Saturday, October 02, 2010

Q! is a Culture

Menyimak berita mengenai drama FP* dengan penyelenggara Q! Film Festival dan komentar menteri terfavorit-ku mengenai hubungan antara homoseksual dan HIV/AIDS, sulit rasanya tidak berkomentar.

Entah pernah denger atau baca dari mana judul blog ini, tapi pada akhirnya gw setuju. Q! is now transforming from a disgusting, sinful, abnormal (therefore the original word: queer) actions into a culture. Dan sebagai culture mau tidak mau ini menjadi bagian dari kehidupan sehari2. Pengaruh barat? Ah tidak juga. Seperti yang kita ketahui bersama yang namanya homo ada di mana saja. Pengaruh barat yang mungkin positif (dan mungkin juga negatif) adalah keterbukaan dalam membicarakan hal ini.

Kenapa menjadi kebudayaan? Gampang..they have their own cultural products. Sebut saja contohnya buku, musik, film, pariwisata, bisnis ('pink dollar' business), busana, komunitas, dan juga riset dan pendidikan (yes there is research and education in gay culture...confirmed =)). Cakupannya menjadi lebih luas dari sekedar seks di tempat tidur dibalik pintu yang tertutup.

Kalau sudah begini, gw memang bisa berempati terhadap para pembela kebenaran dan keadilan, badan2 keagamaan, dan orang2 kolot ini. Karena nilai2 yang mereka anut dalam serangan yang luar biasa hebat. It's ok, it's understandable.

TAPI apakah ini efektif? The answer is a big NO. Di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini, material Q! bisa diperoleh dimana saja dan kapan saja. Tinggal buka internet dan wussh dengan jejaring sosial seorang Q bisa berhubungan dengan Q di mana saja. Komunitas terbentuk, pasar terbentuk dan alur material terbentuk.
Kalaupun Q! culture dibatasi dengan instrumen hukum dll (misal..kalau mau diterapkan hukuman gantung untuk Q), ini akan berdampak negatif terhadap Indonesia sendiri. Kata sederhana, uang dan orang yang seharusnya masuk dan berputar di Indonesia akan lari ke negara lain. Silahkan kalau Indonesia bisa menanggung dampak ini.

Di era milenium ini, tidak lagi bijak mengatakan my culture YES, your culture NO. As long as your culture is profitable, lets TALK. Ini terjadi dimana2! Ketemu klien orang Korea ya dijamu di restoran Korea dan makan kimchi, ketemu klien orang Jepang ya belajar bilang 'arigatou', ketemu klien orang Cina ya belajar bilang 'ni hao'. Bisa punya bisnis yang bilang: 'Oh no..saya tidak mau punya klien orang XXXX', silahkan dan bisnis anda akan dituduh rasis, dan pelanggan akan lari ke kompetitor. Ini dunia yang cuma selebar daun kelor!

Dan Q!? Apalagi! Sudah bukan jamannya mengatakan Q! sebagai sesuatu yang hina, salah, dosa dan perlu dinormalkan. Q! can be everyone, seorang bos, penata rambut, guru, dokter, ahli bedah, tukang masak, ilmuwan roket, teman, suami, istri, anak, dll. How can you say NO?!

Start talking, start discussing, and start understanding.

Sunday, September 12, 2010

Piracy: Industry vs. Consumer in Digital Age

I have to admit I was surprised the first time I heard Monkey D. Luffy say "I wanna be a pirate!". In this kind of modern age where children are supposed to be educated that law is above everything, and now you are talking about being a pirate? And in addition challenge the World Government?

However I share the same dream. I do believe that the current world's order should come to an end. Or it should be revolutionized. One person once mentioned that the greatest challenge of current age is not about inventing, but merely about harmonizing. And in my mind: Terminator's version of SkyNet, global nuclear detonation, and years of nuclear winter should get the jobs done. Yes...harmonize.....

The first time I heard about copyright law, DRM or whatsoever they called it, I was skeptical (perhaps as always). I still remember how the press covered it and the goverment mentioned it as a guarantee of intellectual property. It was like "without this law, we will have no future..." However I see it as something that pretend to act good and put everything in order, but merely a facade to cover up deeper and broader greed of the industry.

And now, yes it is ridiculous, so ridiculous even sickening that I sympathize with the 'P' version. Recently we saw mass lawsuits to downloaders of Oscar winning 'Hurt Locker' which turns the business model upside down: legal blackmailing. They even set up a portal where the alleged file-sharers can 'pay or else' with major credit cards accepted.

Ask a Singaporean about pale anime environment and he/she will point out to 2007 Odex's saga which scars the entire country up until now. Upon hearing the story I even asked ' Is the owner Singaporean?', since I couldn't fathom what kind of person would do such horrible things and expect to survive the aftermath in such a small country.

As for the computer game, I loathe at the ridiculous DRM that the company implemented. When Ubisoft dictates that every game should be played with internet connection, I bulked out and farted. I don't even want to see their new launch of Settlers 7. Ok, should I be sorry that I live in country with crappy internet connection but at the same time is one of the most expensive in the region (read: world)? I buy your game in this is how you treat me? Ask me to spew more money FOR PLAYING it?
Fortunately for EA they've changed their stance. I found DA:O as acceptable and bought the original copy. Compared to Spore which almost made me fainted with its limited 3 times installation (even God knows you will install and uninstall game to free up some space and 3 times?? WTFH!!).

And you think that you can go back to the mommy and daddy's good ol' days when you can see the worth of your 'collections'. Nowadays? It is all a total junk, since they came up with the terms of 'selling the license' instead of 'selling the software', and the license agreement strips your ability to resell the software. So once you're bored, it should go right to the trash bin.
Gone all those good lending days, and even the very concept of library is under attack (see above link).

I really don't want to understand this digital age.

Saturday, August 28, 2010

Karakter...karakter

Entah kenapa semakin ke sini makin benci rasanya dengan FF. Karakternya dari FF X sampe ke sini pooool selalu saja yang cewe cantik2 en yang cowo langsing2 dengan rambut warna warni ga jelas. Pliissss....karakter non-human pun menghilang semua, ga ada lagi yang seperti Vivi (FFIX) or Cait Sith (FFVII). En no! I don't like Advent Children!

Herr...padahal game2 lain sudah maju pesat!
Coba lihat Resident Evil dari Capcom. Mereka mau men-develop karakter. Leon dipakai ulang di RE-4 dan Chris di RE-5. Dan hasilnya? Gw aja yang benci dengan game shooting "terpaksa" maen dengan tangan berkeringat, dan jantung yang deg2-an. Setiap kali maen ga bisa lama2, dan harus lari berputar2 sambil teriak2 "oh tidak..oh tidak..".


It's how they put the characters together! Jenius! Leon dengan Ada Wong cocok banget dengan latar Eropa (Timur?), dan Chris dengan Sheva cocok banget dengan latar belakang Afrika. And I dont know if somebody also realize that Chris has buffed up so much! Pas maen gw seperti "Uh hello Chris...I can't see because your biceps are soooooo freakin HUGE." Beda rasanya dengan RE dulu ketika dia masih muda, polos, dan culun.

Gw jadi berpikir tujuh belas kali untuk beli PS3, belum lagi game yang diincer hanya God of War III. Itu pun kalo ngga keluar versi PC-nya, yang sapa tau bakal keluar nantinya.
Game2 Amerika menurut gw mulai strike-in beautifully.

Bisa dilihat Prince of Persia remake buatan Ubisoft. Ok, gw maen PoP semenjak PoP classic buatan Jordan Mechner. Pas maen Sands of Time gw sih masih ok...ini menarik, tapi biasa aja. Tapi begitu melihat Warrior Within, rahang jatoh! OMG it's so cool! The Prince has changed so much dari polos menjadi penuh kejahatan. Belum lagi combo dengan gerakan2 yang sadis dan mematikan. Dan semenjak itu I'm a big fan!

Belum lagi gw suka eksplorasi Ubi di PoP 2008. Ok, gameplaynya rada jelek karena mengingatkan pada Sonic the Hedgehog ala Sega yang harus ngumpulin gold ring, cuma sekarang namanya light orb.
Tapi karakternya..mak jang, susah untuk tidak jatuh cinta dengan "Prince" dan Elika. Terutama dengan joke2 konyol antara mereka berdua.Dan fighting-nya, gw bilang keren bow! Menari2 dengan sinar di mana2, romantis tapi mematikan...keren2. Bener2 menghidupkan suasana "the magic of Persia".

Dan untuk bidang RPG, sori FF sekarang lu ke laut aja, gw bener2 suka sama Dragon Age: Origins dari BioWare EA. Awalnya gw sempet skeptis karena ada bau2 EA-nya, dan gw tidak senang dengan bagaimana EA menghancurkan Red Alert dan C&C pasca akuisisi Westwood Studio. Tapi Ok-lah Bioware nama besar dibalik Baldur's Gate dan Neverwinter Night (gw ngga maen Mass Effect).

Begitu maen... jatuh cinta! Walaupun ceritanya standar Lord of the Ring (go find the human, elves, and dwarves), tapi karakternya dan storyline-nya bo, bener2 kuat (buat yang tau betapa hebatnya Bioware dalam lore creation)! Gw bener2 suka Alistair dan Morrigan (dan melihat mereka bertengkar). Well Morrigan is a cold and heartless b*tch, sementara Alistair is a noble and kind-hearted man, well stupid also.

"And now we have a dog. And Alistair is still the stupidest member of the party." --Morrigan, after acquiring Duncan

Ngebawa mereka berdua dalam party bener2 bikin pusing kepala, tapi bikin ketawa! Dalam sekejap gw kecanduan. Bener2 thumb up untuk game ini.

En gw menanti2 sekuel Dragon Age II. Dari trailernya sudah cukup membuat "terangsang". En yup the voice talent is Flemeth a.k.a Kate Mulgrew! Kalo ada yang belum tau, she was Captain Kathryn Janeway of the federation starship Voyager.


Well untuk sementara ini gw stick dengan PC game.

Wednesday, August 25, 2010

Phobia Air

"Koq lu ngga nyoba diving sih, kan lu bisa berenang?"

Doh...gimana yah? Mau bilang takut malu, tapi memang takut.
Banyak yang ngga tau, berenang sih berenang, tapi yang namanya air itu ngga pernah baik sama gw.

Dulu waktu masih muda sekali masa Soeharto di Bengkulu, pernah berenang di pantai sendirian. Yup Pantai Panjang lagi bow...yang notorious setiap tahun pasti makan korban....dan sebenarnya sudah diperingatkan sama orang tua, kalau berenang jangan jauh2 ke tengah.
Tapi waktu itu ngga jauh2 amat koq, setinggi dada airnya, cuma yang salah adalah ga liat jam. Secepat kilat ombaknya tiba2 membesar, awalnya sih asyik..asyik seru...dan datanglah yang jumbo size dan saat itu juga sadar kalau gw tidak akan selamat dari yang satu ini.

Dan terjadilah kejadian tergulung ombak. En seperti yang semua beach boi ketahui bersama, tertimpa ombak bukanlah hal yang terburuk, tapi begitu kaki lepas dari tanah dan terseret ombak ke tengah adalah hal yang paling ditakuti. Kayanya ini penyebab utama turis2 pada koit di pantai, dan membuat mitos sang Pantai minta korban setiap tahun...dan kali ini Cina pula...so uncool. Kebayang kan headline koran "Pantai Panjang Mengambil Tumbal Anak Cina Gendut Pula."

Begitu dunia tenang, kaki sudah tidak bisa menginjak pasir lagi. Dicoba melorotkan badan ke bawah untuk mencek kedalaman tetap ngga bisa nginjak dasar, buset! Cepat2 berenang ke permukaan, dan alamak.....mau nangis rasanya....pantai-nya jauh banget! Ternyata pasang sudah masuk dan pantainya sudah maju jauh sekali! Panik dan mau coba teriak "Tolong..tolong", tapi noleh kiri kanan...ga ada orang! Teriak pun percuma. Mau menyerah saja, tapi pikiran menghabiskan malam di tengah laut lebih menakutkan daripada mati mencoba.
Dan akhirnya setelah berenang, digulung dan diseret ombak lagi, akhirnya sampai ke tepi pantai. Sendal sudah hilang ditelan pasang, untung hanya sendal jepit.

Pengalaman buruk kedua terjadi di kolam renang! Ini sudah agak besar sedikit, malam2 sekitar jam 8 di kolam renang sebuah klub golf. Sepi alias ga ada orang juga, dan saat itu dengan pede-nya ngambil lane di tengah. Berenang2 dan terjadilah hal yang dinantikan semua perenang pemula, kram di kaki kiri. Saat itu masih tenang2 dan memperkuat kaki kanan. Boom! Tiba2 kaki kanan kram, tinggal dua tangan. Sudah OMG! OMG! saat itu.

Tangan gerak2 supaya ngapung namun tidak berlangsung lama. Tangan kanan pun mulai kram. Panik! Tambah buruk, dan akhirnya tangan kiri menyusul. Waktu itu punya pikiran woalah...koq bisa sesial ini!

Sakitnya....walah2...kram di empat ekstrimitas, sudah ga bisa apa2. Badan sudah melesak tenggelam di kolam. Kepala muncul2 dan mau teriak tolong pun ngga ada orang, air sudah terminum berkali2. Mau menyerah juga, tapi waktu itu berpikir sakit lebih baik daripada mati. Dan yang penting hanya mencari posisi ngapung yang notabene mudah. So dengan menahan sakit...huff..huff...akhirnya bisa mengapung terlentang. Dari sana sudah gampang lah.

Pas sudah besar tapi masih muda terjadi lagi kejadian. Kali ini pertama kali gw berenang di sungai. OMG! Ga henti2nya kecelakaan...tapi kali ini bukan gw yang ketiban sial, tapi tetap saja traumatis.
Diajak mantan kantor outing di Pagar Alam Sumatera, secara kesempatan untuk rafting di sungai Sumatera ga sekali seumur hidup gw oye2 saja. Sungainya baguuus....sayang secara mau pergi rafting, kamera gw tinggal.
Ceritanya gw termasuk kloter yang paling akhir, which was cool karena isinya anak2 muda semua. Manajer2 yang sayang kalau mati masuk kloter pertama yang penjagaannya ketat. Begitu kita sampai di sungai sudah ada yang duduk2 di batu di seberang sungai.

Karena sungainya bersih gw betul2 berpikir untuk turun dan mau ke batu tsb. Cebur!...Tapi gw bukan yang pertama, ada rekan yang lebih dulu masuk ke air. Ok lah gw nyusul di belakang saja. Awalnya gw pikir dia tau kondisi lah bo...wong Palembang asli koq..badannya lebih gede dari gw, item lagi (ya ciri khas outdoor boi lah...).

Dan sampai ke tengah lewat sedikit, terjadilah yang dinanti2-kan! Dia mulai megap2. Yup kram! Ok dari gw pribadi: kondisinya memang sangat kondusif untuk kram. Kita jalan turun lembah yang cukup curam, air sungainya dingin, plus arus yang bikin orang tidak sadar mengeluarkan usaha lebih. Tapi karena manajemen kram gw sudah sangat2 Ok pasca kejadian konyol nyaris tenggelam di kolam renang..gw sih fine2 aja.

Pas dia kram gw berharap dia bisa recovery sendiri, jadi gw cuma berenang2 di sekitar dia. Tapiii....dianya tambah kacau. Kepala bisa sampai di bawah air en kita mulai hanyut. Waktu itu yang pertama terlintas adalah penyelamatan kampungan. Gw berharap bisa ngangkat dia dari bawah air, nendang dari dasar dan ngangkat badan dia untuk sesaat. Lumayan untuk recovery pernafasan. Lagi sungainya juga sedalam apa sih, kita cuma berapa meter dari tepi.

Tapi salah besar! Begitu gw masuk, kaki gw ga bisa nyentuh dasar! Tinggi badan gw ga pendek2 amat dan kapabilitas gw masuk ke dalam air juga sangat tidak jelek. Walah gw baru sadar ini sangat2 serius. Koq sungai sekecil ini bisa berubah kedalaman sedrastis ini.

Kembali ke atas, gw tiga perempat berharap ada orang lain yang melakukan pertolongan. Plis lah..masa gw...punya reputasi orang kantoran, orang kota...Cina pula. Lagian di situ ada orang2 keren koq: surveyor gw, orang konstruksi, dll. Tapi Ok lah... gw bisa koq.

Ga panik sih, lepas kacamata dulu, pegang dengan manis di tangan. Gw tau sih orangnya megap2 antara hidup dan mati, tapi ga bakal lah ilang dari gw. Masuk ke dalam air dan huff..yup tangan masuk dari bawah ketiak, dan dia ga bisa ke mana2 lagi. Tinggal dorong dada ke depan, en dia di atas gw. Loh darimana belajarnya? Plis deh...lu ngomong sama siapa gethu looh..

Sayangnya dia masih meronta2 dooh! Padahal bagian dada ke atas udah di atas air, mungkin gejala sakaw air sungai. Gw sampai harus ngencengin tangan, dan plek...kacamata patah! Damn! Secara badannya lebih gede dari gw! Sampe gw mesti ngomong ke dia "kalem..kalem.." En untungnya akhirnya dia kalem.

Lebih buruk? Lalalala...kita mulai hanyut ke arah jeram! Gw ga bisa berenang melawan arus sekuat itu dengan ngegandeng orang segitu gede di atas gw. Mulai panik. Tapi gw ngeliat jeramnya. Untung seribu untung ga jelek! Dengan buih segitu banyak, en arus sekuat ini...pasti dangkal! Jadi waktu itu... ya sudahlah ambil resiko saja..biarkan hanyut ke sana.

Tapi untung juga resikonya ga perlu diambil. Perjalanan hanyut ke jeram bisa ditunda2 dengan berenang sedikit2. Dan selang berapa lama si rekan sudah mulai recovery dan akhirnya bisa berenang lalu jalan ke pinggir melalui batu2. Yang laen pada tepuk tangan, dan gw bilang "Kampret lah.."

Tentu setelah itu gw mengkronfrontir (mantan) team gw.
"Gw ga bisa berenang Duz..naek tower sih bisa.."
"Lah terus koq lu pade bisa ke seberang?"
"Tadi sama mas guide-nya, ditarik pake perahu. (maksutnya mas-nya berenang narik perahu yang isinya mereka)"
"Woalah jadi kita berdua yang pertama turun ke sungai?"
"Iya.."

Kampret tiga belas! Dan dari situ gw trauma untuk turun ke sungai.

Entah kenapa dengan air selalu berada dalam love-hate relationship. Dan sejujurnya jantung gw belum kuat dengan diving.

Monday, August 23, 2010

Summer Memory 3

Inspired by Illustration Friday's this week theme: "Atmosphere", and this great song from MISIA featured in Star Ocean Till the End of Time (great RPG, great song, great singer): 飛び方を忘れた小さな鳥.

However I'm so bad with color...AAARRGGHH!!!!

Saturday, August 21, 2010

Summer Memory 2

Decided to give the guys some hobby, and out of all options I choosed string quartet!

Geez how I envy them...I want to learn violin someday!

Friday, August 20, 2010

Summer Memory


Trying desperately to draw guys (gays) from last "One Kiss" + color = die!
Paintbrush + Sotosop

Thursday, August 12, 2010

Love at the first sight




The prince and the swan...

Sunday, August 08, 2010

Karaoke Time!

This song need not any translation, so wrong yet so amazing!

The title is "Jizz In My Pants" by thelonelyisland.



Really think those guys are in serious PE condition!

Thursday, August 05, 2010

One Kiss

Mulai gores2 dan........
ketagihaaaaan.....!!

Menerima Undangan

Crayon dan pensil...

Friday, July 30, 2010

Menggugat Cerita Malin Kundang

Entah kenapa rasanya eneg melihat cerita ini sekarang. Termasuk di dalamnya cerita2 durhaka lah dikutuk keq dan teman2-nya. Mungkin perlu ditanya Malin kamu makan apa dari kecil? Naif sekali kalau rasa2nya kamu hanya silau karena harta dan wanita. Dan kalau (dalam hal ini) Tuhan membabi buta mengabulkan kutukan sang Ibu, mungkin surgaNya yang diletakkan di bawah kaki sang Ibu bukan tempat yang patut dijadikan tujuan akhir.

Mungkinkah Malin tahu kalau ibunya tidak akan setuju semisal dia menikah dengan wanita yang bukan keturunan Cina Minang? Daripada istrinya dicaci maki karena masalah fisik yah lebih baik tidak bertemu?

Mungkin Malin ingin bebas dari jeratan sang Ibu. Mungkin sedari kecil hidup Malin selalu didikte, dia harus begini lah, nilainya kurang bagus-lah, tidak seperti anak tetangga yang ikut Olimpiade Fisika, Matematika-lah, dll. Mungkin bagi Malin di mata ibunya dia bukan dirinya sendiri, terlebih dia tidak menghargai dirinya sendiri karena pandangan sang Ibu.
Sang Ibu biasanya berkata: "Aaah ini kan contoh2 yang baik... apa salahnya saya menginginkan anak saya menjadi baik dan lebih baik?"
Tapi bagi Malin sang Ibu adalah manusia yang luar biasa rakus. Setiap kali dia membawa pulang hasil selalu dibandingkan dengan si "itu" dan "ini" yang punya hasil lebih baik. Terlebih dia harus menjaga semangat dan hatinya dari kata2 sang Ibu: "Koq jelek sih? Koq kamu tidak bisa seperti si itu?" atau "Masa hasil kamu hanya segini?" atau "Ga pernah ada loh di keluarga kita yang sejelek kamu". Sang Ibu tidak tahu, tapi bagi Malin kata2 itu sakit, sekuat apapun dia membentengi dirinya sendiri.

Mungkin Malin punya mimpi yang diremehkan sang Ibu, karena mimpinya tidak cukup baik seperti standar sang Ibu. Sang Ibu berkata: "Aduh kalau kamu jadi seperti itu, mau makan apa, lebih baik kamu jadi seperti ini."
Dan Malin bertanya2 robotkah saya? Kemana mimpi2 masa kecilnya, ketika semua orang mengatakan bahwa Malin bisa menjadi apapun yang dia inginkan? Apakah semua ini bohong? Dan kalaupun benar bohong, ini adalah kebohongan yang paling keji.

Mungkin Malin menemukan penghargaan dirinya di depan istrinya. Mungkin kali ini dia menemukan kehidupan dan martabat yang lebih baik dimana dia bisa jauh dari sang Ibu, dan mulai menyusun kehidupannya sendiri.
Kehidupan barunya jelas masih rapuh, dan dia hanya takut ibunya akan datang dan menginjak2 semuanya hingga remuk.

Sang Ibu memang berniat baik, dia ingin anaknya menikah dengan wanita baik2, punya pendidikan yang baik, dan berakhir di karir yang baik. Tapi apakah semua niatan baik itu berakhir baik pula?

Namun siapakah yang bisa menjawab pertanyaan2 ini? Onggokan batu di pantai Air Manis pasti akan diam, ombak, karang dan rerumputan pun pasti akan diam seperti lagu Ebiet.
Cerita Malin Kundang terus beredar, propaganda serupa pun terus disuarakan melalui film, sinetron, cerita, dll. Anak yang memasukkan orang tuanya ke panti jompo di-ilustrasikan sebagai anak yang keji.
Tapi gugatan ini kusimpan dan akan kutanyakan kepada Tuhan.

Thursday, July 29, 2010

Evangelion for the current generation

OMG I have to admit that I'm part otaku (<-- still in denial mode)! Kudos for Blitz to bring Evangelion 2.0 to Jakarta big screen, I had watched it, but still predictably the movie was sugoi in big screen with boom boom sound system.

Am I otaku? Sigh... let's just say I have in depth knowledge in some anime, manga (and hentai) story particularly the ones with gore, violence, mystic and mecha themes, and consequently I really say no no to the ones with moe moe theme (including moe-hentai..yuks!). Up until now I can communicate and joke well to fellow otaku, although I do not share common interest in geeky look. And I always think gothic-loli as very cool, kawai and sexy! My favorite in every cozplay (step aside all you Clouds, Yunas, Sakuras, etc)!

Until now, for some time I find it is difficult to communicate to generation after me about how amazing Evangelion is. I mean the series is AMAZING, almost on par with legendary Doraemon. I still remembered when I was young (junior high) how the series messed up with my notion about Angels (Angels are bad..bad..bad), and also the series left me desperate with such an unclear ending (the original Evangelion). And then came The End of Evangelion when I was in early years of high school. Still remember the original disc came in mini disc since it contains only two episodes.

The original series comes with amazing music composition (Cruel Angel's Thesis and Komm Susser Todd), and I like how they play with Judaism theme (only Japan can do this!). On top of it is the story which is strongly interwoven, unusual, but personally I can relate to it. For me the story is about loneliness. How it is extremely difficult to find someone that understand one completely. How we all want to be loved and had some attention. But every time we open ourselves or try to show affection to others we end up being hurt. Strange story for a mecha anime. But very true indeed.

When I watched Evangelion 2.0, I felt the gloomy atmosphere was slightly lifted. I was shocked and delighted at the same time watching Shinji smiled when he met his two friends. It seems suddenly Evangelion turned out to be more cheerful, and relationship is clearly pictured.

Musically, I love how the producer choosed to leave out the past and forge a new legend. "Today is the Time for Goodbye" and "Give Me Wings" will clearly be this generation' favorite.

Otaku-ally, what the hell happened with Kaworu Nagisa? He seems to know Shinji (from Evangelion 1.0) And the red stripe on the moon (Rei' blood from The End of Evangelion)? And the red sea (the original Evangelion' sea color is blue)? And two S2 engines on Unit 01? Does it mean no more Unit 00? And two more Angels? Arrgh they've skipped my favorite: Iruel. I just like it when they show the true nature of the MAGI. Next I just hope I can see Arael (but Kaworu has the Lance of Longinus...aaarggh).

One last thing, strange... but I feel this NERV side-character-with-glasses guy is cute **blushing** (perhaps because now they shot it in HD hahaha...). I took some liberty of Japanese manga freedom, you can go shounen-ai, you can go shoujo-ai but it is still normal =P. But hey...for me he is more "interesting" than most people' favorite: Ryoji Kaji =).

Monday, July 26, 2010

5th HIV Test

Last Saturday morning I woke up, and started to think "What should I do?". And suddenly afterwards the answer came into mind "Go for HIV test!" Ah yes, i had planned quite some time for the test.

Why?

First because the last time I had free-fall sex was 4-5 months ago, which is already over the window period for HIV.

Second, if i count correctly, I haven't taken any HIV test in the last 1.5 years, which in that time period, I have had unprotected sex with 4 different partners (4 is the number of partners not the number of sex), more within term of protected sex however I never use condom for oral. So guess the risk factor.

Third, because I got this promotion coupon for free anonymous HIV testing offered by Action for AIDS Singapore. Anonymous is good because in back in Indonesia you can't have that kind of testing, and having HIV test attached to your MR (Medical Record) will surely get you into trouble. I already had that kind of experience. Learning from the experience I have designated one not-so-popular hospital only for the purpose of HIV testing.

Fourth, i think this is the time where i have to plan what to do next, and HIV status should come into consideration.

I never feel proud for taking the test, moreover I always feel disgusted and frightened with myself. I know for sure that I will not be able to stop this promiscuous activity unless something really bad happened. I love it and hate myself afterwards. Again I already had experience to back this argument up, however I will try to tell the experience on separate occassions (not to mention I really really not feeling proud for it).

My first HIV test was in Bandung, at B Hospital which I personally requested for it (for a very good reason). This was an "uncomfortable" experience: the doctor and nurses were not supportive at all. I even heard them saying "Kids nowadays...". 2nd and 3rd was in Jakarta. 4th for student pass purpose, and yesterday was the 5th.

And I have to give thumb up for AFA! It was a comfortable experience. The receptionist was an AngMoh (Caucasian) lady, who greeted directly: "Here for HIV test?" which indeed was very helpful rather than asking the patient to come forward. I also noticed that they only take cash as payment which is very good in terms of "anonymous" testing.

My pre-test councellor was an AngMoh guy (who I suspect is the receptionist lady's husband). The counselling session was brief (since I am not a first timer), very pleasant and not judgemental:
Me: "...and I never use condom for oral sex."
Councellor: "Yeah I think most people don't. Unless you go to Geylang, and women there will make you use condom for oral sex."
I like that guy!

Sat while waiting for the result to come out, I couldn't help but thinking: "Yup, I have done it again. Stooopid Kardy.. when will you learn your lesson and never again put yourself in this difficult situation?"

And the dreadful "what if..." started to come and play along. Well, it would surely be a life altering situation. I never want to live up to 70 years for a starter. I wanna die at 50. I don't want kids, and I also don't want a marriage. I even can't stand a relationship.
Things have changed, I believe now I have friends that I can count on. The number is less than fingers in one hand, but for me it is enough.
If the "what if..." should come true, i think i would just take a deep breath, went home and started to learn canoeing next week. Surely the job seeking thing could wait.

For the surprise, the "what if..." seemed to be partially true. While my result was negative, the result of the people whose number was one preceeding me seemed to be "not good". The councellor spent a lot of time during the post-test session. He even called the receptionist lady and introduced her as a pyscholog and asked for her recommendation. He handed over my result to other person because he didn't want me to wait for too long.

At the end of the day, the "what if..." was still hanging around.
"What if the result was mixed out? I mean we were only one number separated."
"What if the test was not sensitive enough, since it was a rapid test?"
However i think i have to live with it. I never expect a sinner to walk freely, and so do with myself. It is like a curse but also a consequence of my acts.
And even if I can escape the unfortunate this time, how long will I be able to do it again and again in the future?

Friday, July 23, 2010

Porno(grafi) Pada Tempatnya

Sejujurnya Indonesia semakin lama semakin asyik, tapi entah kenapa ada aja orang2 yang sirik termasuk pemerintah yang norak.
Video mesum tersebar, lalu terjadi pemerkosaan, lalu yang disalahkan si pemain dan pembuat video mesum. Logika darimana? Yang salah ya si pemerkosa donk! Anehnya seakan-akan masyarakat asyik masyuk ikut menuding si pembuat video mesum, termasuk pengacara terkemuka. Aduhai lah bo...otak buang ke sungai aja!

Sebagai penggemar & pecandu & penikmat & pengamat & pengagum pornografi, pornoaksi dan teman-temannya koq rasanya ini adalah sesuatu yang luar biasa konyol.
Begini: ada anak yang nonton film Superman, lalu sang anak dengan luar biasa gobloknya mencoba terbang dari lantai belasan sebuah apartemen. Jatuh bebas ke bawah dengan kecepatan sqrt(2gh), momentum ketika menabrak lantai bisa dihitung dengan m x v, yang mana intinya: penyok. Salahkah film Superman? Bagaimana agar hal ini bisa tidak terjadi?

Kuncinya cuma satu: PENDIDIKAN. Kalau sang anak mengerti fisika dasar dan konsep gravitasi hal ini tidak akan terjadi!

Demikian juga halnya dengan ekses negatif dari pornografi! Pornografi adalah film Superman, dan pemerkosaan adalah perbuatan goblok sang anak yang ingin terbang. Boleh dan bisa terbang, tapi pakai pesawat! Demikian juga dengan analogi pornografi, boleh berhubungan seks tapi dengan pihak yang saling memberikan konsensus.

Sebenarnya menurut gw pribadi, hebohnya penyebaran video mesum baru2 ini adalah kesempatan berharga untuk membuka mata semua orang bahwa ini adalah hal yang tidak bisa dicegah! Dengan ukuran kamera yang semakin mini dan portabel dan kemudahan akses data dan informasi di mana2 membuat lingkup privasi memang semakin menciut. Alangkah malangnya Indonesia punya menk*minf* seperti sekarang ini, dari awal melihat profilnya saja sudah mengelus-elus dada.

Apanya yang mau difilter dan diberantas?!?! Ok lah pasang filter nama-nama website, tapi bagaimana bisa memfilter penyebaran melalui internet data storage (rapidshare dkk), P2P network (eMule, limewire, dkk), chat room, dan forum? Silahkan dicoba sampai laut kering.

Lebih baik uangnya untuk menyadarkan masyarakat. Please jangan norak terhadap pornografi, toh usaha ini ada uangnya juga. Warnet hidup, pedagang VCD Glodok hidup, pabrik DVD jalan (sering rusak playernya juga kan), prostitusi marak (alangkah baiknya kalau sektor ini dimasukkan ke dalam penerimaan pajak). Dan siapa tahu bisa mimpi jadi produsen di kemudian hari, seperti Jepang yang (katanya) nomor satu di dunia.

Pendidikan seks pun harus digeser. Pengalaman gw di Indonesia, yang namanya sekolahan itu selalu ketinggalan dengan muridnya. Pas SD pake acara malu2...belum mau diterangkan, baru SMP mulai diterangkan apa itu menstruasi, mimpi basah, dan boro2 diterangkan apa itu onani.
Ya bo ketinggalan lah... wong jaman sekarang anak SD aja udah tau apa itu kelamin dan SMP sudah petting dan coitus.
Dan yang paling penting adalah alasan kenapa boleh dan tidak boleh. Ini yang seringkali para orangtua bodoh dalam mengemukakan argumennya.
"Ooh ga boleh sama Tuhan..."
Bodohnya......

Masih ingat pengalaman gw waktu kecil:
"Mi, rasanya ga masuk akal deh kalo anak itu dari Tuhan, maksutnya dari mana Tuhan tau mami dan papi sudah menikah? Pasti ada sesuatu yang membuat Tuhan tau selain dari pernikahan."
"Huss..nanti kamu sudah gede juga tau sendiri."

Yang mana maaf seribu maaf, kelas 2 SD gw juga sudah tahu sebab asal muasal anak dari baca2 majalah AyahBunda waktu itu :). Oooh begitu toh...

Moral rusak? Rasanya moral paling rusak di Indonesia itu adalah kebiasaan korupsi, dan malas: yang maunya kerja sedikit dapat uang banyak. Dan ini tidak ada kaitannya dengan pornografi.

Jadi tolong, kalau yang salah adalah sistem pendidikan kita yang lemah. Jangan hal ini dilemparkan kepada pornografi hanya serta merta karena inilah jalan yang termudah. Demikian juga halnya dengan agama. Kalau pendidikan agama kita kuat, ada pornografi pun tidak bakal laku, walaupun ditaruh di depan mata.

Sadarkan masyarakat bahwa pornografi adalah fantasi seperti layaknya film Superman, dan bukan realita. Bolehlah kita melihat Rocco Siffredi meng-anal wanita di Rocco's True Anal Stories 1-16 (belum lagi judul lainnya: Puppet Master, Reverse Gang Bang, Animal Trainer, dll), dan para wanitanya melenguh2 dalam kenikmatan. Tapi di realita kenyatannya lain! Silahkan coba meng-anal wanita biasa, pasti mendapat bonus "brownies kukus" dan jeritan!
Tapi di film bersih koq! Wanitanya keenakan lagi! Ini sebabnya mereka disebut profesional!

Poin ini (fantasi dan realita) adalah daya tawar yang luar biasa menarik dari religi. Umumnya orang yang letih hidup dalam fantasi akan berpaling ke religi, karena inilah hal yang nyata. Bagaimana menerima kekurangan pasangan yang memang tidak bisa sempurna seperti di film (ukurannya kecil lah, giginya keluar lah, perutnya buncit lah, jerawatan lah, dll). Cara untuk menjalani hidup tidak akan bisa diajarkan dalam film yang berdurasi 2-3 jam.
Sayang seribu sayang religi kita juga bodoh dalam memanfaatkan kesempatan ini.

Thursday, July 15, 2010

Let's karaoke!

Stumble upon this on youtube and feel a little bit nostalgic.



And.....it is from The White Snake Legend, or whatsoever the name of the show in television when I was young! I remember how I was fascinated by the story up to when Bai Su Zhen was imprisoned in the Pagoda. And I lost interest of watching it afterwards because the story shifted to Bai Su Zhen's son.

So it seems that Bai Su Zhen is singing the song to, what seems look like, Guan Yin who is sitting on top of the roof lotus.

I was (am) enchanted by Bai Su Zhen *ahem* prettiness...
A woman who can fly, fight, teleport, manipulate matter, and bring forth flood to destroy a Pagoda.
Shedding skin issue? I think I am open minded enough.

Btw, Here is the lyric and translation:

青城山下白素

(under the Qing Cheng [loose transalation: green city] mountain, Bai Su Zhen [the white snake's name])

洞中千年修此身

(in the middle of the cave, thousand of years train/mend her body)

勤修苦练来得道

(diligently cultivate hardship to train to be competent in morality)

脱胎换骨变成人

(be reborn into human)

一心向道无杂念

(wholeheartedly embrace morale [good teachings/conduct] without doubts)

皈依三宝弃红尘

(convert into Buddha's teachings [three treasures of Buddhism: the Buddha, the Dharma, the Sangha], and abandon world's way)

望求菩萨来点化

(looking forward for Bodhisattva to come and give enlightenment)

渡我素贞出凡尘 x 3

(to bring me, Su Zhen[name], out of this mortal world)


The song is cheesy, but it is entertaining. Actually after this scene, Guan Yin will reply by singing too!

Saturday, June 19, 2010

Makan Ati....

Bener2 ini bokap...

Disuruh ke bank, cabang biasa offline, jadi harus ke cabang lain. Antri dua jam lebih untuk jumlah yang hanya 11 juta. Pulang ke toko sudah jam 2 lebih. Kopi slip dikasih, lalu sibuk mikir dia mau makan siang apa.

Pulang beli makan siang, ditanya kopi slip dimana?!?! Ya kopi cuma satu, masa mau minta lagi?
Woiish....satu toko sibuk nyari2, obrak abrik ke mana2.. depan, belakang, tong sampah, mana cukup ramai lagi. Dan selama gw nyari2 mulutnya nyerocos terus: kerja ga pernah beres lah.. lebih baik nyuruh karyawan lah...mau bikin dia mati lah... duit 10 juta lah.

Pas ditanya baik2 "Pi, ada di kantong lu nda?" dijawab "MANA ADA! KAMU PULANG PAPI NDA TERIMA APA2!!" Wuih pake ekspresi tangan yang dihentak2. Untung karyawan yang paling senior ngomong.. "Udah.. diperiksa dulu aja..". Dan ternyata ADA di kantong dia.

Astaga... udah ga bisa ngomong gw. Masuk ke belakang, dan nangis gw (well, untuk orang yang bilang gw jarang nangis...).

Lupa itu wajar, tapi jahat itu ga wajar. Dan bukan cuma sekali dua kali begini.

Dulu pernah habis makan naroh piring di tangga. Gw bawa neon 40 watt 1 dus turun, ya jelas kaga ngeliat tuh piring dong. Kepleset jatuh, piring dan neon pecah. Malah gw yang dimarahin habis2-an.

Itu orang yang dikirim uang, gw juga kenal. Bukan baru kenal kemarin sore, orang itu sudah rekanan bisnis sejak dari awal toko ini ada. Gw kenal anaknya yang sekarang ngejalanin tokonya. Dan mereka berdua ngga serepot bokap gw koq. Ngga ada slip juga mereka ok.

Kerja gw ga pernah beres?? Woi bener2 lupa dia....
Segitu banyak waktu udah terbuang buat dia. Berhenti kerja udah. Bantuin full time hampir setaun udah. Sekarang udah mau sebulan di sini, main keluar-pun gw baru sekali. Mau kemana gw anterin, mau ambil barang kapanpun gw ok. Mau kencing di pinggir jalan gw turutin.
Cuma masalah 11 juta yang ngga bakal lari ke mana???
Sedih gw...

Heran orang ini, sama keluarga sendiri jahatnya minta ampun, mungkin dipikir ngga bisa lari ke mana2 kali yah.

Kaki sudah agak sembuh... naik motor ke mana2. Hari Senin entah main ke mana. Orang capek seharian di toko, dan sorenya dia mau ke dokter gigi. Sudah dibilang nomor antriannya habis magrib, ya gw tunggu jam 6 lewat donk. Malah gw ditinggal. dan dia pergi naik motor.
Dulu waktu kecil, ditinggal gw panik. Sekarang?? Wuss... ruginya.. tinggal naik en nonton DVD donk.

Rabunya... ga bisa kencing!!!! Masalah prostatnya kambuh lagi. Dalam hati: RASAIN! Ini udah yang ketiga, pertama koko gw cuti en bawa ke dokter. Kedua gw bawa dan dokternya sudah wanti2 "Bapak tidak boleh naik motor dan sepeda dulu yah." Tapi sekarang si bokap nyalahin minum Coca-cola dan obat hari Selasa. Terserah lah..

Dokternya di Kemayoran, ya pergilah gw nganter dia dari Tangerang ke Kemayoran segitu jauhnya. Terus katanya dia mau ganti dokter... mau nyari yang di Pluit! Astaga... kurang jauh lagi yah!! Alasannya dokternya Chinese!!!! Duh gusti...gusti!!

Ya sudah, dicari di internet. Dokternya praktek hari Jumat. Kamis gw tanya.. mau ke dokternya ngga? Katanya mau. Ya otomatis Jumat gw ga bikin janji ke mana2 donk.

Hari ini, astaga naga. Bilang ga mau ke dokter. Padahal pagi2 sudah gw telepon untuk daftar. Ditanya kenapa.. mau nunggu kakinya sembuh dulu. Dibilang ngga ada hubungannya antara kaki dengan saluran kencing, malah dituduh mau bikin dia malu.

Astaaagaaa......... gw udah TERSERAH lu aja dah! Hari ini gw ultah, kalo ngga demi nyiapin nganter lu, gw mau makan2 sama temen2. Lu boleh ngga ngehargai anak, tapi setidaknya gw mau menghargai diri gw sendiri donk!

Tapi hari ini ada yang lucu juga sih... Tadi sore dia ngobrol terus di depan. Sama tukang jual buah lah.. sama karyawati sebelah lah. Padahal di toko lagi ada pelanggan (kita lah yang sibuk2). Yang gw bingung, karyawan gw koq mondar mandir nanya harga terus, padahal barangnya umum. Gw sampe nanya "Koq mondar mandir terus?" Karyawan bilang "Iya, daripada si Bos jual jamu terus." Hahahaha... Si nyokap manas2-in "Iya...tanya aja terus! Gangguin, biar ngga tenang!"

Kalau kita ngga ada, ribut ke orang2: tokonya sibuk, rame, ngga sempet makan. Begitu dibantuin, dianya sibuk maen, telpon2-an, jual obat entah dengan siapa lah... bahkan sekarang paling top: TIDUR PAGI dan SIANG!
Ya mana ada orang yang mau jaga toko lu!

Tuesday, June 15, 2010

Anak HARUS Berbakti

Beli tiket balik ke Jakarta kemarin dengan firasat yang buruk, wah pasti ada apa-apa nih di rumah, tapi orang tua dudul gw nda berani bilang.
Dan ternyata firasat gw super duper benar. Well sebenarnya sih bisa diandaikan orang yang tinggal di daerah bencana pasti hafal dengan tanda2 bencana. Entah hewan2 liar keluar dari hutan keq, pohon2 mati keq, dll.

Sampai di Jakarta diam2 saja karena memang super duper sibuk, dan kemudian dihujani protes dari teman2 karena "tidak bilang2" kalau sedang in-town.

Ya.. begitulah... kembali ke kesibukan lama... toko lagi.. toko lagi. Cuma beda di latar belakang panggung. Yang satu tidur2-an karena kakinya sakit, yang satunya kotek2 masak.

Bukaaan... bukan karena stroke, asam urat, kecelakaan, dll... karena ULAH SENDIRI. It is definetly SELF INFLICTED WOUND due to sok pinter yang teramat sangat, dan tidak mau ngedengerin omongan orang yang memang lebih pinter karena sudah sekolah!
B A G U S!

Ada orang yang bilang begini (di toko): "Yah kalau keadaan begini, anak memang harus bantu yah Ci (ngomong ke nyokap gw)."
Nyokap : "Iya, harus."

Wuih.. sakit hati bener gw! Bener2 darah naik ke kepala, dan gw ngomong "Hati2 dengan kata "harus" itu, gw ga seneng."
APA MAKSUDNYA!! "Harus"?? Emangnya gw boneka, robot, anjing... woi kurang ajar bener!
Siapaaa yang mengharuskan gw? Seakan2 gw ga punya kesadaran sendiri?

Gw tau semua ngomong anak HARUS berbakti ke orang tua..yada wadda bla bla bla.

Gw GA SETUJU!

Pernah suatu ketika beli mie. Dan tempat jual mie itu dijalankan oleh tipikal keluarga Cina. Bapaknya bikin mie, nyokapnya ngurus kuah, anak yang satu bungkusin sambel, anak yang satu cuci piring, anak yang satu buat minuman.

Sebagai mantan "anak yang diperbantukan", gw miris juga donk. Gw ngomong "wah kasian juga yah, gw ga terlalu sreg deh dengan orangtuanya." Nyokap bilang "Ya..biar tau cari duit susah..". Ya gw bingung donk.. "Kalau ga punya duid, kenapa mau punya anak?"

Waktu kecil pasti dijawab, kalau kamu sudah besar pasti mengerti. Dan maaf seribu maaf, gw sekarang sudah se"besar" ini, teman2 gw banyak yang sudah banyak anak, dan sori gw ga ngerti!

Boleh ga dibandingkan kalau si bapak kerja kantor, PNS, atau kerja sama orang. Bisa kerjaannya bilang: "Hei anak I tolong kerjain ini, anak II kerjain itu."?
Kemalesan-mu, keterbatasan manajemen-mu yang bikin satu keluarga sibuk. Dan gw bilang ga fair buat anak. Istri milih suami, suami milih istri, tapi anak ga milih orang tua.

Dan itulah gw. Alasan fundamental satu2-nya itu yang ngedorong gw SMU di Jakarta, kuliah di antah berantah. Gw mau keluar! Gw muak!
Pulang sekolah, makan siang, lalu jaga toko. Habis tutup toko adalah kerjaan ini itu. Malemnya ortu nonton tivi, gw disuruh belajar. ADIL?!?!

Terus orang bilang, ortu sudah berkorban tralala trilili supaya kamu sekolah ini itu. Sekarang sudah selayaknya kamu mengurus mereka.
Bonyok juga pernah bilang hal serupa.

Gw setuju?? MY ASS!!

Boleh ngga sang ortu berandai tidak punya anak. Tentu kalian punya persiapan hari tua kan, supaya kalian bisa mengurus diri sendiri. Kalian belajar keq, kalian lebih sayang ke pasangan kalian keq...

Sekarang dengan alasan semua diberikan ke anak, lalu mengharap anak mengurus kalian? Adil?? Si anak sudah setuju mau mengurus kalian? Atau HARUS lagi?? Kalau si anak berontak ditakut-takuti dengan cerita Malin Kundang, sinetron Hidayah, dll?

Hasilnya apa? Oooh ortu bodoh, ga papa lah, yang penting anak saya pinter (menutupi kenyataan kalau ortunya malas belajar). Berantem kaya kucing sama anjing, karena selama ini sibuk ngurusin anak, daripada mengerti sifat pasangannya.
Kelakuan grasak grusuk, makan ga mau dinasehatin, sakit...
Lalu oooh tenang saja... sang ortu punya anak... dan si anak HARUS datang mengurus.
Begitulah yang selayaknya......

MUNTAH gw dengan logika ini! Kalau ada yang namanya Pencipta atau apalah.... kalau gw ketemu nanti, gw bakal menggugat ini.

Gw sumpah..sumpah..sumpah.... ga bakal mau punya anak dengan motivasi busuk begini!

Sejujurnya cape... bukan cape fisik.. tapi cape ati. Cukup menangisi nasib juga sih, seingin2-nya keluar dari rumah... selalu saja tertarik pulang. Seperti punya rantai di kaki.

Kalau dulu mereka sibuk di toko...manggilnya pakai interkom yang kerasnya amir2..tombolnya dipencet berkali2, sambil teriak "TURUN!!!".
Kaya manggil binatang yang binatangnya ga punya kuping.
Sekarang gw sibuk di toko, bisa gw manggil seperti itu? Amit2 gw ga bakal nyontoh perbuatan itu.

Dan roda berputar kembali ketika gw SMP dulu, dan gw iri dengan si kakak yang SMU di Jakarta.
Sekarang pun gw masih iri dengan dia yang bisa keluar dari rumah.

Yah beginilah susahnya jadi anak bungsu.

Wednesday, May 12, 2010

Kalau Jadi Orangtua itu....

Senjata utamanya kalo diomongin bae2.."Yang namanya anak ga usah nasehatin orang tua!"

Enak banget yah!

Dari dulu udah begitu, dikasih tau bae2 malah marah2. Ya orang sekarang jadi diem aja donk.

Jadinya kelakuan grasak grusuk ga keruan gitu kan.

Kalo makan permen bungkusnya harus dibuang keluar jendela, mobilnya terlalu bersih kayanya.
Kalo nelepon kaki harus diangkat ke meja, aneh2 aja. Duduk napa?
Oooh kursi ga boleh ada di toko, bikin orang males katanya. Lha terus yang molor ngalor ngidul pas jam toko siapa?

Yg satu ini juga.. ucapan ga bisa dijaga. Udah dibilang.. beda antara "contoh baik" lu (yup, gw sama ortu pake "gw" en "lu") sama ga pernah cukup itu bedanya tipiiiis banget. Gw aja eneg denger "contoh2 baik" dari lu.
"Si itu tuh.. begini......"
"Ya udah ga usah disamain lah.."
"Kalo contoh baik kan perlu dicontoh.."

Entah kenapa makin ke sini makin mantap. Dua minggu pulang bisa dua minggu jaga toko. Seminggu pertama yang punya pergi maen, seminggu kedua yang punya pulang maen terus sakit. Satunya lagi sibuk cari pelarian, masak keq, belajar apa keq, ngomel2 keq...

Persis orang gila...

Nah yang di tengah yang pontang panting. Sibuk ngatur strategi supaya ngga perang dunia lagi. Masalahnya bukan cuma internal, tapi seringkali perang dunianya meluas ke luar2. Jatuh deh korban2 tidak bersalah. Ini loh yang paling nggak enak. Kalo untuk kita2 sih, rasanya udah kebal semua. Plus kita udah punya keluarga baru lagi (yang ngga enak lah jadi korban). Duh pusingnya.

Punya keluarga baru juga bukannya tambah adem gitu, ini ya ampun, kalo di belakang omongannya ...halah lah...bagi gw sih jahat. Kalo udah biasa ngomong di belakang, kadang2 keceplosan ngomong di depan. Gw aja yang ngedenger ga enak... untung keluarga barunya sabar.

Kalo cerita wuih anak saya sekolah ini itu di sini di situ... yang ada hati ini malah miriiiiis banget. Kenapa sih, kalau ngga ditanya, perlu disebut "Ini anak saya yang sekolah di ...." ?? Tujuannya apa?
Orang juga punya otak donk, masa anaknya sekolah begini begitu, orang tuanya grasak grusuk begitu. Anaknya bego apa? Ya udah paling banter cuma bisa senyum aja.
Mending orang2 tau aja kalau anaknya bego... mending....

Doa gw ngga terkabul. Dari dulu gw paling takut ortu gw berubah jadi ortu2 yang bawa foto anaknya yang menang Olimpiade fisika-lah, kimia-lah, lalu keliling2 dan pamer. Semua yang dikenal harus dipamerin. Ya ampuuun Pak, Bu...tujuannya apa? Anak pinter karena ortu pinter? Lah ortunya ngitung turunan aja ngga bisa? Bangga.. atau sombong?

Ngga bisa dibilangin ya mau bilang apa?? Paling pura2 buta, bisu, dan tuli.

Tuesday, May 11, 2010

Kembali ke Emas Sebagai Alat Pembayaran

Di era milenium falcon begini masih aja ada orang model gini, aduh capeee deh!

Kalo emas sebagai alat investasi is OK ga masalah!

Alat pembayaran? Weit tunggu dulu, GA PRAKTIS juragan....

Coba kita hitung2 sedikit yuks!

Harga 1 gram emas (10 Mei 2010, 12:20 NY Time, sumber di sini): 351,755 (351 ribu sekian sekian rupiah).

Yang berarti 1000 rupiah itu 1/351.755 = 0.0028 gram. Bisalah beli kangkung seiket.
Tapi.....bisa ga yang jual kangkung nyediain timbangan seakurat 1/10000 gram? Harga timbangannya lebih mahal dari omset jualan kangkungnya sebulan (belum lagi perlu ditera BMG).

Tang ting tung... tapi kan bisa di-koin-kan, seperti uang logam begitu loh.

OK, asumsi kita koinkan 1000 rupiah dalam koin emas (secara ga boleh itu pake logam2 lain...takut inflasi katanya). Berarti 1 koin 0.0028 gram kan.

Karena saya Cin* dan turunan iblis, saya nakal. Saya kikir sedikit koinnya (kandidat terbaik adalah di bagian gerigi di dimensi tebal koin). Satu koin jadi 0.0025 gram.
Saya korupsi 0.0003 gram per koin.

Ketahuan? Bagaimana mungkin? Sempet transaksi menimbang2 sampai se-detil itu? Keburu layu kangkungnya dan sekali lagi sulit cari timbangan sedetil ini.
Dan lagi emas itu logam lunak. Sebagai alat transaksi massal, wajar donk ada baret2 (seperti uang kertas yang lecek2).

1000 koin saya kikir (modal 1 juta rupiah), saya dapat 0.3 gram EMAS, yang harganya 105 ribu sekian sekian. 10% untung sekejap mata! Dan mudah lagi menjual kembali secara ini langsung EMAS.
Beda dengan koin biasa, dikikir nilai logamnya tidak sebanding nilai intrinsik koinnya.

Saya suka sekali kalau ini terjadi... yuuk mari....mungkin saya akan investasi di pabrik kikir.

Saturday, May 08, 2010

Mengejar Impian

Post ini narsis!

Masalah terbesar dari Kardy adalah: dia selalu punya target yang berbeda (baca: terlalu banyak maunya). Disuruh apa aja (sekolah keq.. kerja keq..) pasti banyak mainnya.

Kemarin gw dan anak2 sekolah berlibur ke Pulau Ubin, yup seperti Bobby dan teman2-nya. Bukan pertama kali memang gw ke Pulau Ubin, secara dulu pernah ketika gw masih muda.
Tapi ini pertama kalinya gw menjelajah pulau secuil itu dengan sungguh2 (secara dulu pergi dengan kakek2 dan nenek2 gitu looh).

Kita nyewa sepeda dan bersepeda "santai" keliling pulau. Perlu sekitar 30 menit untuk kenalan dengan sepeda sewaan, dan setelah itu we were a great partner! Ga jelek.. 3 x 7 speed hard tail mountain bike. Suspensi depan memang agak lousy tapi still manageable. Sepeda murahan memang (paling murah sewanya SGD 3, paling mahal SGD 10, sepeda ini SGD 5), tapi entah kenapa cocok betul... ada koneksi batin (halah).


Yang gw sendiri heran adalah.. ngga cape cuy (thanks to my bike..muach)! Rekan seperjalanan ngos2-an, protes kenapa gw terlalu cepat (yang ada gw malah muter2 dulu nunggu mereka..ya kali2 sok sosial dikit lah), dan kenapa gw nda pernah turun dari sepeda dan ngedorong pas tanjakan.
Medan bagi gw sih yaaaa... lumayan lah (kita ke timur, utara, en barat pulau) cuma diperberat dengan kita nge-goes di kitaran jam 1 siang ke atas...so lagi panas2-nya.

Hihihi...gw bisa ngomong dengan gayanya...duh yang namanya student itu.. harus sporty dunks =P.

Sejujurnya gw agak kaget juga... gw berharap antara gw kecelakaan (gw master-nya dalam hal kecelakaan kendaraan), pusing (panas gombreng gitu), atau muntah (my best buddy dalam olahraga).

Cuma waktu itu ada saat dimana gw senyum2 sendiri: "Koq kayanya gambarnya mulai tersusun yah".

Ketika muda dulu gw pernah bilang "Tek, gw pingin ikut triathlon" (see my 2009 post). Gila kali yah..Kardy yang muntah lari 3.2 km, beratnya 89 kg di SMU, pas SMP gendut, selalu duduk di pinggir lapangan pas jam olahraga.

Bagi gw sih ga masalah cita2 gila... mengutip kata Chicken Soup: "Gantunglah cita2-mu setinggi langit, kalaupun kamu tidak berhasil menggapainya, kamu masih akan berada di antara bintang2." So yup cita2 gw memang aneh2...jadi bintang bokep, gigolo, biologist, sex consultant, virologist, dll.

Sadar tidak sadar ketika kuliah gw memperbaiki renang. Pertama kali nyemplung ke kolam ITB, gaya bebas gw ancur, bisa sih bisa..tapi 50 m langsung muntah (gitu2 masih dapet A =P). Maklum dari kecil selalu spesialisasi di gaya dada.
Sampai tingkat 2, pas ketemu bule keren yang berenang gaya bebas jam 12 siang. Non-stop bo (makanya keren)! Sekali nyemplung bolak balik sampai naek lagi (entah berapa kali cuma yang pasti banyak). Dari "mencontoh" (plagiat ini) si bule itulah gw belajar long distance swimming untuk gaya bebas. Ooh.. kakinya ga usah semangat '45 banget... dikit2 juga OK.
Di tingkat akhir pun.. gw males lulus cepet2, mengulur waktu untuk belajar side swimming. Alih2 sibuk ngerjain TA, setiap sore ke kolam renang buat ngelatih side swimming gaya bebas (malemnya nge-DoTA). Pokoknya ogah lulus sampai bisa.

Ketika kerja gw memperbaiki skill sepeda. Untung dapet pos di Lampung yang satu kota jalanannya mirip jalanan kompleks perumahan. Asri bo! Lengkap dengan tanjakan dan turunan yang gila (serius gilanya). Well masih inget pertama kali goes ke kantor..langsung muntah! Dan pernah malemnya lembur ngerjain tender, paginya latihan tanjakan, siangnya mantap mimisan! Jatoh? wuih menggelinding masuk bahu jalan. Celana jeans sampe bolong (yg ini sakit..keseret aspal en gravel).

Ketika kuliah lagi sekarang...hihihi.. agenda tersembunyi gw adalah memperbaiki lari. Secara negara ini kondusif buat lari. Dulu 3.2 km muntah, sekarang 5km bisa 2x seminggu (biasa aja tuh), 10 km masih tenang2 aja. Sebenernya cape sih nda begitu... lebih ke bosen!
Makanya mau coba ikutan event marathon someday. Tahun lalu pingin ikut Stand Chard marathon, cuma kepentok presentasi Data Mining :(. Taon ini kali yaa... kalo masih di SG.

Dan yoga pun luar biasa membantu. Well secara gurunya sering ngomong: "Mind over body, and breath over mind. Thus breath is everything." Entah kenapa eh beneran loh setelah ikutan jadi bisa lebih tenang. Pegel kaki ketika goes di tanjakan.. mirip koq dengan posisi warrior one, warrior two, etc. Masalah panas pun teratasi dengan pernafasan yang lebih tenang.
Mo dibilang haram keq.. pokoknya senam yang ini mantap!

Kalau sekarang ngeliat ke belakang...rasanya ok juga ya. Someday entah kapan I'm going to nail that triathlon! Ga ngincer juara memang, cuma ngincer finish. Habis itu bisa deh mati dengan tenang (yup2 gw masih pingin mati muda en beautiful).
Daripada married, gw lebih memilih mengejar impian yg ini!

Btw gw sekarang bisa push-up loh (baru sadar 2 minggu belakangan ini)... ga semati-matian dulu :). Good job to myself!

Sunday, April 25, 2010

No hard feeling, but it's all about the metric dear...

"I don't want to have kid(s)." once I said to my parents. And they said "Just see, your mindset will change as you grow older." But at this stage of life, 20+x going to 20+x+1 whereas x> 5, I really really really don't want to have a kid.

Perhaps I should share it to you: my future never-will-be child, why i don't want to be your parent. It's not because i don't love you nor because i'm selfish nor because i'm not afraid to die alone. But it's because: i consider every day, every single day in my life up until now, as NOT-interesting. And I truly hope that you will not suffer the same fate as me.

Our society and civilization has evolved so much. And at current date, at its glorious so called modern state, do you see what i see?
Twenty years back you could sell sweet soya sauce by claiming: "My sweet soya sauce is the best!"
However at current age, people will throw back your claim at your face and say "Uh-huh..what is the support of your claim?" Which is in simple term: you have to translate the term: BEST into something that can be understood by common people: NUMBERS!
For soya sauce the translation can be varies:
  • The average change of number where the husband is eating home-cook food in one week from 1000 families.
  • The average change of family members' body weight after a month using the given soya sauce.
  • Or whatever as long as it displays good numerical properties.
So you can see my dear child, nowadays all the advertisements are not stating qualitative terms but rather displaying quantitative terms such as surveys, analytical results, etc.

This lead to another discussion: how do we value our own life?
My dear child, the greatest sin in our current society is not about blasphemy, denying so called holy ghost, etc.
But more into: sitting in false positions in too many properties (dimensions) of our society bell curves.
In other words: for a given property, you can't afford to be a standard more-over sub-standard. You have to be over the standard.

So if your intelligence = standard, face = standard, body = standard, communication ability = standard, etc1 = standard, etc2 = standard, ... etcn = standard, you know that you're in deep shit.
Yup my dear child, it is can be seen in our current society professional lives. Professor is someone whose intellectuality is over the standard, porn star is someone whose body and face are over the standard, etc.
If you are within standard, then welcome to join millions of other robotic-like, clone-like "ordinary" employees. If you are a sub-standard, then you're a trash.

My dear child,
since the very early stage of your life, you will be calculated, converted into numerical values so called marks. Yup, your quality is nothing more than numbers in your report sheet. Will i care about your desires, dreams, about how you treat others, or about how you view this world? Suddenly it will look like the soya sauce advertisement. No, i will not be able to understand you. I will choose the easiest path: by numerical values.

And since it is in numerical values, it will become easy to compare you and the others. Suddenly you will be placed inside the famous bell curve. The problem is the bell curve will shift according to the sample values. In other word, if you are a top in one property, you will be grouped with other tops and suddenly you become standard again. So what is the limit? What is the goal?

I also don't know. But say: if you were a top student in Stanfart, Hardfart, Institut Tai Burung, Not-Up-to-Standard, i would say that I am proud you! Because at that state, you stand as the over-standard outliers from thousands, millions perhaps, of people.

This will break my heart into pieces.

I really don't want to convert you into such values. I really want to consider you as an uniqueness. For whatever bell curves, you are always over the standard for me.
But yeah, i have to admit, the society doesn't permit me to. Even if i can protect you, but i can't protect you from society. When you go out, to find a job for example, you will be converted again, and the mighty bell curves will be put on you.
It is a slavery, we are the slaves, and our society is the master.

I always like the story where the hero is fighting monsters with strong righteous heart, or undead with faith. But currently we are fighting each other with yeah...metric. The numerical properties of our "self". There is no place for non-understandable terms like righteous heart, faith, etc.

I don't like this world. I do wish to be able to see other worlds, where metric will fail, where something else prevails. Perhaps in the other world there exists a method to view this world other than metric and numbers. Perhaps...and perhaps...

At the end, as silly as it seems, I do hope we can fight monsters and undead together, in the other world.

Saturday, April 10, 2010

Grace and (Gospel of) Luke

Christianity in one word: grace. Famously introduced by Paul and even adopted into one of the five solus (sola fide, sola scriptura, sola gratia, solus Christus, and soli Deo gloria): the slogan of Protestant. In Paul's letter to the Ephesians, he wrote:

"For it is by grace you have been saved, through faith--and this not from yourselves, it is the gift of God--" (Ephesians 2:8, NIV)

The interesting question: is it true that Paul is the first to introduce the concept of grace?

It is noteworthy to take into account that some studies indicates Luke, the writer of the gospel, actually was a constant companion to Paul.

The story of Paul is originated in the book Act of Apostles (Acts) which is strongly indicated to be written by Luke as he addressed the book to the same person as his previous book (Gospel of Luke):

"... it seemed good also to me to write an orderly account for you, most excellent Theophilus" (Luke 1:3, NIV)

"In my former book, Theophilus, I wrote about all that Jesus began to do and to teach..." (Acts 1:1, NIV).

And Paul also mention Luke in his letter to the Colossians:

"Our dear friend Luke, the doctor, sends greetings. So does Demas. " (Col 4:14, NIV)

So is it possible that Paul's understanding about Jesus was under influence from Luke? It is highly possible.

Though Luke is suggested to be the one who wrote last (from all synoptic gospels) and took some material from Gospel of Mark and Matthew, it is how he wrote his Gospel that make his Gospel unique compared to the previous two.

Luke tells the story that emphasizing heavily about Jesus as companion to the sinners. As someone who defend them, forgave their sins, and ultimately gave them their salvation. Something that the two previous Gospels (Matthew and Mark) even do not mention!

Let's take a look at a few examples:

Jesus anointed by a sinful woman
(Luke 7:36-50)
(compare to Mat 26:6-13, Mark 14:1-11, John 12:1-11)
The others three Gospels mention about a woman that was going to anoint Jesus with perfume stored in an alabaster jar. But a disciple protested that the perfume should be sold instead and the money should be given to the poor.

But only Luke mentions that the woman was a sinner. She stood behind Jesus, at his feet weeping, and wet his feet with her tears. And later on she wiped them with her hair.

The Pharisee saw this and said "If this man were a prophet, he would know who is touching him: a sinner".

And at the end of the story Jesus said to her "Your sins are forgiven."

The Parable of the Lost Son (Luke 15:11-31)
This parable, found exclusively in Luke, tells story about a young son that asked for his share from his father. After he got his share, he set off for distant country and squandered all his wealth for wild living.

Eventually all his wealth was gone, and with nothing to eat, he wanted to fill his stomach with pods that the pigs were eating, but no one gave him anything. Then he intended to go home to his father, but because he had sinned against his father, he only intended to become one of his father hired man.

But as his father saw him, he ran to his son, threw his arms around him and kissed him. As the son spoke his thought to be his father hired man, the father said to his servants to bring the best robe and put it on him. And also to kill the fattened calf and prepare a feast to celebrate.

The Parable of the Pharisee and the Tax Collector (Luke 18:9-14)
This parable also appears exclusively in Luke. It should be noted that at Jesus' time, the Jews were under the occupancy of Roman. Jews as strong monotheistic followers were obliged to pay tribute to Roman, a polytheistic nation. This brought bad notion to the tax collector occupation (as a sinful occupation), moreover because they were said to always collect more than what they supposed to.

Two man went up to the temple and pray, one a Pharisee and the other a tax collector.

The Pharisee prayed "God, I thank you that I am not like the other men -- robbers, evildoers, adulterers or even like this tax collector."

The tax collector stood far away, beat his breast and said "God have mercy on me, a sinner."

And Jesus told that the tax collector went home justified before God.

Zacchaeus the Tax Collector (Luke 19:1-9)
The third story found exclusively in Luke.

As Jesus entered Jericho, a tax collector named Zacchaeus wanted to see Jesus and since he was a short man, he climbed a tree to see him.

Jesus reached the tree, looked up, and said to Zacchaeus that he must stay at his house today. As the people saw this, they began to mutter "He has gone to be the guest of a sinner."

But Zacchaeus stood up and said "Look here and now I give half my possessions to the poor. And if i have cheated anybody, I will pay back four times the amount."

Jesus said to him "Today salvation has come to this house, because this man too is a son of Abraham."

The Two Other Crucified Men at the Crucifixion(Luke 23:39-43)
(compare to Mat 27:38, Mark 15:32, John 19:32)
This is by far the boldest step in Gospel of Luke.

Matthew and John agree that there were two other men crucified together with Jesus. Mark however added that those crucified with him also heaped insults on him.

But Luke tells different story:
One of the criminals who hung there hurled insults at him: "Aren't you the Christ? Save yourself and us!"
But the other criminal rebuked him. "Don't you fear God," he said, "since you are under the same sentence? We are punished justly, for we are getting what our deeds deserve. But this man has done nothing wrong."
Then he said, "Jesus, remember me when you come into your kingdom."
Jesus answered him, "I tell you the truth, today you will be with me in paradise."


Whether Luke conducted more research, or merely crafted those stories is the unknown fact. However through his writings the foundation of grace in Christianity is put. That the path to salvation is not by weighing sins and good deeds but merely because God's love for mankind including sinners.

It is worthy also to look at the last Gospel: John, which is still debatable, the last of the four gospels.

(Gospel of) John mentions literaly:

"For the law was given through Moses; grace and truth came through Jesus Christ." (John 1:17, NIV).

And John also tells the famous story because of its portrayal in Mel Gibson's movie: The Passion. This story however is debatable since nearly all the biblical scholars agreeed that this story is a later addition to the Gospel. New International Version (NIV) stated "The earliest and most reliable manuscripts and other ancient witnesses do not have John 7:53-8:11.

A story, however inaccurate, is always worthy to take a look (John 8:1-11):

The Pharisees brought a woman caught in adultery and said to Jesus: "Teacher, the law of Moses commanded us to stone such women, now what do you say?"

Jesus bent down and started to scribble the ground with his finger. When they kept asking he said "If any one of you is without sin, let him be the first to throw a stone at her."

After hearing this, one by one go away until only Jesus was left. Jesus asked the woman "Woman, where are they? Has no one condemned you?"
"No one, sir" she said.
"Then neither do I condemn you." Jesus declared. "Go now and leave your life of sin."