Thursday, September 29, 2011

The Lesson...

Ada anak kecil norak: "Ciaat... kebaikan pasti menang melawan kejahatan!"

Dalam hati: "ckckck...masih polos (baca: goblok) ini anak".

Kebaikan dan kejahatan bukanlah perkara absolut kebaikan dan kejahatan. Tapi meyakinkan masyarakat luas bagaimana baik dan jahat itu.

Jadi yang baik bisa jadi jahat dan yang jahat bisa jadi baik selama sosial menerima? Ya sudah tentu. Contoh saja hukuman mati, di satu sisi dunia bisa dianggap jahat dan tidak manusiawi, di satu sisi dunia lain... oh begitu baiknya untuk masyarakat, bahkan di-idam2-kan selalu.

Dan sebenarnya pengadilan pun adalah perkara bagaimana merepresentasikan dan meyakinkan dalam hal ini juri untuk berpihak ke salah satu pihak.

Adakah istilah yang baik menang melawan yang jahat? Tambah kentut lagi.

Memang di cerita2 jagoan yang baik selalu datang dan menghajar yang jahat. Dan akhirnya kejahatan hancur berantakan. Apakah artinya yang jahat kalah?

Inilah kerennya kejahatan. It will not win, but it will corrupt the champion. Pelajaran dari Diablo. Menurut perkataan Lord Acton: "Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely. Great men are almost always bad men."

Champion, they all are powerful men and women. And every person has his/her own price, whatever it is.

Mungkin ada yang tidak terbeli, seperti nabi2, but well... They already ate the dust.

Jadi anak kecil yang bodoh, masihkah engkau berpihak kepada kebaikan?

Gw dari kecil selalu bercita2 jadi penjahat dan merancang monster2 yang akan menghancurkan dunia.

Jadi apakah kebaikan kalah?

Di sinilah anak kecil salah.

Kebaikan tidak menang dalam kemegahan. Nope it will not do. Dia akan menang dalam kesederhanaan dan kerendah-hatian dimana tidak ada seorang pun yang menyadari.
Kenapa begitu? Karena begitu dia besar... kembali dia akan corrupt dan menuju kejahatan.

Dan disinilah kesulitan menjadi orang baik, sehingga orang baik langka di dunia ini.

Sunday, September 25, 2011

Film (Semi Porno) Indonesia!

Akhirnya satu maha karya lagi dari KKD yang telah lama ditunggu2 keluar juga: Pacar Hantu Perawan. Terkisah 'spoiler' tentang film ini telah lama mengguncang jagat pergosipan tanah air dengan berita 'nyeplak'-nya payudara salah satu aktris ternama tanah air. Dan kemudian tanggal penayangan film ini di pasar harus ditunda menunggu selesainya bulan Ramadhan.

Dan setelah bulan Ramadhan selesai, dan setan2 kembali dilepas bebas, maka film ini akan mengisi relung2 kehausan penggemar film di tanah air. Tidak tanggung2 dalam film ini KKD juga memasang nama 'mantan' aktris porno bule (yang harus diakui bahwa ehm.. 'properti kembar'-nya begitu menginspirasi) dan model dewasa Filipina.

Kenapa KKD begitu gemar memproduksi film dengan genre seperti 'ini'? Yang dimaksut dengan 'ini' adalah campur sari antara horor bosanan, kualitas 'properti' pemain yang asoy geboy, alur cerita yang tidak jelas, dan kualitas akting kelas amatir.
Dijawab oleh KKD dalam suatu kesempatan bahwa ia hanya memproduksi film yang laku di pasar, dan film2-nya sangat digemari oleh masyarakat pinggiran Jakarta, dan bahkan laku dalam bentuk DVD di kancah mancanegara.

Sudah tentu sebagai masyarakat Indonesia gw merasa berbangga hati.

Tapi juga bingung di satu sisi, ini selera film apa2-an? Tapi juga yaah.. yang namanya selera tidak bisa dipaksakan.

Teringat dulu ketika menonton Star Trek: First Contact. Astaga naga.. jumlah penonton di dalam bioskop bisa dihitung dengan jari tangan! Padahal gw waktu itu nontonnya di awal2 penayangan. Dan padahal juga di film ini Kapten Picard dengan terkenalnya berkata: "The line must be drawn here!" Memang waktu itu gw juga nonton sendiri karena teman2 pada "pusing" pas diajak nonton Star Trek, katanya ceritanya memusingkan.

Ketika tinggal di Lampung dulu, alamak! Yang namanya bioskop 21 cuma muter film2 lokal. Begitu cinta tanah airnya sehingga setiap minggu gw terpaksa nonton film pocong dan kuntilanak.

Dan harus diakui terkadang interpretasi seorang terhadap film bisa berbeda dengan orang lainnya.

Ketika menonton film cinta religi terkenal berjudul "Ayat-ayat Cinta". Gw sempet terheran2 dengan bapak2 yang sraaat-sroooot...... duduk di sebelah gw, berkumis pula. Begitu gw tanya dengan teman gw yang wanita, malah gw dibilangin "Tidak mengerti arti cinta sejati."

Excuse me! Yang gw lihat adalah jelas2 pasangan yang memperalat seorang wanita sakit. Semacam: "Ya udahlah gw rela berbagi sama kamu sepiring berdua daripada masakan semuanya angus dan ga kemakan, toh lu (untungnya) mati juga". Cinta sejati dari Hongkong! Itu jelas2 cinta dengan intention.

Aneh memang, mungkin jalan pemikiran tidak sama dengan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Dan gw bertanya2 mengapa film2 yang notabene "agak" bermutu, dan sopan2 saja seperti "?" dan 2012 begitu gencar dikecam, bahkan majelis keagamaan ternama perlu turun tangan mengeluarkan "rekomendasi"-nya.

Film memang membawa cerita dan ide (dengan eksepsi film2 KKD). Dan alangkah baiknya masyarakat menjadi pintar bersama daripada sekelompok orang yang mengaku pintar mendikte orang lain yang "kurang" pintar.
Kalau begini ya jadinya bego semua....

Film2 Indonesia yang bagus sebenarnya membawa nilai2 yang melawan arus:
Arisan, AADC, Laskar Pelangi, Gie, dan bahkan Jelangkung.
Ada yang salah? Tidak.. justru hal2 inilah yang membuat film menjadi menarik.

Untuk saat ini mari kita berandai2.. artis porno mana lagi yang akan tayang di tanah air. Dan mungkin hanya satu kata untuk menggambarkan masyarakat Indonesia: "munafik".

Thursday, September 15, 2011

Tanda-tanda

Akhir jaman sudah dekat? Yup setidaknya bagi Pos Indonesia.

Masih ingat penerbitan perangko bersama Indonesia-Malaysia bulan Agustus lalu?
Kebetulan gw mengadakan perjanjian dengan rekan di Malaysia untuk saling bertukar perangko (penting sih kaga, ya tapi demi pertemanan lah...).

Jadi ketika ketemu bonyok di Malaysia gw minta tolong dibawain paket kiriman filateli terakhir.

Dan hasilnya? Ini perbandingannya:

Don't worry gw cukup profesional. Dua-duanya gw ambil dari miniature sheet, dan gw scan dengan setting yang sama.

Kesalahan FATAL! Ini apa2-an?!?! Kurang tinta apa? Demi harga diri bangsa mending jangan maen2 deh di joint issue seperti ini. Aduh malu aku malu...pada semut merah...

Awalnya gw pikir koq aneh karena gw nyaris ngga bisa baca nama latin ayam merah di perangko Indo (Gallus gallus). Harus dilihat dekaaaaaat sekali. Padahal melihat yang versi Malaysia koq rasanya gampang2 saja (soalnya gw akuisisi sheet Malaysia duluan).

Dan tampaknya gejala kurang tinta bukan cuma pada edisi ini saja. Datang bersama paket itu, sampul hari pertama lain untuk edisi sebelumnya: Gemarikan (Gemar Makan Ikan). Pas sebelum membeli saja sudah mendengus, setelah melihat...ooh ingin menangis.


WT*? Nominal 5000 bo... kertas kecil imut, gambar blur2 (mungkin harus pakai kacamata 3D).
Sebagai perbandingan perangko Your Singapore hari terbit kemarin, setting scanner yang sama:


Kaga kebayang ada negara dengan "colour scheme" segila Indonesia. Dan sebagai perbandingan nilai: 1st local di Singapur = 0.26 SGD = Rp. 1820 (dengan kurs 7000). Jadi ada cerita kemurahan?

Padahal filateli sekarang sudah semakin langka. Pos2 di seluruh dunia juga sudah menyadari bahwa harus menarik minat anak2 muda sekarang, atau punah sama sekali.
Mayoritas filatelis sekarang adalah orang2 tua, atau orang2 yang mengunjungi kembali hobi masa kecilnya (seperti gw).

Dan kalau perangko2-nya model murahan gitu? Aduh...

Entah kenapa dengan Pos Indonesia. Padahal dulu bagus loh.

Kemarin gw mengawasi ebay untuk satu item legendaris Pos Indonesia: WWF 1989 (Pongo pygmaeus).
Sold for $US103! Not to me...hiks... already above my budget at US100. Dan bahkan pemenangnya add bid di detik2 terakhir lagi... benar2 agresif.

Perangko is ok, but the souvenir sheets worth really2 alot. Dan untuk kasus ini ditambah lagi post mark dan registered mail.

Honestly speaking, perangkonya benar2 cantik dan elegan. Dan yang jelas tidak kurang tinta.

Monday, September 12, 2011

Imagine

Sejak jaman dahulu kala (sebelum gw lahir soalnya), seorang musisi legendaris menyanyikan lagu yang legendaris: Imagine.

Salah satu lagu bule pertama yang membuat gw semangat belajar bahasa Inggris.

Dan salah satu hal yang disebut untuk dicoret dalam lagu tsb adalah.. well lirik aslinya:
"....
And no religion too
....
"

Penjelasan? Well diambil dari sini:

John Lennon, singer. Famously sang "and no religion too" in his song, "Imagine". Lennon commented that the song was "an anti-religious, anti-nationalistic, anti-conventional, anti-capitalistic song, but because it's sugar-coated, it's accepted." However, John Lennon also later stated "I'm not anti-God, anti-Christ or anti-religion. I was not saying we are greater or better. I believe in God, but not as one thing, not as an old man in the sky. I'm sorry I said it, really."

Yang mana kemudian banyak diartikan orang2 bahwa yang dimaksud John Lennon adalah no ORGANIZED religion too. Bahwa dunia lebih baik tanpa organized religion.

Sayangnya dalam hal ini gw setuju. Gw tidak percaya bahwa ada satu orang yang lebih mengerti tentang Tuhan sehingga dia bisa memimpin orang lain, dan bahkan lebih jauh dari itu, mendikte pola pikir dan segala tingkah lakunya.

Mau orang tersebut berdoa 28 jam sehari, hafal semua ayat kitab suci, pergi ke tempat suci 366 hari setahun. Apakah ini berarti orang tersebut lebih mengerti Tuhan? Bagi gw satu kata jawaban: No.

Jadi apakah kita perlu pemuka2 agama? Apakah untuk mengalami Tuhan kita perlu ke gereja setiap minggu? Ini adalah pertanyaan yang harus dijawab.
Bahwa tindak tanduk kita didasarkan pada interpretasi Tuhan oleh pemuka2 agama, dan komunitas instead of pemahaman pribadi kita sendiri akan Tuhan.
Dan mereka dengan cerdiknya menakut2i orang, jika pemahaman-mu tidak seperti ini, maka murtad, dosa, dan lain sebagainya?
Dan kita menjadi tidak percaya diri akan pemahaman pribadi kita akan Tuhan?

Kalau ada seorang mengatakan Tuhan itu jahat. Maka rame2 orang mengatakan.. "Huss jangan bilang begitu... Tuhan itu baik".
Apakah orang rame2 itu mengalami hidup seperti yang dijalani orang yang mengatakan Tuhan itu jahat? Sedetikpun tidak.
Kenapa tidak boleh mengatakan Tuhan itu jahat? Apa salahnya? Kalau memang jahat mengapa harus dikatakan baik?

Sayangnya seribu sayang, pola pikir keagamaan sekarang membuat orang ngikut saja dan malas berpikir hal2 seperti ini.

Bisa ditebak baunya kemana... kekuasaan. Dengan begitu pemuka agama punya kekuasaan, gereja juga punya kekuasaan. People give them the power, and they want to maintain it. Money? Hahaha.. ujung2-nya ke sana juga.

Di bawah organized religion, agama kembali menjadi monopoli dan alat permainan kekuasaan. Bukan lagi saluran vertikal bagi seseorang untuk intim dengan Tuhan. In fact orang2 besar dalam agama, mereka keluar dari organized religion. Tidak percaya? Ada satu contoh nama besar: Jesus.

??? Silahkan lihat bagaimana Dia keluar dari mainstream Judaism pada masa itu.

The world is a better place without organized religion. And I am a dreamer too...

Sunday, September 11, 2011

Smurf

Smurf is on the big screen!

Tapi apakah ada yang tahu berapa umur Smurf?? Tebakan pintar gw adalah 53 tahun! Karena 2008 adalah 50 tahun Smurf.


Dari Belgia, negara yang cukup "fanatik" dengan perangko2 kartun. Sayangnya gw ga punya yang Tintin >.<. Kaga ada teman lagi buat dititipin, sementara beli di secondary market mahalnya minta ampun.

Indahnya Malaysia (?)

Ini weekend pertama setelah combo 2 weekend mondar mandir Singapur-Malaysia. Lumayanlah bisa nyante dan taroh perut sekejap.

Libur lebaran kemarin harus nemenin bokap dan nyokap ke Melaka-KL-Genting-Melaka dan berakhir dengan operasi prostat kedua di Melaka. So akhirnya gw tinggal mereka di Melaka, dan hari Sabtu kemarin mereka baru pulang ke Jakarta.

Cape? Combo weekend sebelum libur lebaran, gw baru pulang dari Penang-Ipoh-Penang. Duhai...

Dan si bokap, pertama kali ke Malaysia, berkata: bagus juga yah Malaysia. Dan nyokap gw langsung nyeletuk kalau gw pernah bilang kalau suatu saat bagus juga pensiun di Malaysia.

Sedikit gambaran... gw ga ada sedikitpun gambaran tentang KL, tapi gw survive naik bus dari Singapur ke KL dan kemudian ke KLIA. Sebagian besar trip dengan ortu pun kita naik transportasi umum instead taksi (hanya dua kali naik taksi dari KLIA-Melaka, dan KL-Genting). Gw pulang dari Melaka ke Sing pun naik bus saja.

Bayangkan kalau ada teman gw nyampe di Jakarta (Pulo Gadung misalnya) dan dia mau ke Bandara Soekarno-Hatta naik public transport. Astaga ampyun.... gw ga kebayang ngasih tau direction-nya. Paling harus naik bus way ke Gambir terus nyambung bus Damri yang syukur2 ada ke Bandara. Intinya... you don't want to mess with Jakarta public transportation system. It's only for the expert and strong hearted one!

Sama2 kota metropolitan, tapi yang satu tidak ada satupun kebijakan publik yang jalan (tebak yang mana).

Dan kemarin kita ngomong2 dengan teman dari Malaysia juga. Gw ngomong: you times Malaysia two and you got Indonesia. Dan dia ngomong: Times two? Where got?
Eh? Gw memang ga update populasi Malaysia, tapi gw update populasi Indonesia: 230 juta!
Dan begitu cek populasi Malaysia...eeek! Kali sembilan sampai sepuluh kali.

Olala....tidak heran kita eksportir pembantu ke negara orang. Istilah kerennya tenaga kerja instead of human trafficking. Padahal sih sebenernya bau2-nya ya begitu juga.

Di perbincangan yang lain, gw ngomong kalau sebenarnya gw masih pingin balik ke Indonesia, 'coz I love Indonesia.
Dan ada yang bertanya: Kalau seandainya gw punya keluarga, dan segala sesuatu bukan lagi tentang gw, dimana tempat yang gw mau untuk membesarkan anak2 dan keluarga gw?
Hyuks.... dengan berat hati dan sejujur2-nya gw menjawab... bukan Indonesia.

Malaysia saja punya General Certificate of Education (GCE) yang notabene dibawah pengawasan Inggris sono. Sementara Indonesia masih pontang panting dengan UN mau 4.5 keq, mau 5 keq, mau 5.5 keq. Rasanya udah mau kiamat... pake doa2 massal segala.
Plis deh...

Ok lah dulu Ebtanas gw juga mepet2 ga lulus.. kira2 6 koma tapi untuk PPKN dan B. Indonesia. Dua2nya ga penting binti ke laut. Don't care!
Dan menurut gw bahasa Indonesia lebih sulit dari bahasa Inggris.. gara2? Pengajarannya ga terstruktur. Satu guru bisa ngomong A, guru lain bisa ngomong B. Konferensi bahasa Indonesia yang dulu bikin "KBBI" sudah ga pernah kedengeran lagi. Yah lama2 ganti bahasa 4l4y dan gaoul.
PPKN apalagi yuuk...

Apakah serta merta Indonesia kalah? Huh.. no way!
Gw kemarin sempat berbangga hati karena orang Malaysia ga tau Tony Roma's! Gw kaget sekaget2-nya! Hah! Kaga tau Tony Roma's?!?!
Kayanya gara2 mereka serve pork deh... tapi masa sampe sebegitunya. Di Indo aja: di Jakarta ada satu, di Bandung ada satu.
Dan kata mereka yup sebegitunya. Dan mereka bercerita bagaimana Pocky di Malaysia harus berganti nama jadi Rocky semata2 karena Pocky berbunyi seperti "Porky".

Padahal gw bingung juga dengan Malaysia. Gw pernah liat ada keluarga berbuka puasa di TGIF. Plis deh... walaupun mereka ga serve pork, tapi kaga liat apa meja gw pada ada wine dan whiskey? I don't expect that same behaviour to happen in Indonesia.

Tapi ada tiga tempat lagi yang jadi inceran gw, dan belum ada kesempatan melihat: Vietnam, Thailand dan Australi (dua dari tiga ini udah produksi bokep profesional loooh). Dan maksut gw melihat adalah bukan semata2 jadi turis. Tapi terlibat dalam pekerjaan dan daily life.
Mungkin di sana lebih bagus?

Saturday, August 13, 2011

My Favourite Minister vs. Piracy

Hanya beberapa hari yang lalu, Pak Menteri terhormat favorit gw (yang menurut gw lebih sensasional ketimbang kapabel) masuk berita torrentfreak. Judulnya begini:

Government To Block Sharing Sites, But Music Biz Must Cut Prices.

Sudah bisa ditebaklah baunya kemana. Tapi perlu diambil catatan bahwa beberapa waktu sebelumnya torrenfreak juga pernah mengangkat berita bahwa Malaysia memerintahkan kepada ISP2-nya untuk memblok PirateBay, torrent indexer yang di satu pihak dianggap sebagai penjahat dan di pihak lain dianggap sebagai pahlawan. Tergantung mau dilihat dari sisi mana.

Personally gw berada di sisi yang menganggap mereka sebagai pahlawan, and I wish them all the best. Gosipnya USA sampai mengancam mengeluarkan Sweden dari WTO hanya untuk membawa mereka ke pengadilan. Dan ketika digrebek PirateBay sempat down, tapi dalam hitungan menit sudah up kembali dari tempat lain. Luar biasa!

Dahulu kita hidup dengan klausul: "Kalau tidak bisa punya janganlah mencuri". Sayangnya di era informasi klausul ini bergeser menjadi "Kalau tidak bisa punya, harus bisa punya dengan cara apapun".
Dan tidak, hal ini tidak bisa dirubah karena informasi menjadi sesuatu yang krusial, penting, dan globally available.

Adalah kita dulu hidup dengan masa informasi terkontrol dan sulit diduplikasi. Contoh saja dulu di Indonesia satu2-nya sumber berita adalah "Dunia Dalam Berita", "Laporan Khusus", dan koran "Kompas". Mengapa? Simpel.. karena kita tidak punya teknologi untuk membuat dan mendistribusikan informasi.
Sekarang? Sudah jauh berbeda. Teknologi untuk ini ada di mana2. Dan orang2 yang kehilangan kontrol mulai merasa tidak nyaman.

Ambil contoh ketika dulu beredar film "Fitna" yang dikatakan menghina agama Islam. Pemerintah Indonesia dengan sigapnya mengirim surat kepada Google untuk memblok video tsb di Youtube kepada koneksi internet dari Indonesia. Apakah ini cukup?
Maaf seribu maaf, karena saya kepingin nonton, maka dengan memakai proxy dengan sekejap gw sudah keluar di Jerman dan Youtube memutar video tersebut dengan senang hati.

Apa yang mau dikatakan di sini? Musik adalah media, media adalah informasi, dan kembali kepada klausul awal: kalau tidak tersedia, orang akan memperoleh dengan cara apapun. Dan disinilah landscape IT mengubah segalanya.

Ketidaktersediaan bisa diakibatkan berbagai aspek, ya harga salah satunya, tapi salah dua dan salah tiganya masih banyak: sensor, supplier yang enggan membawa masuk, ketidakcocokan format, dll.

Kalau sekarang gw disuruh beli DVD asli di Indo, lalu disuruh ngeliat layar biru dengan tanda tangan Titi Said (sekarang udah ganti sih.. tapi lupa siapa yang baru). Sori demori...GW GA SUDI! Gw bayar mahal2 untuk beli film yang orang2 itu seenak jidatnya motong sana sini? Gw termasuk salah satu orang yang mendukung badan sensor sebaiknya ke laut. Rating is ok, boleh kontrol ini film untuk dewasa, remaja, segala umur, dll. Boleh buat peraturan: pengusaha bioskop boleh didenda apabila memperbolehkan orang masuk ga sesuai kategori film, boleh juga periksa KTP. Tapi ga boleh motong2 sana sini!

Belum lagi ada beberapa film yang ga bisa "masuk" karena kepentok isu2 sensitif ya SARAS (SARA+Seksualitas) itu lah...Lantas apa yang harus dilakukan? Ga nonton?? Alamak...orang2 SARAS itu goblok..bisa2 kita jadi ikutan goblok.

Ketika muda dulu gw pergi ke DT Dago. Ngeliat album DEEN, langsung pulangnya ga bisa tidur. Mahal... tapi keburu sudah nge-fans secara mereka muncul sebagai soundtrack di Tales of Destiny. Sebelumnya sudah punya MP3-nya (bajakan) tapi secara sudah ngefans berat (duile...) sama DEEN ya tetap beli albumnya.
Apa moral ceritanya? Rasanya gw ditipu sama DT. Ngebandingin harga sama A, duh lumayan jauh bo.... Ya tapi hadiah hiburannya untung semua tracknya bagus.

Jadi di sini gw mengeluh harga. Apakah gw mengeluhkan harga lagu2 DEEN? Tidak.. gw meragukan efisiensi DT dalam mengelola harga ketimbang A. Dan karena seribu beribu sayang A waktu itu tidak menerima kartu kredit Indonesia, dan mungkin boro2 ship ke Indonesia.. ya sudah lupakan sajalah.

Kemudian muncul Daughtry dengan "Home". Secara gw nge-fans sama Daughtry sejak dari AI (gw ga nonton lagi sejak dia pulang)... ya gw beli albumnya. Alamak..yang bagus cuma "Home" itu doang... =(. Kan andai gw bisa nyoba denger trial albumnya dulu... or gw bisa beli single "Home" doang.

Kemudian muncul lagi DEEN dengan "Kono Mama Kimi Dake Wo Ubaisaritai" (gw waktu itu ga denger satu kali sehari langsung ga enak badan gitu deh), dan pada masa2 ini...sudahlah boro2 DT stock lagi. Kalau mau beli waktu itu best shot adalah ke W, tapi harus berhadapan dengan tumpukan DEEN yang penuh dengan tulisan2 Jepun, dan Mba2 yang ga ngerti.. Then how??

Andaikan gw bisa tahu sebelumnya apakah mereka punya barang ini apa ngga tanpa harus langsung menuju ke lokasi.

Jadi banyak aspek lain selain harga.

Sampai sekarang gw selalu meluangkan waktu untuk "Youtubing" untuk mendengarkan "Top of the World" by Carpenters (IMO Karen is a lady with prettiest smile). Gw punya albumnya...tapi ga praktis juga bawa2 dari Indo kemari. Mau ditaroh di mana di Singapur yang sempit ini. Kadang unbelievable... lagu dari jaman gw belum lahir... masih keren sampai sekarang.

Jadi Pak Menteri...how can you address my issues? Gw punya duid.. gw mau belanja, but i expect more fairness.. especially di dunia informasi seperti sekarang ini.
Failure to fulfill my demand, misalnya DVD masih terus2-an disensor, maafkan saja kalau saya berpaling ke sumber lain.
Anda pajak terlalu tinggi? Maaf saja bila saya berpaling ke sumber lain.
Anda tidak bisa menyediakan media tepat waktu? Maaf juga bila saya berpaling ke sumber lain.
Toh internet is an open world. Blok sana sini malah bikin tambah repot dan tidak menyelesaikan masalah. Anda sendiri yang mengatakan "mustahil" untuk memblok 100% situs pornografi.

Dan bagi gw ... NO ini bukan moral issue. Bahkan lebih mustahil ketika lu dipaksa untuk menuruti nilai2 yang memang tidak logis, tidak masuk akal, dan menuju ke pembodohan di era globalisasi seperti saat ini.

Adalah hasil pembajakan ketika gw pertama kali mendengar "Top of the World" nya Carpenters. Dan betapa kagetnya ortu gw ketika gw mengambil CD itu di toko musik. Bagaimana gw bisa tahu? Dua generasi mendengarkan lagu yang sama...

I would say... without piracy... so much thing will be lost. Masyarakat terpaksa tunduk kepada nilai2 yang disuapi secara paksa. Bagaimana bisa menilai sebuah film hanya dengan trailer sepanjang 15 detik? Bagaimana bisa memilih sebuah album hanya dengan 1 single? Gw beli komik harus invest dulu di No. 1 baru bisa menilai ini komik bagus apa kaga?
Nilai2 bisnis harus direvisi dengan nilai2 yang lebih adil terhadap konsumen.

Indonesia dengan pembajakan terbesar karena masalah harga? Please!
Gw hanya bisa melongo karena tiket Maroon 5 sold out hanya dalam waktu 2 jam. Sementara gw berharap bisa beli online. Tiketnya bukannya murah, 600 rb + bow. Padahal gw juga pingin liat Adam Levine dkk...:'(

Di sisi koin yang lain, bagaimana bisa berharap orang dengan gaji $6.25 (UMR kira2 segini lah... dan BANYAK orang di Indo hidup dengan UMR) sehari bisa afford CD dengan harga $30 sebiji (ref: CD Riyu Kosaka: Danzai No Hana)? Itu gaji seminggu. Masuk akal? Seminggu gaji habis untuk media?
Dan kalau orang tidak mampu.... kembali ke klausul awal.

Wednesday, August 10, 2011

Pos Indonesia, Antara Ada dan Tiada

Ngomong2 tanggal 8, di tanah air tercinta ada penerbitan joint issue Indonesia - Malaysia. Baru nyadar tadi jam 8 malam, dan langsung menengok ke sini (http://www.e-fila.com/jis-indonesia-malaysia-/322-fdc-jis-indonesia-malaysia.html), rasanya ini portal resmi untuk shopping2 di Pos Indonesia deh. Huff, masih tersisa 24 covers.

Gambar dipinjam dari sumber yang sama, secara pesanan masih harus menunggu dikirim ke rumah di Tangerang, terus harus diambil lagi...panjang ceritanya.

Sekarang jam 1:22 pagi udah ludes semua bo! Suer gw kaga beli sampai 24 biji! Gw memang beli ekstra 3 biji, rencananya untuk hadiah ke rekan2 kolektor sekantor di Malaysia.

Antara stok di e-fila yang sedikit, atau memang penerbitan perangko di Indonesia luar biasa sukses sehingga setiap kali penerbitan langsung ludes semua.

Tapi kalau begitu sukses kenapa Pos Indonesia mengeluh rugi?

Gw lebih curiga-tion ke opsi pertama. Karena kelihatannya sulit mengantisipasi pembelian di e-fila ini. Kadang cepat sold out-nya, kadang berbulan2 kaga sold-out juga.

Dan kalau boleh jujur, kalau ga bener2 terpaksa seperti saat ini, malas rasanya berbelanja di sana. Bukan apa... portalnya tak bersertifikasi (ga ada yang kaya gini: "Verified by Veri****"), transfer bank cuma lewat BNI yang notabene gw ga punya. Ya terpaksa credit card. Tapiiii..... kelihatannya informasi credit card gw disimpan karena gw harus "Awaiting Credit Card Validation".

So never ever pake credit card. Gw aja pake debit card untuk belanja di sini. Ya paling2 kalo dibobol habis jumlah tabungan jajan, tapi bukan tabungan primer. Harusnya transaksi langsung divalidasi, dan merchant tidak boleh menyimpan informasi kartu kredit! Seraaaam..... tapi ya... di Indo yang penting saling pengertian dan tepo seliro.. karena itu ga maju2..hiks.

Bagi gw pribadi, bukan tidak nasionalis, tapi sudah lewatlah mengumpulkan perangko Pos Indonesia. Paling beli2 hanya sebagai "syarat" saja, ya... yang penting ada sajalah.

Yang pertama adalah, gambar2-nya ... sorry to say.. plainly ugly. Gw kaga mengerti kenapa designer-nya kaga ganti2. Ngadain sayembara keq, hadiah kaga usah, toh designer cukup bangga kalau hasil karyanya jadi perangko nasional.

Gambar adalah no. 1 penting untuk urusan begini. Kolektor membeli perangko dengan harapan di kemudian hari nilai koleksinya bertambah alias kata pendeknya: investasi, bukan buat nyumbang. Ada tiga hal yang menentukan harga: antara langka, konsep, dan kemampuan dijual kembali di pasar sekunder.

Kalau lu liat gambarnya dan lu kaga ngerti ini perangko ngomong apa... sudahlah lewat saja. Dan sejujurnya gw banyak mengalami begini dengan perangko Indonesia. Gw dulu fans berat sama perangko flora dan fauna Indonesia, very good...(seri hari cinta puspa dan satwa, 90-an). Begitu keluar yang belakangan ini (Flora Fauna 2010)..OMG.. so ugly!
Sekarang udah generasi clean and sleek...tapi gambarnya serasa dilempar ke tahun 60-an.

Yang kedua adalah kredibilitas institusi Pos di Indonesia. Entah mirip atau tidak nasibnya seperti "the mighty who have fallen" : United States Postal Service, tapi Pos di Indonesia..yup merugi melulu.
Terus apa akibatnya? Jelas pengaruh otoritas Pos menjadi berkurang dan swasta merajalela. Analogi kembali: Tiki, JNE di Indonesia vs Fed Ex, UPS, dkk di US.

Kalau melihat di tanah air, taruhlah 5 tahun belakangan ini, adakah kita melihat ekspansi Pos Indonesia (buka cabang baru) ketimbang ekspansi Tiki dan JNE? Dan sejujurnya lagi.. di tanah air, kalau udah ada dua ini buka deket rumah gw, ngapain gw harus jauh2 ke kantor Pos?

Penyakit BUMN, keenakan menikmati monopoli, dan ketika dilempar ke persaingan bebas, menjadi ngos2-an mengejar dan akhirnya tertinggal. Contoh lain adalah Merpati (walaupun Garuda dulu sempat begini juga).

Ditambah lagi dengan gejala merosotnya jumlah surat pribadi. Karena itu Pos di seluruh dunia ramai2 merambah industri sekunder selain mengantar surat.

Padahal potensi duit dari sini lumayan sekali.
Ambil contoh SEA Games Indonesia yang kacau balau November 2011 nanti. Silahkan lihat kalender penerbitan perangko Indonesia, boro2 disebut. Oalaaah...padahal panitia SEA Games sampai mengemis2 duit dan mecatin karyawan (yang menurut kabar gajinya pun setingkat dengan makan daon).

Ok-lah kalo nerbitin gw juga curiga-tion jangan2 duit hasil keuntungan penjualan bukannya buat ngedanain SEA Games, tapi dipakai buat jalan2 ke laut di Kolombia sana...Ya tapi setidaknya usaha gethu looh...

Mungkin jauh perbandingan, tapi:
Ketika Singapur mengadakan Youth Olympic Games, semua juga dijualin. Singapore Post dengan perangko, dan Singapore Mint dengan koin dan kartu MRT.

London Olympic? 29 koin cabang olahraga 50p, 3 seri perangko, 14 seri covers with koin, 3 seri countdown koin (yang versi silverproof dan gold juga ada...), 2 seri "body" dan "soul" silverproof koin, entah apalagi... Sampe kempes dompet kalo ngikutin semuanya. Dan inipun olympic-nya masih taon depan.

Ketika banjir Australia, Australia Post juga nerbitin perangko dengan tujuan donasi (sumber).

Good governance adalah yang semua badan negara bisa bergerak sinkron dan dinamis. Kaga jalan sendiri2. Ya memang kalau menengok rumput tetangga memang selalu lebih hijau.

Tuesday, August 09, 2011

Areas of Historical Significance in Singapore


Seminggu setelah penerbitan perangko EDB, ada penerbitan perangko lagi? Yup... di hari kejepit (besok libur National Day) ini, terpaksa ga bisa cuti karena sibuk ketiban kerjaan orang...ya iseng2 beli perangko.

Di Singapur setiap national day selalu ada penerbitan perangko oleh Singapore Post, dan koin oleh Singapore Mint.
Koin-nya mayan mahal bo...silver proof gitu deh, dan secara bulan ini bokek... ya pembelian ditunda dulu deh.

Dan seperti biasa perangko Singapur kebanyakan bergaya sketch2 gitu... udah mulai bosen. Kali ini ceritanya mengajak untuk tidak melupakan sejarah, lengkapnya begini (dari leaflet):
"As our country continuosly evolved in developments - technologically, economically, as well as structurally in landscapes, let us not forget that admist all these efforts came a history behind it and the areas that settled the people behind the successes of our country."

Btw eniwei gw cuma nyalin, so "our country" di sini adalah "their country"...my country is still Indonesia, negara kepulauan yang selalu ke laut.

Yang menarik adalah ketika ngantri di kantor pos, ada satu kakek2 di depan beli setumpuk FDC. Di cap sendiri bo! Secara gw ngeliat semua cap-nya no. 49 (ingat2 bahwa no. 49 adalah branch number SingPost Center).
Bayar pake credit card! Gile ..maju banget kakek jaman sekarang...

Dan begitu sampe giliran kita2, ngobrol2 dikit sama mba yang jaga konter (udah mulai kenal..), dia bilang ada yang beli miniature sheet 200 biji! Ntar orangnya datang ngambil kayanya, jadi ready stock dia tinggal dikit.

200 biji! Ok, i have nothing against spending SGD400 on stamps, karena di bulan2 tertentu gw terkadang gw overshoot melebihi segitu. Tapi only on one item, miniature sheet lagi..! Ga kebayang deh...Mau dibuat jualan juga sepertinya hmm.. deh. Bisa gitu lu jual item kaya gitu sampe 200 biji.
Bukan apa, tapi miniature sheet dari national day 2009 aja masih available di vpost (toko online Singpost) dengan harga face-value: SGD2!

Gw awalnya juga senang dengan miniature sheet (basically apapun asal bukan perangko), tapi menyadari hal ini (otoritas pos bisa menjual dengan harga face value entah sampai kapan) gw shift ke FDC dengan miniature sheet secara cap hari pertama cukup terbatas sehingga nilai koleksi tetap ada.


Sebenarnya kembali lagi ke otoritas Pos. Umumnya pos di negara2 "mapan" punya waktu penarikan perangko, umumnya setahun atau entah kapan, tapi diumumkan (ex: Australia).

Singapur.. cukup aneh policy-nya (tetap menjual yang lama2). Tapi policy untuk FDC-nya ketat sekali, dan cukup beda karena berlaku ke belakang. Bisa dipesan di depan, tapi begitu lewat hari penerbitan, that's it...off market.

Australia misalnya, bisa dibeli mulai dari hari penerbitan hingga 30 hari ke depan. Begitu lewat 30 hari.. off market.

Great Britain juga begitu.. 30 hari kalo nda salah.

UN seperti contoh kemarin... 90 hari lalu off market.

Indonesia... huks jangan ditanya.... jual sampai stok habis (tapi umumnya habis stok..makanya aneh juga...bikin berapa sih..sampe bisa kehabisan).

Kembali lagi ke orang yang beli 200 miniature sheet. Pikir2 lagi mungkin juga dia beli untuk benar2 dipakai nge-pos! Misal dia punya banyak kiriman ke customer. Kalau begitu lumayan smart euy.

Ok lah jaman sekarang kirim2-an udah jarang. Tapi kalau lu memang terpaksa kirim2 barang, pakai perangko juga masih lumayan keren. Instead of only paying for the postage fee, you're also sending piece of your nation's culture away!

Mungkin....bagaimanapun gw cuma beli 3 biji miniature sheet.

Sunday, August 07, 2011

Is it 50 years already?

50th Anniversary of Human Space Flight by United Nations Postal Administration:


Baru diambil dari kantor pos Sabtu kemarin.

Tidak bisa berhenti terkagum2 bahwa dalam 50 tahun saja sudah begitu banyak perkembangan di luar angkasa. Dari mendarat di Bulan (yang mana ortu2 kita pasti masih ingat), hingga ISS saat ini. Thumbs up untuk orang2 ini, yang berani menginjakkan kaki di tempat yang tidak pernah tersentuh manusia sebelumnya.

Sekarang manusa sudah melihat jauh ke antariksa, berhipotesa ada air di Mars dan Enceladus, tahu bahwa ada super massive black hole di pusat galaksi....
Hanya dalam 50 tahun?! Masih wow!
Sekedar perbandingan, radio butuh sekitar 100 tahun sampai era handphone dimulai.

Gw pernah baca buku yang bilang kira2 begini: kalau mau ribut2 di Bumi, alangkah baiknya kita melihat ke angkasa dan menyadari betapa kecilnya Bumi ini.
Angkasa luar biasa luas. Star Trek Voyager yang terpental 70.000 tahun cahaya saja masih berada di Galaksi Milky Way. Dan di luar sana masih ada jutaan galaksi lainnya.

Soal perangko: ada perangko UN? Buat yang belum tahu (karena dulu saya pun kampung dan mengira palsu), UN adalah satu2-nya badan dunia yang bukan negara atau teritori yang boleh menerbitkan perangko.

Ada 3 kantor UN yang menerbitkan perangko: New York, Geneva, dan Vienna. Dan perangko UN hanya bisa digunakan untuk menge-pos surat di 3 kantor ini: UN Headquarter (New York), Palais des Nations (Geneva), dan Vienna International Center (Vienna).
Karena keterbatasan ini ga banyak orang yang menggunakan perangko UN untuk berpos2-an. Nilai sebenarnya lebih ke filateli dan mencari dana untuk UN.

Sebenarnya cara pengiriman dari amplopnya pun kelihatan kalau kurir posnya sebenarnya adalah USPS (United States Postal Service). Cuma biaya registered article-nya 0.00 saja.

Saturday, August 06, 2011

Me and My Big Mouth!

Singpost Center's branch number is 49!

FDC untuk 50 years EDB of Singapore, ditempel manual (makanya miring2, mata gw silinder boo..), dan di-cancel manual.

Karena hari itu cuti akibat inspeksi nyokap, maka sempet ke Chinatown Point branch, branch numbernya 14. Ini lagi2 ditempel dan di-cancel manual. Sempet berantem sama Mba2-nya karena gw minta cap di amplop, eh dia-nya bersikeras harus cap kena perangko.

Yawda, tapi malah keputus gitu deh...



Tapi tetep gw ada yang versi standar (cap cancel first day dengan No. 1, cap besi sendiri di mba2 loket lain...
Terus no. 1 itu branch mana? Punya hipotesis baru kalau No. 1 itu kantor pos pertama di Singapur, dan kalau begitu kemungkinan besar adalah Singapore Philatelic Museum.

Thursday, August 04, 2011

Teori Evolusi

Ini satu sebab mengapa orang beragama lebih baik ke laut. Dan yang dimaksud di sini adalah orang beragama nan norak karena ada juga orang beragama yang keren.

"Jadi lu percaya teori evolusi? Nenek moyang lu monyet dah... nenek moyang gw mah orang!"
Astaga naga gaban... orang ini dulu sekolah di mana yah? Pasti sekolahan-nya jelek, murahan, dan norak. Sori ya, ga kelas gaul sama yang begituan.

Perlu diakui di negara gw yang lagi2 perlu ke laut (karena negara kepulauan bo...), banyak orang yang mempertentangkan teori ini dengan agama. Bahkan ada yang terang2-an menolak belajar atau mengajarkan dengan dalih agama.

Padahal apakah cerita teori evolusi adalah tentang manusia dari monyet melulu? Itulah akibat mendengarkan kata pemuka2 agama yang mungkin malas belajar (makanya sekarang jadi pemuka agama instead of ilmuwan).

Satu kesalahan yang fatal adalah kata "percaya" teori evolusi. Nope, teori bukanlah tentang kepercayaan, tapi mengenai kesimpulan dari proses penarikan hipotesis dan eksperimen yang berulang2. Hasil eksperimen apa, ya hasil kesimpulannya apa, dan kemudian teori ya apa.

Jadi bisa salah? Tentu saja. Bisa revisi? Sudah pasti tentu. Dan lagi sebuah teori punya lingkup tertentu dan bisa saja tidak berlaku universal.

Bolehlah kita ambil contoh teori gerak Newton. Beragama atau tidak, 99% orang di permukaan Bumi percaya teori ini. Kalau tidak silahkan loncat dari puncak Burj Khalifa di Dubai, kita rame2 hitung kapan nubruk tanah.
Kenapa? Karena teori ini bisa memprediksi 99% gerak di permukaan Bumi. Bahkan orang bisa ke bulan hanya dengan kalkulasi Newton.

Tapi mengenai gerak yang mendekati kecepatan cahaya? Hmm wait a minute. It doesn't work! Perlu revisi! Maka datanglah relativitas Einstein.
Eksperimen2... ternyata oooh betul juga Einstein walaupun kedengarannya mustahil pada awalnya (mengenai dilatasi waktu).

Maka kemudian pemahaman kita mengenai dunia menjadi selangkah lebih luas. Oh ternyata begitu.
Beda cerita dengan kitab suci, yang kalau direvisi rame2 dirajam.

Kembali ke teori evolusi. Apa sih cerita dari teori ini? Oh ada mutasi, ada seleksi alam, dan ada evolusi.

Benar atau tidak tentu harus dibuktikan dan dalam hal ini dilakukan observasi.

Orang norak berkata: "Coba sekarang ada ga spesies baru, misalnya kucing berubah jadi apa gitu.."
Sudah tentu kucing sulit berubah, karena kucing merupakan organisme kompleks. Walaupun ada loh. Dan ditambah lagi mutasi pada organisme kompleks umumnya berakibat fatal.

Tapi coba yuk lihat ke organisme kecil yang lebih gampang berubah.

Virus HIV yang terkenal dengan laju mutasi yang tercepat yang pernah diketahui manusia (jutaan kali dibandingkan mutasi manusia). Dan pernah diketemukan simptom yang sama pada monyet (makanya dinamakan SIV). Dengan berpindah inang, ini merupakan mutasi yang cukup keren.

Dengue punya beberapa varian.

Antibiotik mulai kehilangan efektivitas untuk bakteri seperti bakteri TBC dan gonorrhea. Dokter sekarang terpaksa mengkombinasikan lebih dari satu jenis antibiotik untuk penyakit2 ini.

Malaria yang disebabkan organisme bersel satu juga mulai imun terhadap obat2-an.

Apakah Tuhan mendadak mengayunkan tongkat sihir dan mendadak semua ini terjadi? Lebih baik ke laut.

Ada mekanisme di belakang semua ini. Ada proses yang terjadi. Semua yang terjadi di atas, terjadi dalam beberapa puluh tahun terakhir ini, kalau mau diobservasi ribuan bahkan jutaan tahun? Yakin semuanya statik dari sejak saat "penciptaan"?

Thursday, July 28, 2011

What is good and what is bad?

Ketika nonton Discovery Channel, ada tayangan ketika singa sedang berburu. Ya jelas ceritanya hewan buruannya habis digigitin.
Lalu ada anak kecil nyeletuk, intinya adalah "Iih singanya koq jahat banget, rusa lucu koq dimakan". Dan seterusnya terus menerus menyalahkan sang singa, sampe2 gw pingin gaplok tuh anak kecil.

Sebagai manusia, kita cenderung punya standar moral. Dan apa yang berdeviasi dari standar ini, ok-lah bisa dibilang cenderung kita hujat. Walaupun sesungguhnya kita tidak mengerti apa, mengapa yang menjadi latar belakang hal tersebut.

Dulu gw pernah piara hamster. Ketika hamster melahirkan, biasalah pemilik pemula, ya pingin sayang2 bayi hamster. Dan juga pingin maen sama emaknya secara biasanya juga dimaenin.
Dan apa mau dikata, tidak tahu, ternyata anak2-nya pada dimakanin sama emaknya.
Langsung kaget, dan juga marah terhadap si emak. Sampe2 gw sentil, tapi tetep aja anak2-nya terus dimakanin sampe habis ga ada sisa.

Sedih, marah... binatang mana yang sekejam itu makan anak sendiri? Kata pepatah.. macan pun tidak begitu.

Belajar dari hal tsb, kehamilan kedua sengaja sang emak ditaroh di pojok. Tidak diganggu gugat, serbuk kaga diganti2, dan makanan pun hanya dilempar. Dan akhirnya anak2 yang lucu mulai dari masih merah2, hingga tumbuh bulu, hingga bisa lari2. Toh sukses juga.

Hamster yang kejam atau gw yang tidak mengerti proses pikir mereka.

Manusia cenderung punya ikatan terhadap sesuatu yang bersifat seperti manusia.

Kita senang dengan anjing yang kenal dengan tuannya, bisa dipanggil, bisa berkomunikasi, dilatih, dsb. Karena kita mengerti dan karena mereka bertingkah sebagaimana manusia.

Dan kita berharap mereka juga bertingkah seperti manusia. Makan pada tempatnya, poop pada tempatnya, pipis pada tempatnya.
Jadi kalau ada tingkah diluar norma2 yang biasa kita kenal, mulailah kita mencap sebagai nakal, liar, dsb.

Sama ga sih sama penilaian terhadap sesama manusia?

Kalau sama, apa sih batasan terhadap sesuatu yang baik dan buruk?

Misal.. kenapa anjing bisa poop sembarangan kenapa manusia tidak boleh poop sembarangan?
Toh kalau mau diteliti komposisi poop manusia dan anjing itu mirip2.

Karena manusia punya akal yang berbeda dari anjing? Permisi kalau boleh kata.. usus besar ya usus besar, poop ya poop. Bukan kata punya akal terus poop berubah jadi emas.
Katakan sejuta tahun yang lalu ketika jumlah manusia belum mencapai milyaran orang, paling cuma sekelompok dalam radius ratusan km. Boleh ngga poop sembarangan?
Justru kalau poop di tempat tertentu dengan densitas penduduk seperti itu malah menjadi berlebihan.
Poop sembarangan was the answer.

Lucu ketika kecil gw percaya bahwa good and bad seperti hitam dan putih. Menjelang uzur seperti saat ini, koq rasanya malah jadi abu2.

Saturday, July 16, 2011

First Day Cancellation, Again

Ah ketemu contohnya untuk UK.

Gw pernah beli ini di pasar loak




Awalnya mengira ini quite limited edition secara ada nomor serinya. Tapi lagi2 tidak teliti.. sampe rumah jder astaga Gusti Ra*da....! OMG koq capnya dua2-nya beda? Padahal nomor seri amplop sama dan tanggal juga sama.

Apakah ini palsu? Tapi masa sih barang UK palsu? Tau dari mana itu UK? Ya tau lah, setiap perangko UK selalu ada logo "ratu"-nya.

Jadi akhirnya gw beli another one from ebay. Dengan cap yang sesuai dengan yang terlihat di brosur Royal Mail. Cap-nya bentuk balon pikiran.

Gw ga tau kalau di UK cap bisa beda2, sampe end of taon lalu ketika Christmas 2010 (Christmas with Wallace and Gromit).

Dan kalau diliat2 sebenernya ada joke di cap yang pertama. Karena "Barking" maka capnya gambar anjing, dan satu lagi "Purley" dengan gambar kucing. Dua2-nya region di UK.

Kenapa takut palsu? Aduh ini trauma masa kecil.

Dulu pas kecil hemat2 uang jajan untuk beli perangko. Bosan dengan perangko Indonesia yang gambar Pak Harto dan Repelita melulu, akhirnya ke toko buku dan beli perangko2 yang dijajar tiga empat biji di karton putih dibungkus plastik itu.

Gambarnya bagus2, capnya pun jelas banget, tidak seperti cap2 pada amplop biasa. Ya dipikir kan keren dan bagus.
Ada dinosaurus, ada burung, dll...negaranya pun aneh bin ajaib: Nicaragua, Guinea Bissau, Pyongyang (yup tololnya waktu kecil mengira ada negara yang namanya Pyongyang).

Sampai EsEmPe ketika bergabung dengan klub Filateli di kantor Pos Tangerang barulah ketahuan. Oooh malunya, ternyata semua itu penuh kepalsuan!
Awalnya juga penuh denial, sampai ditunjukkan circular UPU (Universal Postal Union) barulah percaya.

Bisa baca circular bahasa Inggris? Weits jangan salah, ketika SMP my England was not that bad!

Yah mau dikata apa, mau loncat pun ga bisa mati (kantor posnya cuma 2 lantai), akhirnya dibuanglah itu album. Tak sudi melihatnya lagi.

Dan ketika mulai dari nyaris 0, trauma itupun masih ada. Tak sudi lagi mengkoleksi perangko satuan. Malas!
Maunya sampul hari pertama, carik kenangan (souvenir sheet), maximum card, dan kalau ada presentation pack.
Dan saat itulah gw membiasakan diri, kalau beli perangko beli yang full sheet!

Di rumah pun nyokap cuit2. "Ini koq koleksi perangko isinya amplop semua?!?!"

Ya apa mau dikata. Nyokap dan gw pun datangnya sama2 dari daerah.

Gw cerita ke temen gw di sini, dulu mana tau yang namanya sampul hari pertama, dll. Ga semua cabang kantor pos jual sampul hari pertama. Gw cuma tau dua yang bener2 jual di hari H: Kantor Pos Filateli Jakarta (di deket St. Ursula) atau satu lagi di Bandung deket gedung Sate.
Dan awalnya gw ga percaya kalau di Singapur, SEMUA kantor pos jual sampul hari pertama pas hari penerbitan.
Dan definisi "jual" di sini bukan cuma jual barang, tapi juga bisa melakukan cancellation di hari pertama (capnya tersedia di situ).

"Mungin karena negara lu besar?" temen gw nanya. Oh jelas! My country is big berjajar pulau2... Dalam hati: "mungkin gara2 itu ga maju2...*sigh".

Tapi sekarang point of view pun berubah. Tau ada hal ini minat gw pun berpindah. Gw tidak lagi mencari nomor "1" untuk FDC Singapur, bagi gw yang nomor bukan "1" justru lebih unik.
It's really2 an experience.

Number on First Day Cancellation, Singapore

At last I know the meaning! Why Singapore has number on their first day cancellation stamp. It is not the day from the first day of issue as I initially suspected. It is the branch number.

Wait, but I had bought from all different places across the island, why they all came with number "1"?
Because what I had bought was the covers supplied from Singpost Center which is being numbered as 1.

Yesterday I bought this cover at Clementi West post office. As usual the uncle already had some ready-to-sell first day covers, which I bought and again I asked the uncle to put the metal stamp on the cover.
The uncle remarked: "Why you want the metal stamp, it is ugly you know? I have the first day cancellation stamp as well."
My friend, first to realize, asked the uncle, could it possibly the number is the branch's number? And the answer was yes.

So all these ready to sell covers were initially prepared and stamped at Singpost Center. That is the reason why it all contains "1".

Later after work, we went to IMM post office to do the second experiment. We purhased a blank cover, and using the stamp we purchased in the morning, we did a "local" cancellation.

It can be seen that the stamp layout is quite different with the morning cover since I did pasted it myself. And the cancellation stamp came with number "25" (IMM branch number). The IMM metal stamp is not quite clear since it was the first time I stamped using the metal stamp.

And not to forget that I do have my own custom self-made "fun" cover. It is so personalised that I keep the Singapore post logo from the stamp (all the stamps came from same location in the stamp sheet).

It is only one in the world. Guaranteed!

So it means that the "Old Maps of Singapore" cover that I've purchased indeed a first day cover! And I purchased it at SGD3.5 compared to around SGD10 at ebay.

And the difference in the first day cancellation is quite similar with UK. However in UK it is completely different cancellation stamp design instead of using number.

Wednesday, July 13, 2011

Non-denominated stamp

Apa yah bahasa Indonesianya? Perangko tidak berdenominasi? Hyuk...direct translation.
Intinya bagi gw adalah perangko yang tidak punya cover/face value.
Di Indonesia tidak ada, so daripada kampung yuk belajar.... karena saya pun dulu kampungan soal ini.

Di post sebelumnya ada sampul hari pertama US. Yang perangkonya bernilai "Forever". Lha artinya apa? Forever love?

Pertama2 pikirnya juga begitu (tapi ah ga sekampung itu lah). Lebih tepatnya perangko ini bisa digunakan untuk 1st class local mail. Mau dipakenya sekarang, mau dipakenya seribu tahun kemudian, sama2 laku untuk 1st class local mail (up to 20g kalo nda salah).

Tujuannya apa? Ya untuk menanggulangi nilai inflasi dari perangko.
Bagi kita2 yang dulu rajin berkirim surat di Indonesia pastilah ingat, dulu surat kilat (dijamin nyampe tak tahu kapan) itu mulai dari Rp. 500, terus 700, terus 1000, terus 1500, terus tak tahu lagi.

Kebanyang dong, kalau dulu beli prangko Pak Harto 500. Dulu bisa dipakai berkirim surat sekali, sekarang harus tempel tiga misalnya.

Nah perangko non-denominasi ini tujuannya adalah begitu.

Apakah bisa dipakai untuk investasi? Misalnya beli sekarang terus dijual kemudian?
Menurut peraturan Pos US (di US loh ya, negara lain tak tahu), jawabannya tidak. Karena US government menjamin bahwa ongkos pos selalu dibawah tingkat inflasi. Jadi kalau perangko ini dijual dikemudian hari seharga 1st local mail saat itu, nilai uang yang diperoleh selalu lebih sedikit, bahkan rugi karena sudah tergerus inflasi.

Tentu ini nilai ekstrinsik yah, umumnya nilai intrinsik seperti kolektibilitas boleh jadi beda.

Untuk Inggris (Great Britain) sepertinya tetap dilabel 1st.

Singapura pun tak mau kalah. Awalnya dimulai dengan "For Local Addresses Only"


Ada 1st local (alamat gw di-hide yah.. ntar pada mampir ke rumah gw lagi)
Dan ada pula 2nd local (up to 40g local)

Harap diperhatikan di bagian bawah adalah high-valued stamp. Di Singapur selalu ada cerita begini. Entah di dunia nyata dipake buat ngirim apa (SGD10 booo). Bikin kantong bolong saja.

Sunday, July 10, 2011

Jam!

This lingonberry jam from Ikea tastes good! Jarang2 ke Ikea, tapi kalau ke Ikea janganlah lupa beli ini.

Pertama kali ke SGP untuk jangka waktu "permanen", dan membaca guide entah apa yang menyatakan salah satu hal yang harus dicoba di SGP adalah Swedish Meatball-nya Ikea.

Pergi Ikea sama sepupu gw, dan shock melihat harga meatball-nya (SGD 6-an untuk 10 bola, waktu itu otak masih sibuk konversi sana sini lha). Akhirnya ga makan.

Waktu berlalu setahun dua tahun... ke Ikea sih ke Ikea, tapi entah karena rame atau kelupaan sampai belakangan ini belum nyoba tuh Swedish Meatball.

Pas ketemu sepupu gw di suatu ketika, dia nunjukin Swedish Meatball yang bentuknya frozen pack, krimnya dan this lingonberry jam! Tapi karena jam-nya masih ketutup, ya ogah nyoba.
Awalnya gw sempet nanya, makan bakso pakai jam? Ternyata o yeah...

Dan kemarin satu hari weekday bersama rekan2 dari Malaysia pergi ke Ikea. Akhirnya memberanikan diri nyoba itu meatball.
Ok the meatball contains BEEF and PORK. So no..no..no.. buat yang peduli kehalal-an.
Dan sebenarnya itu pun melawan hati nurani gw (duileee).

Seriously pasca insiden video sapi Australia, I've cut eating beef a lot! Totally zero consumption dari sejak video itu sampai meatball ini, even for McD. Dan pork... hmm gw juga ga begitu sukses di bidang konsumsi hal ini.

Tapi nevertheless, ya gw nyoba juga lah, secara penasaran.
The meatball.. ok lah... tapi begitu gw nyoba selai ini (yang datang dengan bakso), ooow.... nice.
Langsung deh beli 1 botol buat di rumah.

Awalnya gw bukan orang selai. Tapi karena terpengaruh serial "Yakitate Japan!" yang menunjukkan betapa mengagumkannya dunia selai, akhirnya gw memutuskan untuk mencoba selai.

Dan gw jatuh cinta! Kalau dulu makan roti harus dengan margarin + gula + meises, sekarang gw cukup dengan selai.
Pertama gw suka dengan makanan yang berwarna warni.
Kedua gw suka dengan rasa segar buah yang meledak di mulut.

So kapanpun, roti wholemeal/multigrain + selai...slurp...

Wednesday, July 06, 2011

Kumpul Perangko

I fished this cover out from ebay recently. Kondisinya masih terbilang bagus buat cover tahun 92-an.

Awalnya sih berpikir oh cuma buat lucu2-an saja. Manalagi juga ga tau Guernsey itu di daerah mana di dunia ini.

Tapi begitu baca cerita di baliknya, ternyata beneran lucu:
Jadi mereka nemu kapal beneran dari jaman romawi yang karam. Operasi eksvakasi nya diberi kode "Asterix". Dan ada anak kecil yang nanya: apakah ini kapalnya Asterix. Dan jadilah perangko ini.
Dan sebenernya 4 gambar pertama perangkonya cukup menggambarkan. Cuma perangko terakhirnya yang cukup kocak (Asterix naik di atas perut Obelix).

Dan gw belajar untuk tau kalau ada tempat yang namanya Guernsey, dan ada cerita seperti ini.

Seperti alasan pertama kali gw mulai mengumpulkan perangko. Untuk tahu betapa besarnya dunia ini, dan dipenuhi dengan bermacam2 tumbuhan, binatang, orang, tempat, cerita, dll. It is just amazing.

Dan sebelum era canggih, masih sempet juga ikutan program sahabat pena (duh dulu namanya apa ya itu). Dan gw dapet 2 sahabat pena satu dari Portugal dan satu dari Spanyol (milih negara ini gara2 main Uncharted Waters). And it helped my English alot! Dan gw juga tau di Eropa bo...orang bisa pindah2 negara pas weekend dengan naek kereta (yoi waktu itu gw norak sekali)!

Apakah hobi ini masih relevan sekarang?

Entahlah, tapi kalau ada temen2 yang jalan2 entah ke Hongkong keq, ke States keq, ke Australia keq.. gw selalu minta di-oleh2-kan perangko. Gampang... ngga kaya makanan yang repot bawanya plus kadang ga cocok selera.

Dan semenjak gw di Singapur, sejujurnya gw mulai meninggalkan Pos Indonesia. Bukannya ngga nasionalis, tapi rasanya dari jaman baheula sampai sekarang teknologi printing dan desain perangkonya begitu2 saja.

Dan Pos Indonesia juga ga serius ngurusin Filateli. Entah apa yang serius diurusin. Pas pulang entah kapan gw sempat naik pitam gara2 ga boleh kirim Pos Tercatat (Registered Article) pake perangko: "Ga bisa Mas, sekarang pake barcode dan resi"! WTF!
Entah petugas posnya mau gampang sendiri atau Indonesia sudah begitu majunya bahkan melebihi Amrik yang RA-nya masih boleh pakai perangko.

Kan sebenernya sama saja. Tanya ongkos kirim, tempel perangko, dan Mas2-nya tinggal cancel tuh perangko, input data, dan gw dapet resi.
Heran2....

Tapi ya sudahlah... memang begitulah negara gw.. kadang terlalu maju sehingga ke laut.

Ada juga kekhawatiran mengenai investasi. Apakah perangko masih ada harganya di masa depan? Berhubung sekarang orang makin jarang berkirim surat?

Hmm menurut gw sih ada pergeseran nilai dari perangko.
Dan gw mengumpulkan perangko adalah bukan untuk investasi.
Perangko sekarang lebih ke benda cetak terbatas (limited edition) yang menceritakan identitas suatu bangsa. Dengan bonus bisa dipakai untuk berkirim surat.
Jadi nilai utamanya adalah pengetahuan? Bagi gw sih iya. Or at least a fragment of it.
Bagaimana gw bisa melihat bentuk Anggrek Hitam atau Cikukua Lantang jika bukan dari perangko Cinta Puspa dan Satwa Indonesia?
Dan yang terutama adalah untuk generasi muda selanjutnya. Hal yang kita alami sekarang akan menjadi sejarah untuk mereka.

Nilai uang ya kalau mau dikejar ya bolehlah. Umumnya kalau gw beli first-hand (langsung di kantor pos), gw selalu beli lebih dari satu set.

Gw pernah ketemu ada orang yang menjual Souvenir Sheet seharga 100+rb (nilai perangko 2500). Dan gw punya tuh Souvenir Sheet tiga biji.
Umur koleksi 10 tahun-an lah.

Entah berharga atau kaga... gw juga ngga bisa jawab. But to the right person, it is very valuable.

Sunday, July 03, 2011

Brad Paisley - Letter To Me

Another song that I like a lot!

Sama seperti lagunya.. pingin rasanya memberitahu diri yang dulu untuk tidak usah khawatir dan kecewa dengan diri sendiri.

Sigh... masa remaja benar2 masa yang berat.

There was a time I really really want to see goodlooking guy in the mirror. Tapi yang kelihatan adalah anak gendut, kacamata botol, tampang geek.
Beli baju harus XL, celana no. 36.
Pas prom pake jas udah seperti pinguin jalan.

Padahal gw pingin tampil menarik. And I blamed myself...alot...alot and alot

But perhaps I shouldn't worry too much.

Ketika koko gw married, gw pakai jas kembali, dan dengan begitu takutnya gw berdiri di depan kaca kembali. OMG I wasn't that bad looking!

I shouldn't worry because I have a lot of good friends! Well... gw juga punya musuh, but I doesn't care much.

Teman datang dan pergi. Dan gw juga membuat teman baru. Tapi teman lama adalah harta terpenting, dan untuk beberapa teman mereka adalah prioritas dalam daftar gw.

Sometimes you don't see your quality and capability. And sometimes other people do. And sometimes orang2 yang salah membuat lu meragukan diri lu sendiri.
Paman gw pernah nyeletuk: "Udah terlambat buat lu untuk latihan berenang lagi" ketika kuliah.
Dan nyokap gw pernah bilang: "Lu memang ga bakat olahraga"

Lucky I've never listened to them. And lucky I listened to people who said that I can do it. Sebodo bakat apa kaga, sebodo apa hasilnya, I only do what I want.

Dan gw ga pernah dan ga akan bisa jadi atlet. But at least gw sekarang bisa liat diri gw di kaca, dan gw melihat orang yang ga bego2 amat, lucu, but not that bad looking.
Dan gw bisa beli baju ukuran M, dan celana 31-32.
Kita sepedaan bareng dan Paman gw dorong sepeda. Dan ga pernah sekalipun gw turun dari sepeda, mau tanjakan kaya apapun juga.

If I could send a letter to me back at those years. It could save a lot of tears, all those years blaming on myself.

And perhaps myself in the future will send a letter back to me now.
To remind me to stop chasing endless dreams and try to settle down.

But i keep saying to myself now: belum saatnya gw berhenti bermimpi.
I will do what I want because this is my life.

Dan gw pingin menjadi orang yang selalu menyemangati orang lain, merayakan kesuksesan sekecil apapun itu, dan belajar dari kegagalan instead of menyesali.
I'm not that kind of person, but I'm trying to be.
And I'm surrounded by a lot of good friends that I can learn from.

Karena hidup cuma sekali, seperti kereta ekspres.
We got so much things ahead! Dan seperti lagunya.. It is not the best part yet!

Jadi Supporter

Hari ini gw belajar sesuatu yang baru: jadi supporter. All this time gw ikut2 event lari sendiri, berenang sendiri, sepeda sendiri, dan gw berhutang banyak luar biasa kepada para supporter.

Di satu sisi nyaman juga ga ada supporter, no peer pressure. Tapi di lain pihak ya rasanya sepi juga ya. Ga bisa foto2 pas finish =(.

Pas Sundown Marathon yang lalu, ada ibu2 sama anak2 remajanya bawa cooler box bagi2 minuman lemonade, dan pisang. Dan mereka jelas bukan panitia. Terharu rasanya.

So ketika temen gw bilang dia ikut Great Eastern Women 10K, gw bilang kalo gw bangun gw supporterin. Toh tempatnya deket ini sama rumah.

Ya so berangkat lah gw dari rumah. Ga ketemu sebelum start, jadi ya foto2 yang laen aja.

Sempet nyesel ga pake busana lari, ya toh sebenernya gw butuh latihan lari. Buat apa masih rahasia :).

Jarak tempuh 10K. Jadi bener2 ga bisa intercept di tengah jalan. Durasi lari paling 1 jam kurang lebih dikid bo.

Jadi ya nunggu deket finish line maju dikit. Tepatnya sesudah jembatan menuju Merlion. Dan sembari nunggu ya nepokin dan supporterin yang laen.
Was it worth it? Gw bilang yes. Asik juga. Ga sedikit yang membalas tepokan dengan senyum (makanya kalo lari itu senyum kiri kanan).

Lucu juga. Ada bapak bawa bayi dalam stroller sampai masuk ke jalan buat supporterin emaknya. Ada bapak ibu supporterin anak cewenya.

Overall I enjoyed the experience. Meeting and smiling to strangers.. hahaha....

Ngomong2 soal lari...gw masih ragu.. should I or should not register for Standard Chartered 42K? Di satu sisi gw pingin 42K again. Di lain pihak gw pingin juga lari bareng temen2 which means gw mesti drop ke 10K.

Next run is 21K....Hadoooh....