Sunday, October 17, 2010

Ironi Rabies

Antara geram, marah, sedih, ketawa, dan ironi membaca berita hari ini. Lagi2 ada yang tewas karena rabies di Bali. Entah karena bego, miskin, atau terlalu pintar, tapi sudah banyak korban mati seperti tikus karena kasus ini.

Alasannya? Stok vaksin anti rabies (VAR) habis....

Ya olo... kenapa orangnya ga sekalian disuntik mati di tempat aja? Menunggu berlama2 menderita rabies?

Ceritanya kira2 begini: virus rabies akan menjalar dari tempat gigitan melalui jaringan syaraf sampai ke otak. Pada saat awal pemberian VAR akan membantu, tapi kalau virus sudah sampai jaringan syaraf pusat... sudah mending siap2 beli peti mati. In plain words: it is uncurable.

Terus tinggal nunggu orangnya kejang2, phobia air, cahaya, nyaris seperti orang gila yang kadang2 sampai harus diikat di tempat tidur... dan akhirnya mati juga.

Kalau gw? Mending gw ngambil opsi euthanasia... oh wait.. ga boleh di Indonesia, karena Indonesia negara beragama...kampret! Terus darimana versi agama bisa membantu dalam hal ini? Ada mujizat dari atas orang bisa sembuh dari rabies?

Heran koq masalah ini ga dianggap serius sih, Masih bisa ada alasan cempreng kehabisan VAR. Yang namanya daerah endemik, penyakitnya mematikan pula, koq bisa2-nya ngga ada persiapan.

Kapan Indonesia bisa bebas rabies? Mimpi.....butuh 10-15 tahun dari kasus rabies terakhir supaya sebuah negara dinyatakan bebas rabies.
Apa untungnya sebuah negara bebas rabies? Well sebagai pencinta binatang, itu berarti binatang peliharaan bisa bebas travelling ke negara2 sesama bebas rabies tanpa proses karantina.

Anjing Singapur bisa bebas travelling ke Jepang, Inggris, Australia, etc.
Anjing Indonesia, duileeee......

Mungkin jauh kali ya ngomong anjing, orangnya aja masih sering disangka teroris...