat saja, whew.. rasanya bersyukur sekali memilih opsi yang ini.
Banyak yang berkata kalau gw "hilang dari pergaulan". Padahal ya bo...masih eksis banget gitu loh, cuman memang jaman sekarang makin males menjangkau ke Jakarta secara lagi2 masalah lalu lintasnya.
Ada yang bilang tampang masih sama, ada yang bilang tampang beda, tapi banyak yang bilang kurusan banget dibanding dulu (ya iye lah... mau dikemanakan semua usaha diet ini, kalau dibilang tambah gendud.. dari yang dulu...waduh langsung gw nabung liposuction deh).
Dan tidak disangka dinyana ternyata gw cukup populer juga yah (yuhuu....) dengan banyaknya orang2 yang langsung bisa menyebut: "Kardy....", padahal gw saja lupa kiri kanan.
Ada yang sudah punya istri, ada yang sudah punya anak...
Dari guru2, hmm... ada kesan mereka curious dengan bagaimana kita2 sekarang. Ada yang memang sudah lupa2 inget dengan gw, tapi ada juga yang inget kalau gw mantan ketua kelas! Mak jang..gw aja udah lupa.
Foto2 reuni tentu saja masuk facebook dong...biar gaul gitu loh.
Pulang reuni kita main2 ke kelas, ya secara sembari turun lewat tangga gitu loh (btw reuninya di aula SMUK1, jadi di lt. 8).
Menemukan bahwa ada peningkatan di sekolah, sekarang sudah pakai loker di sepanjang lorong sekolah. Jadi mudah2-an tidak seperti pengungsi lagi setiap kali mau ujian, karena mesti mengosongkan laci meja. Katanya juga bo.. sekarang ngajarnya udah pake proyektor, jaman milenium gitu (psst: uang sekolahnya juga sekarang sudah milenium dong....).
Kelas terakhir gw (3 IPA 3) sekarang jadi di depan tangga, yang dulunya di pojokan banget. Wonder why....
Daaaaan... masalah seragam, ternyata makin ancur a.k.a culun. Apa2-an ini? Hahahahahaha......
Pakai dasi merah2 ala eSDe, rambut ga boleh pake gel. Aduh2 gimana mau gaul. Plus sepatu hitem lagi yang mirip sekolah2 di pelosok mana gitu.
Aduh mau ngomong apa lagi yah.. rasa2-nya seragam jaman dulu yang putih abu2 dengan sepatu putih jauh lebih keren dan gaul ketimbang yang gini-an (rompi, dasi eSDe, dan batik).
Btw kita angkatan terakhir dong yang pake sepatu putih, selepas itu udah sepatu hitam yang jelek dan nan tidak gaul itu.
Dan ada lagi pajangan beginian yang bikin ngakak:
Hyahahahahaha......
Sampai umur segini gw bisa mengatakan kalau masa2 di SMUK1 adalah masa2 paling menantang dalam hidup. Dimana gw perlu betul2 serius belajar.
Tapi pada akhirnya not bad... dari nilai Matematika-Fisika kebakaran semua di tahun pertama - menyentuh ranking 10 besar sekali dua kali - nilai penjurusan IPA/IPS sama kuat pas naik kelas 2 - hingga bisa lulus dari IPA di kelas 3.
Dan tentunya bukan karena diri sendiri, tapi karena teman2 yang memang benar2 tahu bagaimana study hard and play hard.
Wednesday, December 07, 2011
Ketika Naik Pesawat Rasa Bus...
Ya apa boleh buat namanya juga naik pesawat cap singa terbang, ekonomi gitu loh. Jadi yang namanya delay, ya pasrah sajalah.
Jadi berjalan2 lah kita di Changi Airport, bandara internasional yang benar2 rasa internasional. Layar petunjuk ada di mana2. Jauhlah jika dibandingkan dengan bandara di rumah sendiri (tapi internasional juga). Dan travelator-nya benar2 jalan, tidak kadang nyala dan kadang mati, itupun kalau nyala pakai bunyi "nguuunngg" yang lumayan nyaring.
Ah sudahlah jangan dibanding2-kan terus, jadi malu....
Ada juga Post on Wheels, tempat beli suvenir benda2 pos dan voucher isi ulang. Secara pribadi sih gw cuma memanfaatin ini buat beli voucher isi ulang, secara benda2 pos lebih cenderung beli di Kantor Pos di Terminal 2 di luar.
Dan sekedar catatan, kantor pos Changi Airport tidak punya cap pos hari pertama =(.
Changi pun sudah mempercantik diri dengan ornamen2 Natal. Memang dasar Singapur gila turis, begitu Deepavali selesai langsung ganti ornamen ke Natal.
Berkebalikan dengan kondisi di rumah. Belanja di airport orang lebih murah ketimbang belanja di luar airport. Secara dapat potongan pajak. Gw pun sempat menyambar 1 potong baju yang langsung dipakai besok2-nya buat foto masuk facebook dong ah! Dan tentu tempat yang selalu ramai adalah toko minuman haram.
Kalau di rumah sendiri, belanja di airport, aduh kena getok: "TOK!". Kepala pusing, dompet loncat. Satu botol Pocari Sweat saja dihargai Rp 20.000. Ck..ck..ck...
Dan ada pianis! Mengingatkan seperti di RS. Siloam Gleneagles. Walaupun nda ngerti apa yang dimainkan, tapi setidaknya memberi kesan berkelas gitu loh.
Dan akhirnya kembali ke ruang tunggu, boarding, dan kemudian terbang! Akhirnya kembali ke rumah! Hore!
Sesampainya di tanah air, tentu disambut dengan pelayanan yang mencerminkan pribadi bangsa: penuh kebersahajaan. Ya kalau di negara orang pakai belalai untuk keluar masuk pesawat, yang ini cukuplah pakai "tangga berjalan karena didorong" sahaja.
Plus dijemput pakai bus, gratis Mak! Nyaris di-shoo2 masuk bus karena masih poto2 di luar.
Jadi intinya apa? Ada duit ada barang? Hmm nda tau deh, karena hanya sekedar tes2 kamera saja. Semuanya point and shoot, automatic mode, tanpa pusing setel sana sini.
Bagi gw hasilnya lebih bright dari IXUS gw yang dulu, dan bahkan untuk beberapa foto menjadi terlalu terang, tapi gw suka hasil warnanya. White balance juga gw masih pusing.
Herrrr...beli barang baru harus belajar lagi....
Untungnya bawa kamera *uhuk2* baru....jadinya bisa foto2 berlagak turis
Bermula dari pengumuman delay 1 jam, yang disambut dengan tatapan tidak percaya para penumpang.
| "Apa...Delay?!?!?" |
Ah sudahlah jangan dibanding2-kan terus, jadi malu....
Ada juga Post on Wheels, tempat beli suvenir benda2 pos dan voucher isi ulang. Secara pribadi sih gw cuma memanfaatin ini buat beli voucher isi ulang, secara benda2 pos lebih cenderung beli di Kantor Pos di Terminal 2 di luar.
Dan sekedar catatan, kantor pos Changi Airport tidak punya cap pos hari pertama =(.
Changi pun sudah mempercantik diri dengan ornamen2 Natal. Memang dasar Singapur gila turis, begitu Deepavali selesai langsung ganti ornamen ke Natal.
Berkebalikan dengan kondisi di rumah. Belanja di airport orang lebih murah ketimbang belanja di luar airport. Secara dapat potongan pajak. Gw pun sempat menyambar 1 potong baju yang langsung dipakai besok2-nya buat foto masuk facebook dong ah! Dan tentu tempat yang selalu ramai adalah toko minuman haram.
Kalau di rumah sendiri, belanja di airport, aduh kena getok: "TOK!". Kepala pusing, dompet loncat. Satu botol Pocari Sweat saja dihargai Rp 20.000. Ck..ck..ck...
| Jualan Minuman Haram |
Dan ada pianis! Mengingatkan seperti di RS. Siloam Gleneagles. Walaupun nda ngerti apa yang dimainkan, tapi setidaknya memberi kesan berkelas gitu loh.
Dan akhirnya kembali ke ruang tunggu, boarding, dan kemudian terbang! Akhirnya kembali ke rumah! Hore!
Sesampainya di tanah air, tentu disambut dengan pelayanan yang mencerminkan pribadi bangsa: penuh kebersahajaan. Ya kalau di negara orang pakai belalai untuk keluar masuk pesawat, yang ini cukuplah pakai "tangga berjalan karena didorong" sahaja.
Plus dijemput pakai bus, gratis Mak! Nyaris di-shoo2 masuk bus karena masih poto2 di luar.
Jadi intinya apa? Ada duit ada barang? Hmm nda tau deh, karena hanya sekedar tes2 kamera saja. Semuanya point and shoot, automatic mode, tanpa pusing setel sana sini.
Bagi gw hasilnya lebih bright dari IXUS gw yang dulu, dan bahkan untuk beberapa foto menjadi terlalu terang, tapi gw suka hasil warnanya. White balance juga gw masih pusing.
Herrrr...beli barang baru harus belajar lagi....
Wednesday, November 23, 2011
The sexiest job...
Is.... archeologist.
Wow! Serius?! Well tidak seperti di dunia nyata, tapi di dunia hmm semi nyata, arkeolog adalah pekerjaan yang menuntut tampang dan bodi yang rupawan belum lagi skill set yang akrobatik.
Sebut saja Mr(Dr). Indiana Jones, Mrs. Lara Croft
dan Mr. Nathan Drake <-- walaupun yang ini lebih mirip ke treasure hunter.
Tapiiiii........
Ada lagi yang tidak kalah beken.
Meet Mr(Dr). Tommy Oliver dari MMPR Dino Thunder. Alkisah setelah lulus dari Angel Grove High School, dia terus bersekolah, sambil nyambi jadi Power Ranger melawan monster2, masuk MIT dan mengambil PHD di palaentologi. Dan akhirnya menemukan artifak yang dipakai sebagai basis Power Rangers Dino Thunder. Cool huh?!
Tentu saja, apalagi dibandingkan dengan saya yang umur sudah segini tapi masih saja nongkrongin Power Rangers (tapi apa boleh kata seneng booo). Belum lagi otak full power saja tidak mampu masuk MIT, apalagi disambi melawan monster :(.
Wait.. apakah ini Tommy yang sama seperti Green Power Ranger dulu di jaman cinta monyet dengan Kimberly a.k.a Pink Ranger? Yup2, seperti tulisan di atas, si Tommy sudah ada sejak jaman Angel Grove, jadi jaman MMPR original. Jadi selama ini dia sudah maen sebagai Power Ranger Hijau, Putih, Merah, Merah, dan terakhir ini Hitam.
And as usual black is the coolest color (mengingatkan pada warna hitam pada JetMan)! Entah kenapa di Dino Thunder, dengan potongan rambut pendek, dan berpakaian serba hitam (+lengan panjang untuk menutupi tato), Jason D Frank terlihat lebih dewasa, serius, dan keren dibandingkan peran2 sebelumnya.
Dan tentu kembali ke topik semula, this doctor can really kick (monster's) ass!
"Aren't you little old for this Tommy?"
"I may be old, but i can still pull it off."
Cool!
Wow! Serius?! Well tidak seperti di dunia nyata, tapi di dunia hmm semi nyata, arkeolog adalah pekerjaan yang menuntut tampang dan bodi yang rupawan belum lagi skill set yang akrobatik.
Sebut saja Mr(Dr). Indiana Jones, Mrs. Lara Croft
dan Mr. Nathan Drake <-- walaupun yang ini lebih mirip ke treasure hunter.
Tapiiiii........
Ada lagi yang tidak kalah beken.
Meet Mr(Dr). Tommy Oliver dari MMPR Dino Thunder. Alkisah setelah lulus dari Angel Grove High School, dia terus bersekolah, sambil nyambi jadi Power Ranger melawan monster2, masuk MIT dan mengambil PHD di palaentologi. Dan akhirnya menemukan artifak yang dipakai sebagai basis Power Rangers Dino Thunder. Cool huh?!
Tentu saja, apalagi dibandingkan dengan saya yang umur sudah segini tapi masih saja nongkrongin Power Rangers (tapi apa boleh kata seneng booo). Belum lagi otak full power saja tidak mampu masuk MIT, apalagi disambi melawan monster :(.
Wait.. apakah ini Tommy yang sama seperti Green Power Ranger dulu di jaman cinta monyet dengan Kimberly a.k.a Pink Ranger? Yup2, seperti tulisan di atas, si Tommy sudah ada sejak jaman Angel Grove, jadi jaman MMPR original. Jadi selama ini dia sudah maen sebagai Power Ranger Hijau, Putih, Merah, Merah, dan terakhir ini Hitam.
And as usual black is the coolest color (mengingatkan pada warna hitam pada JetMan)! Entah kenapa di Dino Thunder, dengan potongan rambut pendek, dan berpakaian serba hitam (+lengan panjang untuk menutupi tato), Jason D Frank terlihat lebih dewasa, serius, dan keren dibandingkan peran2 sebelumnya.
Dan tentu kembali ke topik semula, this doctor can really kick (monster's) ass!
"Aren't you little old for this Tommy?"
"I may be old, but i can still pull it off."
Cool!
Sunday, November 20, 2011
Minum (Kopi dan Teh)...
Yup ini bukan soal minum minuman bergelimang dosa, tapi minuman baik2. Memang perlu diakui selera terkadang berubah2. Kadang gw suka minum teh, kemudian ganti ke kopi, kemudian ke Mil*, kemudian balik lagi ke teh, dst.
Entah sudah semakin berumur, but i like my kopi to be thick! Karena ini Starb*cks lewat. Gw lebih suka *ld Town Coffee karena ada versi 'gao'(thick)-nya, tapi sayang disayang tidak datang dalam versi blended ala frapuccino.
Padahal dulu pas muda bela2-in ke Starb*cks, biar gengsi gitu.. Tapi ya namanya selera masih selera pembantu dan supir truk, jadinya kurang cocok sama yang terlalu elite2 gitu.
Kemarin ketika ke Penang, sempat mencoba Cameronian Tea (ya namanya di menu gitu) di Penang Hill. Awalnya gw pikir dari Cameroon.. so pingin nyoba, mana tau belakangan diberi tahu teman kalau ini kemungkinan besar dari Cameron Highlands a.k.a dari Malaysia situ2 juga. Rasa sih... hmm ga beda sama SariWang*. Makanya gw agak2 aneh, ini spesial dari mana??
Memang yang menarik dari teh adalah banyak sekali ragamnya. Dan bagi gw personal yang buta rasa, perbedaan rasa teh lebih terasa daripada kopi. Belum lagi ditambah adanya teh pelangsing yang dijamin bikin diare... mantap (bisa menikmati mules2-nya)!
Tapi cerita teh dan kopi terbaik masih datang dari tanah air sendiri, dan tidak usah menghabiskan uang berdolar-dolar.
Ketika muda dulu singgah di pasar Pagar Alam, dan sang supir ingin ngopi. Ya akhirnya turunlah kita semua di warung kopi di pasar tradisional. Mereka semua mesan kopi, dan gw masih ragu... ya maklumlah warung serba reyot, gelas ga tau dicuci di mana, dst dst. Walaupun akhirnya gw mesen segelas juga. Datang dalam gelas kecil dengan tatakan aluminium (yang biasa orang tuang ke situ terus sruput2).
Dan ketika gw minum... olalala...enaknyoo. Wangi benar2 asli kopi tanpa tetek bengek susu kental manis, krimer, dll. Benar2 aroma kopi kiloan di pasar2.
Entah karena biji kopi yang berbeda, atau karena suasana Pagar Alam yang begitu mempesona, tapi gw benar2 menikmati saat2 itu. Sore hari, orang2 udah bersiap2 pulang, dan sinar matahari sudah berubah menjadi oranye, benar2 magical.
Harga? Cuma 1000 perak per gelas.
Dan ketika kita pulang, kita mampir di perkebunan teh PTPN entah nomor berapa. Ada koperasinya di situ sekaligus numpang toilet. Rekan2 seperjalanan menganjurkan untuk membeli teh di situ, teh Gunung Dempo katanya, ya itung2 nyobain. Bungkus sederhana, cuman ada label PTPN, harga pun murah2 meriah. So gw pikir apa salahnya nyoba2. Bawa pulang 2 bungkus.
Gw tanya ke orang2 koperasinya, kalau teh-nya enak kenapa ga masuk pasar Indonesia. Mereka jawab mayoritas teh dari perkebunan ini di-ekspor (gw ga percaya <-- skeptis).
Dan tuh bungkusan gw bawa pulang sampe Tangerang karena teh-nya bukan teh celup, ribet bikinnya, belum lagi gw skeptis dengan merk 'PTPN'.. pemerintah getu looh.
Tapiiii.... ketika gw nyeduh bareng nyokap. Lagi2 OMG enaknyooo....Semua merk2 pasar model Sariwang*, L*pton lewat ke laut! It's good! Warna tehnya merah kuat, rasa berani dan masih terasa rasa2 daon-nya. Teh Sumatera memang beda (teh2 komersil umumnya dari perkebunan di Jawa)! Dan dalam sekejap dua bungkus teh itu ludes >.<.
Indonesia daerah terpencil...barang2-nya tidak serumit yang dijual orang2 di kota2 besar dan mal2 (mau itu kopi Jamaica, teh Maroko, Srilanka, pakai susu, krimer, melati, dll), tapi ada cita rasa sederhana yang kuat.
Dan mungkin karena gw semakin berumur, tapi makin hari gw makin menghargai hal2 seperti ini. Tidak peduli gengsi, tempat dan martabat, sesuatu yang bagus akan selalu bagus. Dan setiap kesempatan untuk menikmati sesuatu hanya berlangsung sekejap dan tidak mungkin terulang lagi. Karena itu kalau sekarang gw sruput2... terutama di tempat asing, gw berusaha untuk sruput2 dengan serius.
Memang tidak di semua tempat, tapi ada tempat di Indonesia dimana tongkat kayu dan batu benar2 jadi tanaman. Kadang sampai bergidik... koq bisa ada tanah sekaya ini.
Entah sudah semakin berumur, but i like my kopi to be thick! Karena ini Starb*cks lewat. Gw lebih suka *ld Town Coffee karena ada versi 'gao'(thick)-nya, tapi sayang disayang tidak datang dalam versi blended ala frapuccino.
Padahal dulu pas muda bela2-in ke Starb*cks, biar gengsi gitu.. Tapi ya namanya selera masih selera pembantu dan supir truk, jadinya kurang cocok sama yang terlalu elite2 gitu.
Kemarin ketika ke Penang, sempat mencoba Cameronian Tea (ya namanya di menu gitu) di Penang Hill. Awalnya gw pikir dari Cameroon.. so pingin nyoba, mana tau belakangan diberi tahu teman kalau ini kemungkinan besar dari Cameron Highlands a.k.a dari Malaysia situ2 juga. Rasa sih... hmm ga beda sama SariWang*. Makanya gw agak2 aneh, ini spesial dari mana??
Memang yang menarik dari teh adalah banyak sekali ragamnya. Dan bagi gw personal yang buta rasa, perbedaan rasa teh lebih terasa daripada kopi. Belum lagi ditambah adanya teh pelangsing yang dijamin bikin diare... mantap (bisa menikmati mules2-nya)!
Tapi cerita teh dan kopi terbaik masih datang dari tanah air sendiri, dan tidak usah menghabiskan uang berdolar-dolar.
Ketika muda dulu singgah di pasar Pagar Alam, dan sang supir ingin ngopi. Ya akhirnya turunlah kita semua di warung kopi di pasar tradisional. Mereka semua mesan kopi, dan gw masih ragu... ya maklumlah warung serba reyot, gelas ga tau dicuci di mana, dst dst. Walaupun akhirnya gw mesen segelas juga. Datang dalam gelas kecil dengan tatakan aluminium (yang biasa orang tuang ke situ terus sruput2).
Dan ketika gw minum... olalala...enaknyoo. Wangi benar2 asli kopi tanpa tetek bengek susu kental manis, krimer, dll. Benar2 aroma kopi kiloan di pasar2.
Entah karena biji kopi yang berbeda, atau karena suasana Pagar Alam yang begitu mempesona, tapi gw benar2 menikmati saat2 itu. Sore hari, orang2 udah bersiap2 pulang, dan sinar matahari sudah berubah menjadi oranye, benar2 magical.
Harga? Cuma 1000 perak per gelas.
Dan ketika kita pulang, kita mampir di perkebunan teh PTPN entah nomor berapa. Ada koperasinya di situ sekaligus numpang toilet. Rekan2 seperjalanan menganjurkan untuk membeli teh di situ, teh Gunung Dempo katanya, ya itung2 nyobain. Bungkus sederhana, cuman ada label PTPN, harga pun murah2 meriah. So gw pikir apa salahnya nyoba2. Bawa pulang 2 bungkus.
Gw tanya ke orang2 koperasinya, kalau teh-nya enak kenapa ga masuk pasar Indonesia. Mereka jawab mayoritas teh dari perkebunan ini di-ekspor (gw ga percaya <-- skeptis).
Dan tuh bungkusan gw bawa pulang sampe Tangerang karena teh-nya bukan teh celup, ribet bikinnya, belum lagi gw skeptis dengan merk 'PTPN'.. pemerintah getu looh.
Tapiiii.... ketika gw nyeduh bareng nyokap. Lagi2 OMG enaknyooo....Semua merk2 pasar model Sariwang*, L*pton lewat ke laut! It's good! Warna tehnya merah kuat, rasa berani dan masih terasa rasa2 daon-nya. Teh Sumatera memang beda (teh2 komersil umumnya dari perkebunan di Jawa)! Dan dalam sekejap dua bungkus teh itu ludes >.<.
Indonesia daerah terpencil...barang2-nya tidak serumit yang dijual orang2 di kota2 besar dan mal2 (mau itu kopi Jamaica, teh Maroko, Srilanka, pakai susu, krimer, melati, dll), tapi ada cita rasa sederhana yang kuat.
Dan mungkin karena gw semakin berumur, tapi makin hari gw makin menghargai hal2 seperti ini. Tidak peduli gengsi, tempat dan martabat, sesuatu yang bagus akan selalu bagus. Dan setiap kesempatan untuk menikmati sesuatu hanya berlangsung sekejap dan tidak mungkin terulang lagi. Karena itu kalau sekarang gw sruput2... terutama di tempat asing, gw berusaha untuk sruput2 dengan serius.
Memang tidak di semua tempat, tapi ada tempat di Indonesia dimana tongkat kayu dan batu benar2 jadi tanaman. Kadang sampai bergidik... koq bisa ada tanah sekaya ini.
Wednesday, October 26, 2011
Punya Anak (lagi)...
Selalu tidak habis pikir kenapa orang miskin selalu punya anak banyak? Bukan menghina, tapi selalu terkagum2 dengan tayangan dokumentasi ketika orang tuanya tinggal di gubuk dan anaknya sampai 7-8 orang?
Bagaimana mungkin ketika ruang hidup semakin mahal? Silahkan tanya harga rumah 3-4 kamar di Jakarta, rasa2-nya sudah tembus 1M. Lha ini sampai 7 orang?
Bagaimana pendidikan, bagaimana kesehatan, bagaimana yang lain2?
Dulu pas masuk gw mau masuk kedokteran rasa2-nya bayar sekitar 30 juta-an. Terus dengar2 sekarang ada yang masuk kedokteran bayar hingga 300 juta (uni yang sama)? Iiih amit2 tak sudi kalau gw di-gituin.
"Ah nanti sekolahnya di negeri aja Dy...", ada yang pernah berkata begitu, ketika gw tanya bagaimana dia ngurusin sekolah anaknya.
Suatu eksklusifitas yang gw tidak bakal punya. Bukan bermaksud menjelek2-an sekolah negeri (walaupun maaf to say... memang jelek), tapi rasa2-nya kalau target adalah sesuatu yang sudah di-subsidi, seperti sudah mengambil hak orang lain.
Suatu kebijakan yang gw tidak terlalu suka dari pemerintah Indonesia.
Pendidikan murah, biaya kesehatan murah memang penting. Tapi lebih penting lagi adalah kesadaran bahwa segala yang disediakan itu harus diusahakan dan tidak jatuh dari langit.
Gw lebih setuju kalau subsidi hanya disediakan hingga batas anak kedua. Anak ketiga dan seterusnya seharusnya tidak menjadi tanggung jawab negara.
Fokus ke dua anak per penduduk dan bagaimana membangun sumber daya ini dengan benar dan sungguh2.
Pernah baca di satu media kalau KB itu adalah skenario zionis untuk membatasi populasi ... Ah sudahlah cape membacanya.
Kebijakan demografis bukanlah kebijakan instan, bikin kebijakan sekarang, dan langsung bisa melihat perubahan. No no.. lebih ke bikin kebijakan sekarang, 20-30 tahun baru bisa melihat perubahan.
Dan rasa2-nya 20-30 tahun lagi kita bisa melihat ecological disaster di mana2. Cool huh? Dan yang miskin yang terkena dampak paling besar. Tapi tenang, toh kita2 bakal sudah tua, obesitas, dan tinggal menunggu waktu saja. Tapi kalau punya anak yang pintar, waras, dan kritis mereka akan bertanya kenapa mewarisi dunia yang seperti ini?
Orang tua kita berkata bahwa mereka tidak tahu bahwa kita akan mewarisi dunia seperti ini. Dan rasa2-nya kita pun akan sama tolol-nya.
Kita akan berkata bahwa kita tidak bisa berbuat apapun. Hanya bisa bertahan hidup, mengikuti apa yang masyarakat mau.
Dulu ketika masih kecil, naik feri Lampung-Jakarta, bisa melihat lumba2 berenang di samping kapal. Ketika sudah besar, dan gw naik feri kembali dengan rute yang sama, gw hanya bisa melihat ubur2. Pertanda sudah ada sesuatu yang salah dengan laut.
Ada yang berkata bahwa sekarang sudah terlambat untuk berharap hidup harmonis dengan alam.
I am angry. Dan gw bingung dengan orang2 yang punya anak. What do you want for your kids to see in the future? This world? Or you always think there will be a better tomorrow?
Tomorrow will always be there, but it has to be built, and are we building it the correct way?
Kita perlu masa depan dimana orang2 bisa hidup bermartabat, dan yang jelas tidak miskin. Apakah sumber daya alam cukup untuk men-support kebutuhan ini? Dan kita juga berbagi dengan jutaan mahluk hidup lain yang juga perlu hidup bermartabat.
Skeptis dan bitter, gw selalu berpendapat.. punya anak karena pernikahan ga bakal survive without anak. Parents perlu sesuatu untuk dijadikan common goal... so both of the parents can struggle together. Kalo ga gitu ya bosen lah.. terus selingkuh deh.
Is it?? Yang gw lihat sih begitu, dan akhirnya si anak-lah yang menjadi korban.
Egois.
Bagaimana mungkin ketika ruang hidup semakin mahal? Silahkan tanya harga rumah 3-4 kamar di Jakarta, rasa2-nya sudah tembus 1M. Lha ini sampai 7 orang?
Bagaimana pendidikan, bagaimana kesehatan, bagaimana yang lain2?
Dulu pas masuk gw mau masuk kedokteran rasa2-nya bayar sekitar 30 juta-an. Terus dengar2 sekarang ada yang masuk kedokteran bayar hingga 300 juta (uni yang sama)? Iiih amit2 tak sudi kalau gw di-gituin.
"Ah nanti sekolahnya di negeri aja Dy...", ada yang pernah berkata begitu, ketika gw tanya bagaimana dia ngurusin sekolah anaknya.
Suatu eksklusifitas yang gw tidak bakal punya. Bukan bermaksud menjelek2-an sekolah negeri (walaupun maaf to say... memang jelek), tapi rasa2-nya kalau target adalah sesuatu yang sudah di-subsidi, seperti sudah mengambil hak orang lain.
Suatu kebijakan yang gw tidak terlalu suka dari pemerintah Indonesia.
Pendidikan murah, biaya kesehatan murah memang penting. Tapi lebih penting lagi adalah kesadaran bahwa segala yang disediakan itu harus diusahakan dan tidak jatuh dari langit.
Gw lebih setuju kalau subsidi hanya disediakan hingga batas anak kedua. Anak ketiga dan seterusnya seharusnya tidak menjadi tanggung jawab negara.
Fokus ke dua anak per penduduk dan bagaimana membangun sumber daya ini dengan benar dan sungguh2.
Pernah baca di satu media kalau KB itu adalah skenario zionis untuk membatasi populasi ... Ah sudahlah cape membacanya.
Kebijakan demografis bukanlah kebijakan instan, bikin kebijakan sekarang, dan langsung bisa melihat perubahan. No no.. lebih ke bikin kebijakan sekarang, 20-30 tahun baru bisa melihat perubahan.
Dan rasa2-nya 20-30 tahun lagi kita bisa melihat ecological disaster di mana2. Cool huh? Dan yang miskin yang terkena dampak paling besar. Tapi tenang, toh kita2 bakal sudah tua, obesitas, dan tinggal menunggu waktu saja. Tapi kalau punya anak yang pintar, waras, dan kritis mereka akan bertanya kenapa mewarisi dunia yang seperti ini?
Orang tua kita berkata bahwa mereka tidak tahu bahwa kita akan mewarisi dunia seperti ini. Dan rasa2-nya kita pun akan sama tolol-nya.
Kita akan berkata bahwa kita tidak bisa berbuat apapun. Hanya bisa bertahan hidup, mengikuti apa yang masyarakat mau.
Dulu ketika masih kecil, naik feri Lampung-Jakarta, bisa melihat lumba2 berenang di samping kapal. Ketika sudah besar, dan gw naik feri kembali dengan rute yang sama, gw hanya bisa melihat ubur2. Pertanda sudah ada sesuatu yang salah dengan laut.
Ada yang berkata bahwa sekarang sudah terlambat untuk berharap hidup harmonis dengan alam.
I am angry. Dan gw bingung dengan orang2 yang punya anak. What do you want for your kids to see in the future? This world? Or you always think there will be a better tomorrow?
Tomorrow will always be there, but it has to be built, and are we building it the correct way?
Kita perlu masa depan dimana orang2 bisa hidup bermartabat, dan yang jelas tidak miskin. Apakah sumber daya alam cukup untuk men-support kebutuhan ini? Dan kita juga berbagi dengan jutaan mahluk hidup lain yang juga perlu hidup bermartabat.
Skeptis dan bitter, gw selalu berpendapat.. punya anak karena pernikahan ga bakal survive without anak. Parents perlu sesuatu untuk dijadikan common goal... so both of the parents can struggle together. Kalo ga gitu ya bosen lah.. terus selingkuh deh.
Is it?? Yang gw lihat sih begitu, dan akhirnya si anak-lah yang menjadi korban.
Egois.
Sunday, October 23, 2011
Kado...
Semakin bertambah umur entah kenapa semakin sulit menghadiahi orang sesuatu.
Dulu rasanya ketika muda kita menerima banyak kado ketika ultah. Entah kenapa setelah dewasa paling2 hanya mentraktir, ucapan selamat, dan kalau ada kado itupun berupa makanan.
Ketika menikah pun sudah lazim hanya memberikan 'mentah'nya saja berupa amplop sogokan aparat keamanan.
Padahal sejujurnya gw masih mem-favorit-kan kado barang. Walaupun gw tahu hal ini merepotkan sekali. You just don't want to risk giving out trash to other people.
Walaupun untuk your enemy you definetly want to give trash.
Harus riset, orang yang akan diberi minat dan interest-nya di mana. Dan terkadang gw tidak bisa menemukan kado at all.
Ketika sepupu ultah minggu2 kemarin, dan pada akhirnya gw memutuskan akan mencari kado. Harus muter dulu satu dept. store, dan pada akhirnya gw memutuskan untuk melihat opsi jam tangan.
Secara yang mau dikasih anak cewe remaja, so gw skip merk2 terlalu dewasa seperti CK, Guess, Bur-ket, dll..
Ketika sales girl-nya bertanya mau ngasih siapa, gw menjawab anak cewe 15-16 tahun (umur aja gw lupa). Dan dia kemudian menunjukkan opsi2 pilihan yang mana menurut gw terlalu terlihat kekanak2-an.
Akhirnya mata gw terus tertuju ke satu jam tangan. Strap-nya sporty, tapi jam-nya analog. Kombinasi aktif dan sophisticated, which I like. Bukan jam tangan sport, lebih ke arah gaya, tapi masih mencerminkan gaya yang sporty ketimbang profesional.
Dan sayangnya kutukan mata gw adalah seperti yang dikatakan nyokap: "Mata lu pinter ngeliat barang bagus tapi ga pernah murah."
Gw merasa ragu sesaat. Kalau sweet 17 boleh lah ngasih begini, tapi kalau cuma ultah reguler 15 / 16 taon?
Tapi ya akhirnya what the hell... angkut juga itu jam tangan. Secara kalau gw cewe, gw angkut juga itu jam.
Daaaaan..... ketika akhirnya gw ngasih. Gw salah itung!!! It was sweet 17! OMG! What a nice co-incidence.
Kadang2 lu terheran2 dengan 'kebetulan2' aneh yang terjadi.
Dulu rasanya ketika muda kita menerima banyak kado ketika ultah. Entah kenapa setelah dewasa paling2 hanya mentraktir, ucapan selamat, dan kalau ada kado itupun berupa makanan.
Ketika menikah pun sudah lazim hanya memberikan 'mentah'nya saja berupa amplop sogokan aparat keamanan.
Padahal sejujurnya gw masih mem-favorit-kan kado barang. Walaupun gw tahu hal ini merepotkan sekali. You just don't want to risk giving out trash to other people.
Walaupun untuk your enemy you definetly want to give trash.
Harus riset, orang yang akan diberi minat dan interest-nya di mana. Dan terkadang gw tidak bisa menemukan kado at all.
Ketika sepupu ultah minggu2 kemarin, dan pada akhirnya gw memutuskan akan mencari kado. Harus muter dulu satu dept. store, dan pada akhirnya gw memutuskan untuk melihat opsi jam tangan.
Secara yang mau dikasih anak cewe remaja, so gw skip merk2 terlalu dewasa seperti CK, Guess, Bur-ket, dll..
Ketika sales girl-nya bertanya mau ngasih siapa, gw menjawab anak cewe 15-16 tahun (umur aja gw lupa). Dan dia kemudian menunjukkan opsi2 pilihan yang mana menurut gw terlalu terlihat kekanak2-an.
Akhirnya mata gw terus tertuju ke satu jam tangan. Strap-nya sporty, tapi jam-nya analog. Kombinasi aktif dan sophisticated, which I like. Bukan jam tangan sport, lebih ke arah gaya, tapi masih mencerminkan gaya yang sporty ketimbang profesional.
Dan sayangnya kutukan mata gw adalah seperti yang dikatakan nyokap: "Mata lu pinter ngeliat barang bagus tapi ga pernah murah."
Gw merasa ragu sesaat. Kalau sweet 17 boleh lah ngasih begini, tapi kalau cuma ultah reguler 15 / 16 taon?
Tapi ya akhirnya what the hell... angkut juga itu jam tangan. Secara kalau gw cewe, gw angkut juga itu jam.
Daaaaan..... ketika akhirnya gw ngasih. Gw salah itung!!! It was sweet 17! OMG! What a nice co-incidence.
Kadang2 lu terheran2 dengan 'kebetulan2' aneh yang terjadi.
Subscribe to:
Posts (Atom)


